Pada musim panas tahun 1981, gravitasi di kota kecil itu tampaknya bekerja dengan cara yang sedikit berbeda. Udara terasa lebih berat, seolah-olah atmosfer terdiri dari sup kental yang gagal dimasak, memaksa setiap orang untuk bernapas dengan usaha dua kali lipat. Panasnya tidak hanya menempel di permukaan kulit seperti sisa lem, tetapi merayap masuk ke dalam paru-paru, membawa serta aroma aspal yang meleleh dan bau amis yang tajam dari pelabuhan yang letaknya beberapa kilometer di ufuk barat. Di tengah kelembapan yang menyesakkan itu, Kousuke Sato, yang saat itu baru berusia sepuluh tahun, belajar memahami dunia melalui dua hal yang bersifat efemeril: kepulan asap rokok dan angka-angka yang tidak pernah cocok pada selembar kertas tipis.
Ayahnya, Takeo, adalah seorang pria yang dibangun dari material kekecewaan yang berisik dan jenis kerakusan yang tenang. Ia mengelola sebuah toko kelontong di sudut jalan yang lebih mirip museum untuk barang-barang yang tidak diinginkan siapa pun di seluruh prefektur. Rak-rak kayu yang mulai melengkung itu dipenuhi kaleng-kaleng sup dengan label yang sudah menguning dimakan waktu, dan deterjen bubuk yang telah mengeras seperti batu karang akibat kelembapan yang abadi. Namun, di balik etalase kaca yang memiliki retakan halus menyerupai jaring laba-laba, tersimpan benda-benda yang dianggap Takeo sebagai sakramen: deretan bungkus rokok Seven Stars dan tumpukan tiket lotere.
Bagi Kousuke, ayahnya menyerupai sebuah mesin pembakaran kuno yang tidak efisien. Takeo akan duduk di kursi kayu di belakang meja kasir, menyalakan sebatang rokok cengkih dengan korek api Zippo perak. Bunyi klik dari korek itu selalu terdengar seperti vonis hakim yang dijatuhkan di ruang sidang yang kosong. Ia akan menghirup asapnya dalam-dalam, menahannya sejenak di paru-paru seolah-olah asap itu adalah satu-satunya bentuk nutrisi yang masuk akal baginya, lalu menghembuskannya ke arah langit-langit yang kusam. Asap itu membentuk pola-pola ganjil yang menyerupai peta wilayah yang belum dipetakan atau barangkali wajah-wajah orang mati yang mencoba membisikkan sesuatu yang sangat mendesak namun tidak terdengar.
"Kousuke," panggil Takeo suatu sore. Suaranya serak, memiliki tekstur seperti gesekan amplas kasar di atas permukaan kayu jati yang kering.
Kousuke, yang sedang mencoba membedah buku pelajaran di sudut remang toko, mendongak. Di luar, suara tonggeret terdengar seperti jeritan listrik statis yang tidak putus-putus, seolah-olah dunia sedang mengalami korsleting massal.
"Ambilkan dompetmu," kata Takeo tanpa sedikit pun menoleh. Matanya terpaku pada koran sore, membandingkan angka-angka keberuntungan hari itu dengan tumpukan tiket di mejanya dengan ketelitian seorang ahli bedah.
Kousuke terdiam. Di dalam saku celana pendeknya, terdapat sebuah dompet kulit kecil berbentuk katak hijau—hadiah ulang tahun dari ibunya dua tahun lalu. Di dalamnya ada beberapa koin seratus yen yang ia kumpulkan dengan susah payah selama berbulan-bulan, sebuah monumen kecil untuk kedisiplinannya. Ia berencana membeli sepasang sepatu kets baru. Sepatu sekolahnya yang sekarang sudah sangat tipis di bagian tumit; jika ia menginjak kerikil terkecil sekalipun, ia bisa merasakan bentuk batu itu langsung menembus telapak kakinya, seperti pesan dalam kode Morse yang menyakitkan.
"Tapi Ayah, itu untuk sepatu..."
Takeo memutar tubuhnya perlahan di atas kursi kayu yang berderit. Tidak ada amarah yang meledak-ledak di matanya—setidaknya tidak saat itu. Hanya ada sebuah kekosongan yang sangat berat di sana, jenis kekosongan yang cukup dalam untuk menelan sebuah sumur tua beserta seluruh isinya.
"Keberuntungan tidak pernah mengetuk pintu mereka yang pelit, Nak. Jika angka kita cocok hari ini, kau bisa membeli seratus pasang sepatu kets. Kau ingin kita tetap tinggal di lubang tikus yang berbau deterjen basi ini selamanya?"
Kousuke mendekat dengan langkah yang terasa seberat timah. Ia meletakkan dompet kataknya di atas meja yang penuh noda kopi. Takeo membukanya, mengeluarkan koin-koin itu dengan ujung jari-jarinya yang kasar dan berbau tembakau, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya yang memiliki lubang kecil di dekat kerah. Bagi Takeo, uang Kousuke bukanlah uang seorang anak; itu hanyalah bahan bakar tambahan untuk mesin harapan yang terus-menerus mogok di tengah jalan.
Adegan itu disaksikan oleh Hana, ibu Kousuke, dari balik tirai tipis yang memisahkan toko dengan ruang tinggal mereka yang sempit. Hana adalah seorang wanita yang seolah-olah terbuat dari substansi asap yang sama dengan rokok suaminya—ia ada di sana, terlihat secara fisik, namun tampak seolah-olah bisa menghilang sepenuhnya jika seseorang membuka jendela terlalu lebar. Ia sedang memotong lobak di dapur dengan gerakan yang sangat mekanis. Tak, tak, tak. Irama pisau di atas papan kayu itu adalah satu-satunya bentuk perlawanan sunyi yang bisa ia berikan kepada semesta.