TIGA WIBU MENCARI CINTA

Arata Kaivan
Chapter #1

TIGA WIBU SATU JULUKAN

Kantin kampus pada siang hari selalu berisik dengan cara yang melelahkan. Suara denting sendok beradu dengan piring bercampur dengan suara puluhan mahasiswa yang membicarakan tugas, gosip dosen, atau rencana nongkrong selepas jam kuliah. Di salah satu sudut ruangan, meja panjang berkapasitas enam orang dikuasai tiga kepala yang menunduk menatap layar ponsel masing-masing.

Mario menyipitkan mata, mengagumi karakter perempuan berambut perak di layar ponselnya seperti seorang kurator seni yang sedang menatap lukisan da Vinci. Di sebelah kanannya, Julius mendengus pelan sambil mengetuk meja. Sementara itu, Seno yang duduk di seberang mereka hanya bisa menggeleng pelan.

"Kalau ngomongin cantik, lo berdua harus belajar dari anime," ucap Mario tanpa mengalihkan pandangan dari ponselnya.

Julius mendongak, alisnya terangkat sebelah. "Belajar apaan? Mata gede sama rambut warna-warni neon?"

"Itu namanya desain karakter. Ada konsepnya, Jul," balas Mario sengit. "Ada character development, ada latar belakang trauma masa lalu yang bikin mereka kelihatan rapuh tapi kuat secara emosional."

"Karakter game juga punya konsep," sanggah Julius tidak mau kalah, jempolnya bergerak cepat menunjukkan tangkapan layar game RPG terbarunya. "Bahkan detail tekstur baju, pantulan cahaya di pedang, sampai kompleksitas lore dunianya jauh lebih dalam daripada tontonan lo yang episodenya cuma dua belas doang."

Seno menghela napas panjang, menutup aplikasinya lalu menaruh ponsel ke atas meja. "Lo berdua sadar nggak sih kalau yang kalian debatin itu karakter yang bahkan nggak bisa diajak ngobrol kalau kuota kalian habis?"

Mario menoleh, merasa harga dirinya sebagai pencinta garis keras dunia 2D diinjak-injak. "Terus Freya bisa lo ajak ngobrol?" tembak Mario balik, menyebut nama oshi kesayangan Seno.

Seno terdiam sebentar. "Bisa. Lewat meet and greet."

"Bayar tiket dulu, bos," sambar Julius cepat.

Mario terkekeh geli.

"Seenggaknya ada kemungkinan," bela Seno, suaranya mulai meninggi.

"Kemungkinan lo ditolak satpam waktu nyoba nyelonong masuk jalur VIP?" balas Mario telak.

Julius langsung tertawa.

Seno menatap Mario tanpa ekspresi, lalu menusuk bakso di mangkuknya dengan garpu seolah-olah itu adalah kepala Mario. "Orang yang waifunya karakter gepeng nggak usah banyak ngoceh soal kemungkinan."

Mario mendengus, menunjuk layar ponselnya tepat di depan hidung Seno. "Justru gue paling paham soal cewek. Gue udah pelajarin psikologi karakter cewek dari ratusan anime!"

"Berarti pengalaman lo sama cewek cuma sebatas nonton mereka dari laptop sambil makan chiki," cibir Julius tanpa ampun.

Mario hendak membalas dengan teori percintaan lintas dimensi, namun urung ketika menyadari Julius sudah kembali acuh dan fokus ke game di ponselnya. Atmosfer di meja itu mendadak kental oleh keseriusan yang sia-sia. Mereka tidak sedang bercanda; ketiganya benar-benar menganggap selera dan argumen masing-masing adalah mahakarya pemikiran rasional.

Di meja sebelah, beberapa mahasiswa teknik mulai melirik ke arah mereka karena nada suara Mario sempat melengking tinggi ketika membahas pentingnya sudut pandang waifu dalam memahami kelembutan hati wanita.

Mario menarik napas dalam-dalam, ingin melanjutkan kuliah umumnya tentang anatomi emosional karakter anime.

Seorang mahasiswa seangkatan dengan jaket almamater yang digantung di bahu melewati meja mereka, menoleh, lalu menyeringai lebar.

Dua temannya berdiri tidak jauh di belakang, siap menimpali.

"Buset, kalian bertiga lagi rapat kabinet waifu?" sapa mahasiswa itu dengan nada menyindir yang sengaja dibikin terang-terangan.

Mario mengerutkan kening, langsung memasang mode pertahanan diri. "Lo kalau nggak ngerti topik omongan orang, nggak usah ikut campur."

"Emang gue harus ngerti apaan? Dari tadi gue lewat, lo pada masih aja ngomongin cewek yang sama," balas mahasiswa itu sambil menunjuk layar ponsel Mario yang menyala terang.

"Bukan cewek yang sama. Itu tiga karakter dari semesta yang berbeda," sahut Julius.

Mahasiswa itu memandang Julius beberapa detik, mencoba mencerna kalimat barunya. "Oh. My bad. Gue kira itu foto satu orang yang lagi ganti gaya rambut tiap lima menit."

Dua temannya di belakang langsung terkekeh geli.

Mario mengembuskan napas, berusaha mempertahankan wibawa akademisnya. "Ketidaktahuan memang sering melahirkan kesimpulan yang dangkal."

"Siap salah, Profesor," sahut mahasiswa itu dengan senyum menyebalkan. "Coba kasih tahu gue, kapan terakhir kali lo ngobrol sama cewek di dunia nyata selain dosen atau ibu kantin?"

Mario mendadak membeku. Mulutnya sedikit terbuka, tetapi tidak ada suara yang keluar. Otaknya yang biasa memproses ratusan plot anime tiba-tiba mengalami buffering total.

Julius melirik Mario dari sudut matanya. Seno melirik Julius.

Mahasiswa penyusup itu menangkap basah pertukaran pandangan yang penuh kepanikan terselubung tersebut. Senyumnya semakin melebar. "Nah, kan."

Seno mendengus, mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri kelompok mereka. "Emangnya kenapa kalau gue bertiga nggak punya pacar? Hidup tetap berjalan normal."

"Nggak kenapa-kenapa, sih," jawab mahasiswa itu santai. "Cuma lucu aja dilihatnya. Tiap jam istirahat bertiga mulu, ngomongin anime, game, sama idol. Sekali-kali keluar dari tempurung kalian, kek. Cari udara segar."

"Kami keluar," bela Julius kaku. "Ini buktinya kami lagi di kantin."

Lihat selengkapnya