Sore di gazebo kampus selalu menjadi zona netral bagi Mario, Seno, dan Julius. Tempat beratap kayu dengan tiang cat putih berdiri di antara gedung rektorat dan fakultas sastra, dikelilingi rimbunnya pohon ketapang yang sering menjatuhkan daun kering.
Mario datang paling akhir. Di tangannya terselip tabung gambar plastik berwarna hitam dan beberapa lembar kertas kalkir ukuran A1 yang digulung asal-asalan. Ia langsung duduk bangku panjang, mengembuskan napas panjang seolah baru saja melewati medan perang.
"Sen, lo pernah nggak sih ngerasa kuliah arsitektur tuh sengaja dibikin susah biar kita nggak punya waktu buat hidup?" Mario melempar gulungan kertas tugasnya ke atas meja kayu yang sudah penuh coretan bolpoin dari angkatan-angkatan sebelumnya.
Seno, yang duduk di seberang sambil memangku sebuah buku tebal pinjaman perpustakaan, mendongak perlahan. "Lo baru sadar sekarang?"
"Gue serius. Ini potongan denah belum kelar, masih harus revisi detailnya, ditambah asdos-nya rese minta ampun," racau Mario, memijat pelipisnya.
"Ya kerjain. Malah ngomel," sahut Julius tanpa menoleh. Jarinya terus bergerak di atas keyboard laptopnya.
"Kalau gampang, dari tadi juga udah selesai, Jul," balas Mario sewot.
Julius melirik sekilas tanpa menghentikan ketikannya. "Terus lo cerita ke kita buat apa?"
Mario menatap Julius sebentar. "Nyari dukungan moral."
"Salah tempat," sahut Seno datar, kembali fokus ke bukunya.
Mario mendengus, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kayu. Untuk beberapa saat, hanya terdengar suara ketikan laptop Julius dan angin sore yang mendesau pelan di antara daun-daun.
Suasana santai itu berlanjut sampai Seno tiba-tiba menutup bukunya. Ia merogoh saku celana, mengambil ponselnya, lalu melirik layar sebentar sebelum menghela napas.
"Kenapa muka lo kusut begitu?" tanya Mario, insting bergosipnya langsung aktif. "Ditelepon dosen?"
"Bukan. Ada anak minta tolong dijelasin materi," jawab Seno santai, kembali mengetik sesuatu di ponselnya.
Mata Mario langsung melebar. Sudut bibirnya terangkat. "Cewek?"
Kening Seno berkerut. "Kenapa emangnya?"
"Nggak kenapa-kenapa. Tanya doang," jawab Mario dengan nada yang sengaja dibuat-buat sok polos.
"Kalau cowok, lo nggak bakal nanya pakai muka begitu," balas Seno telak.
Mario bergeser sedikit, mencondongkan tubuhnya ke depan meja. "Ya, soalnya kalau cowok, gue nggak bisa bantu lo."
Seno mendengus geli, lalu meletakkan ponselnya di atas meja. "Bukan soal itu, Yo. Tapi lo sadar nggak sih... gara-gara kita tiap hari ke kampus selalu bertiga terus, kita udah dikatain wibu nolep, wibu homo, dicap nggak doyan cewek sejak hari pertama ospek sampai kita udah injak semester 4 sekarang?"
Senyum di wajah Mario meluntur, digantikan ekspresi sebal yang tertahan. "Nah, itu dia! Tiap kali kita lewat koridor teknik, orang-orang mandang kita kayak alien."
"Gue capek, anjir," tambah Seno, nadanya berubah sengit. "Lama-lama risih juga kalau kita dianggap impoten sosial cuma karena nggak pernah kelihatan nempel sama cewek."
Julius menutup layar laptopnya setengah. Sebagai orang yang paling rasional, ia sadar argumen mereka selama ini memang tidak pernah punya bukti nyata untuk membungkam mulut orang-orang iseng di kampus.
"Lo berdua kalau ngomongin urusan percintaan dan pendekatan begini, kenapa selalu sok tahu, ya?"
Mario langsung menegakkan duduknya, tidak terima. "Apaan? Siapa yang sok tahu? Gue tahu, lah!"
Julius menyilangkan tangan di dada, menatap Mario tajam. "Tahu dari mana? Emangnya teori anime lo itu pernah dipraktikkan langsung ke dunia nyata?"
Perdebatan kecil yang tadinya hanya bahan lelucon mendadak berbelok arah menjadi sidang pleno dadakan.
Mario mendengus, merasa posisinya diserang. "Ya, intinya kalau lo suka sama seseorang, lo harus tahu cara bikin dia nyaman. Nggak kaku kayak robot server kampus."
"Caranya?" tantang Julius cepat.
Mario terdiam sepersekian detik, otaknya berputar mencari rumusan yang pas. "Ya... tergantung orangnya lah!"
"Nah, berarti lo harus kenal dulu sama orangnya. Lo nggak bisa langsung main jurus tebar pesona modal tontonan kartun," balas Julius logis.
"Ya iyalah! Masa gue baru kenal dua hari langsung ngajak ke KUA?" balas Mario ngegas.
Seno tertawa kecil, menikmati pertengkaran kedua temannya dari seberang meja. "Bagus. Seenggaknya masih ada sisa-sisa akal sehat di kepala lo, Yo."
Mario melirik Seno tajam. "Lo sendiri gimana? Kalau lo lagi di posisi suka sama cewek, lo ngapain?"
Seno mengerjap tenang. "Gimana apanya?"
"Kalau lo naksir cewek, lo ngapain?" kejar Mario.
"Kenalan," jawab Seno singkat.
"Terus?" sambar Julius.
"Ya ngobrol."
"Terus?" Mario tidak mau menyerah.
"Kalau cocok, ya lanjut."
Mario menoleh ke arah Julius dengan wajah takjub yang dibuat-buat. "Lo dengar sendiri, kan? Jawaban dia muter-muter kayak rumus fisika dasar."
Seno mendengus ringan. "Seenggaknya cara gue nggak ngejelasin prosedur pacaran berdasarkan adegan lari pagi sambil bawa roti tawar di mulut."
"Emang kenapa kalau dari anime? Itu representasi visual kejujuran emosional!" bela Mario mati-matian.