Dunia Hana Sato adalah sebuah interior yang kedap suara, sebuah ruang yang dibangun dari lapisan debu mikroskopis dan partikel asap rokok yang telah memadat menjadi semacam isolasi emosional. Di rumah keluarga Sato, suara-suara dari dunia luar—deru truk yang lewat di jalan raya, teriakan serak anak-anak yang bermain kasti, atau kepakan sayap burung gereja di dahan pohon persik—seolah tersaring melalui jaring-jaring kesedihan yang tak kasat mata, menyisakan sebuah keheningan yang bersifat taktil. Keheningan itu terasa seperti beludru tua yang lembap; lembut di permukaan, namun memiliki berat yang sanggup menyesakkan napas jika ditekan terlalu lama ke wajah seseorang.
Hana memiliki cara berjalan yang ganjil, seolah-olah ia sedang berusaha keras untuk tidak menyinggung perasaan lantai kayu tua di bawah kakinya. Ia bergerak dengan presisi yang sunyi di antara rak-rak toko dan dapur, menyerupai sebuah sekrup kecil dalam mesin raksasa yang sudah lama lupa diberi pelumas, namun tetap dipaksa berputar oleh ritme rutinitas yang kejam.
Pada suatu Selasa sore di bulan September 1982, Hana sedang membersihkan rak-rak botol kecap. Cahaya matahari musim gugur masuk melalui jendela kaca dengan sudut miring yang presisi, menyinari partikel-partikel debu yang menari di udara seperti rasi bintang yang kehilangan arah kompasnya. Di luar, langit berwarna biru pucat, jenis biru yang mengingatkan orang pada porselen Dinasti Ming yang sangat mahal namun sekaligus sangat mudah pecah hanya dengan satu sentuhan ceroboh.
Kousuke duduk di lantai semen yang dingin, tidak jauh dari ibunya, sedang mencoba memperbaiki mainan mobil-mobilan plastiknya yang rodanya lepas. Ia mengamati ibunya dengan ketajaman seorang anak yang terlalu cepat dewasa. Hana mengenakan apron abu-abu yang warnanya sudah pudar, menyerupai warna langit Tokyo saat musim hujan. Tangannya yang memegang kain lap tampak memiliki gemetar halus, seperti sayap ngengat yang sedang sekarat.
"Ibu," panggil Kousuke lirih. Suaranya memecah keheningan ruangan seperti batu kecil yang dilempar ke permukaan danau yang membeku.
Hana menoleh perlahan. Senyumnya muncul dengan ritme yang sangat lambat, sebuah lengkungan bibir yang sopan namun mengandung jenis keletihan yang tidak bisa dijelaskan oleh logika medis atau hukum fisika mana pun. "Ada apa, Kousuke-kun?"
"Kenapa Ibu selalu memegang dada seperti itu? Seperti sedang menyembunyikan sesuatu?"
Hana tertegun sejenak. Tangan kirinya, tanpa ia sadari sepenuhnya, memang sedang menekan bagian kiri dadanya—sebuah gestur refleksif, semacam ritual bawah sadar yang belakangan ini semakin sering ia lakukan. Ia segera menurunkan tangannya dan menyembunyikannya di balik lipatan apron abu-abunya.
"Hanya sedikit gatal, kurasa. Mungkin karena debu-debu dari botol tua ini yang masuk ke pori-pori," jawabnya. Suaranya datar dan tanpa tekstur, menyerupai air tawar yang dituangkan ke dalam gelas kaca polos.
Hana tahu ia sedang melakukan penipuan terhadap realitas. Di balik tulang rusuknya, ada sesuatu yang berjalan di luar skenario alam semesta yang normal. Ia membayangkan ada seekor serangga kecil yang gelap, dingin, dan sangat efisien sedang membangun sarang yang rumit di sana. Serangga itu tidak berisik, ia tidak mendengking, namun ia terus mengunyah secara metodis, sedikit demi sedikit menghabiskan cadangan energi Hana. Benjolan itu terasa seperti kelereng keras yang tertanam di bawah kulitnya. Awalnya ia hanya sekecil biji jeruk, namun perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih substansial, seperti rahasia besar yang tidak lagi muat jika hanya disimpan di dalam lemari pakaian.
Beberapa saat kemudian, pintu toko berdentang, sebuah bunyi logam yang tajam. Takeo masuk membawa serta bau aspal panas dan sisa bir murahan. Ia baru saja kembali dari kota sebelah, sebuah tempat di mana harapan-harapan palsu diproduksi secara massal dan dijual dalam bentuk kupon-kupon berwarna cerah yang menjanjikan surga.
Takeo tidak melihat ke arah Kousuke. Ia juga tidak menganggap keberadaan Hana sebagai sesuatu yang signifikan. Baginya, mereka berdua hanyalah bagian dari furnitur rumah yang kebetulan memiliki kemampuan untuk berpindah tempat. Ia langsung menuju meja kasir, gerakannya kasar seperti buldoser yang kehilangan kendali.
"Ke mana perginya uang hasil penjualan sabun dan deterjen pagi tadi?" tanya Takeo. Suaranya parau, mengoyak lapisan keheningan beludru yang telah dibangun Hana sepanjang pagi.
Hana mendekat dengan kepala yang sedikit tertunduk, menyerupai posisi seorang narapidana di hadapan algojo. "Uang itu kupakai untuk membeli beras dan beberapa potong ikan pindang untuk makan malam, Takeo-san. Persediaan di lemari kita benar-benar sudah mencapai titik nol."
Takeo mendengus, suara yang lebih mirip dengan geraman binatang buas yang lapar. Ia memukul meja kasir dengan telapak tangannya yang keras. Suaranya bergema seperti ledakan meriam di dalam ruangan sesempit itu. "Beras bisa menunggu! Aku punya firasat yang sangat kuat sore ini. Angka 4-8-2 muncul dalam mimpiku semalam dengan warna merah menyala. Itu angka yang pasti, Kousuke! Kalau aku tidak memasangnya sekarang, kita akan kehilangan satu-satunya kesempatan untuk keluar dari lubang kotor ini!"
Hana terdiam. Ia tidak membantah, ia tidak meluncurkan argumen. Baginya, membantah Takeo sama sia-sianya dengan mencoba membujuk hujan badai agar berhenti turun di tengah musim penghujan. Ia hanya berdiri di sana, menatap butiran debu yang kembali menari liar karena getaran hebat di meja kasir tadi.
Kousuke melihat ibunya berubah menjadi sangat pucat, seolah-olah seluruh sirkulasi darahnya mendadak berhenti. Hana kembali menekan dadanya, kali ini dengan tekanan yang lebih kuat. Wajahnya menunjukkan kilasan rasa sakit yang sangat tajam dan presisi, seolah-olah serangga di dalam tubuhnya baru saja menggigit bagian saraf yang paling sensitif. Namun, Hana Sato adalah ahli dalam hal menahan diri. Ia tidak mengerang. Ia hanya menarik napas panjang yang gemetar, menahannya di tenggorokan, lalu menghembuskannya dengan sangat pelan.
"Maafkan aku," bisik Hana. Kata itu terdengar seperti daun kering yang jatuh ke lantai beton.
"Maaf tidak akan pernah memenangkan lotere!" Takeo menyambar dompet kecil berisi uang receh yang tersisa di laci kasir dengan gerakan kasar, lalu berbalik pergi tanpa menutup pintu toko dengan benar, membiarkan angin dingin masuk begitu saja.