Kematian, bagi keluarga Sato, tidak datang seperti sebuah ledakan supernova yang megah. Ia datang seperti mekanisme jam dinding tua yang kehabisan daya pegas—detaknya melambat secara metodis, bergetar sejenak dalam upaya terakhir yang sia-sia, lalu berhenti dengan kepasrahan yang ganjil dan statis. Pada musim hujan tahun 1990, ketika langit di atas prefektur itu tampak seperti kanvas yang dicuci dengan air kotor dan aroma seng yang basah, Hana Sato akhirnya menyerah pada hukum gravitasi tempat tidur.
Di kamar yang berbau balsam, debu buku tua, dan sisa-sisa harapan yang membusuk, cahaya lampu neon di langit-langit terasa seperti benda padat yang menekan kelopak mata. Hana berbaring di sana, tampak sangat ringan, seolah-olah seluruh massa tubuhnya telah dikonversi menjadi memori. Kousuke merasa jika seseorang membuka jendela terlalu lebar, ibunya tidak akan mati, melainkan sekadar menguap menjadi kabut tipis yang akan hilang ditelan hutan pinus di belakang rumah.
Takeo tidak ada di sana. Ia sedang berada di stasiun kereta, sebuah tempat di mana orang-orang datang dan pergi tanpa benar-benar bertujuan. Mungkin ia sedang menatap papan pengumuman lotere dengan mata merah, atau sekadar menyesap kopi kaleng dingin dari mesin penjual otomatis yang berdengung. Takeo telah mengembangkan kemampuan evolusioner yang luar biasa untuk tidak berada di titik koordinat mana pun yang membutuhkannya. Ia memperlakukan penyakit istrinya seperti sebuah acara televisi larut malam yang membosankan; ia tahu itu sedang berlangsung di suatu tempat, tapi ia memilih untuk memindahkan saluran ke frekuensi yang lebih tenang.
Kousuke, yang kini telah remaja dengan bahu yang kaku dan mata yang terlalu dalam untuk usianya, duduk di kursi kayu di samping ranjang. Ia sedang mengupas sebutir apel dengan pisau lipat kecil yang tajam. Kulit apel itu jatuh melingkar ke lantai, merah dan sempurna, menyerupai spiral DNA atau mungkin jalur kehidupan yang baru saja diputus secara paksa oleh gunting takdir.
"Kousuke," bisik Hana. Suaranya terdengar seperti gesekan kertas amplas di atas kain sutra yang sudah rapuh.
Kousuke berhenti mengupas. Pisau itu menggantung di udara. "Ya, Ibu."
"Kau tahu..." Hana menjeda kalimatnya untuk menarik napas yang terasa sangat mahal harganya, seolah-olah setiap molekul oksigen di ruangan itu harus dibayar dengan emas. "Dunia ini sebenarnya dibangun dari banyak sekali lubang. Ada lubang di kaus kakimu, lubang di atap seng rumah kita, dan lubang-lubang besar di dalam hati manusia. Ayahmu... dia hanya mencoba mengisi lubangnya dengan potongan kertas lotere. Itu adalah cara yang buruk untuk menambal kekosongan, tapi itu satu-satunya bahasa yang dia pahami."
Kousuke tidak menjawab. Ia memberikan irisan apel itu, namun Hana menggeleng lemah. Indra perasanya sudah lama bermigrasi ke tempat lain, digantikan oleh rasa pahit logam permanen yang menempel di lidahnya seperti karat.
"Jangan pernah membiarkan dirimu menjadi lubang, Kousuke. Menjadilah sesuatu yang padat. Sesuatu yang tidak bisa ditembus oleh asap," lanjut Hana. Matanya yang cekung menatap langit-langit, mengikuti garis retakan semen yang menyerupai peta sungai yang sudah lama kering di planet yang jauh.
Malam itu, sekitar pukul 02:14 pagi—sebuah waktu di mana dunia terasa sangat asing, dingin, dan tidak berpenghuni—napas Hana Sato berhenti. Tidak ada drama musikal. Tidak ada kata-kata terakhir yang puitis atau instruksi wasiat yang rumit. Hanya ada sebuah hening yang tiba-tiba menjadi sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu mendadak berubah menjadi merkuri cair.
Kousuke tetap duduk di kursinya. Ia tidak menangis; air mata tampak seperti fungsi biologis yang sudah tidak relevan lagi baginya. Ia hanya meletakkan pisau lipatnya dan menatap tangan ibunya yang kini memiliki warna dan tekstur yang sama dengan lilin yang sudah padam. Ia merasa seolah-olah sebuah kabel transmisi utama di dalam dirinya baru saja diputus oleh tang raksasa, meninggalkan sirkuit jiwanya dalam kondisi kosong, gelap, dan sangat sunyi.
Pemakaman dilakukan dua hari kemudian di bawah langit yang warnanya menyerupai abu rokok Seven Stars. Takeo berdiri di depan altar kayu, mengenakan setelan hitam murahan yang sudah kesempitan di bagian perut, membuatnya tampak seperti sosis yang dipaksa masuk ke dalam plastik. Ia menangis dengan volume yang tidak wajar. Ia meraung. Ia memukul dadanya sendiri dengan kepalan tangan, seolah-olah sedang mencoba menyalakan kembali sebuah mesin jantung yang sudah berkarat total.
Bagi para tetangga dan pelayat yang datang, Takeo tampak seperti sosok suami yang hancur berkeping-keping karena kehilangan cinta sejatinya. Namun Kousuke, yang berdiri tiga langkah di belakang ayahnya, melihat sesuatu yang sepenuhnya berbeda. Ia melihat seorang aktor kelas dua yang sedang melakukan pertunjukan tunggal untuk audiens yang sebenarnya tidak peduli. Tangisan Takeo bukan untuk Hana; tangisan itu adalah sebuah bentuk onani emosional, rasa kasihan yang narsistik pada dirinya sendiri. Takeo menangis karena sekarang tidak ada lagi orang yang akan menampung ampas emosinya secara diam-diam. Tidak ada lagi martir yang akan menyediakan sup miso hangat saat ia pulang dengan tangan hampa setelah kalah judi.
Setelah upacara kremasi selesai, mereka membawa pulang sebuah guci keramik berisi abu Hana yang masih terasa hangat. Di dalam taksi yang membawa mereka kembali ke toko kelontong yang suram, Takeo mengeluarkan sebungkus rokok. Ia menyalakannya dengan tangan yang gemetar hebat, sebuah getaran yang entah asli atau disengaja.