Upacara pemakaman Hana Sato berlangsung di bawah langit yang menyerupai sepotong logam abu-abu yang dicuci secara kasar dengan larutan asam. Tidak ada matahari yang berani menampakkan diri, namun suhu udara tetap terasa lembap dan menekan, jenis cuaca yang membuat serat-serat pakaian terasa sedikit lebih berat daripada seharusnya, seolah-olah atmosfer sedang mencoba menambatkan setiap orang ke bumi dengan paksa. Kousuke berdiri di antara kerumunan kerabat yang wajahnya terlihat seperti cetakan lilin yang mulai meleleh akibat panasnya duka yang dipaksakan. Semuanya serba hitam, namun bagi Kousuke, warna itu tidak melambangkan duka yang puitis; itu adalah simbol ketiadaan—sebuah lubang hitam besar di tengah-tengah realitas yang biasa ia tinggali, yang kini menghisap seluruh cahaya di sekitarnya.
Bau dupa menyerbu indra penciumannya dengan agresif. Itu adalah bau yang ganjil, sesuatu yang berayun secara melankolis di antara aroma kayu yang terbakar dan manisnya bunga lili yang mulai membusuk di udara yang statis. Di depan altar, foto Hana menatap mereka dengan senyum yang dipaksakan oleh lensa kamera bertahun-tahun lalu—senyum yang tampak seperti topeng porselen yang retak halus. Di matanya, Kousuke bisa melihat sebuah rahasia yang tidak pernah sempat diucapkan: bahwa hidup, pada akhirnya, hanyalah serangkaian upaya untuk tetap diam dan tidak bergerak saat badai besar sedang menerjang dari segala arah.
Takeo, ayahnya, berdiri di baris terdepan seperti seorang aktor utama yang sedang menunggu lampu sorot. Pria itu menangis. Namun, tangisannya tidak memiliki irama manusiawi; itu terdengar seperti radio kuno yang rusak dan terus-menerus mengeluarkan statis yang menyakitkan telinga. Ia meraung, memanggil nama istrinya seolah-olah Hana hanyalah sedang bersembunyi di balik tirai panggung dan bisa keluar kapan saja jika Takeo berteriak dengan frekuensi yang cukup keras. Bagi Kousuke, suara itu tidak mengandung kesedihan, melainkan kegaduhan yang egois.
Kousuke menatap punggung ayahnya yang bergetar. Ia memikirkan tentang hukum fisika yang kaku. Jika amarah adalah sebuah bentuk energi kinetik, maka amarah yang ia rasakan saat ini seharusnya bisa mendidihkan seluruh air di dalam guci teh di sudut ruangan. Namun, Kousuke tetap dingin, seputih tulang. Ia merasa seolah-olah ia telah menjadi sepotong es yang terlepas dari gletser purba, mengapung di lautan gelap tanpa radar atau arah yang jelas. Ia ada di sana, namun secara fundamental, ia telah berada di tempat lain yang sangat jauh.
"Kousuke," bisik bibinya, seorang wanita dengan napas yang berbau tajam permen mentol dan penyesalan. "Giliranmu menyalakan dupa. Jangan buat arwah ibumu menunggu."
Kousuke maju satu langkah. Langkah kakinya di atas lantai kayu kuil yang dipoles terdengar seperti detak jantung yang melambat secara sistematis. Saat ia mencapai meja altar yang dipenuhi bunga-bunga pucat, ia merasakan sebuah tangan mendarat di bahunya. Itu tangan Takeo. Tangan itu terasa panas, sedikit berminyak karena keringat, dan gemetar hebat akibat luapan emosi yang tidak terukur.
"Gunakan ini, Nak," kata Takeo dengan suara serak yang menyerupai gesekan batu kerikil. Ia menyodorkan sebuah pemantik Zippo perak yang permukaannya sudah tergores. Kousuke mengenali benda itu dengan sangat baik. Itu adalah alat yang sama yang digunakan Takeo setiap hari untuk membakar rokok Seven Stars miliknya, membakar lembaran uang yang seharusnya menjadi sepatu baru Kousuke, dan membakar sisa-sisa ketenangan jiwa Hana. Pemantik itu adalah sumbu dari kehancuran mereka.
Kousuke tidak menyentuh pemantik itu. Ia hanya menatapnya seolah-olah benda logam itu adalah seekor serangga beracun yang baru saja jatuh dari langit-langit kuil.
"Aku bisa menyalakannya sendiri tanpa itu," kata Kousuke. Suaranya datar, tanpa tekstur emosional, seperti permukaan meja kaca yang baru saja dibersihkan dengan cairan pembersih yang keras.
"Ini pemantik keberuntunganku," Takeo bersikeras, suaranya naik satu oktaf, cukup tajam untuk menarik perhatian beberapa kerabat di belakang mereka yang mulai berbisik. Air mata mengalir di pipinya yang kasar, jatuh ke lantai kuil yang suci seperti tumpahan minyak. "Ibumu selalu menyukai apinya. Ayo, Kousuke. Jangan menjadi anak yang keras kepala tepat di depan peti matinya."
Kousuke menoleh perlahan, lehernya terasa seperti engsel yang tidak pernah diberi minyak. Ia menatap langsung ke dalam pupil mata ayahnya. Di sana, ia tidak menemukan penyesalan yang murni. Ia hanya melihat kepanikan seorang pria yang tiba-tiba menyadari bahwa pilar kehidupannya telah runtuh menjadi puing, namun ia masih mencoba berpura-pura bahwa ia adalah orang yang memegang kendali atas narasi ini. Tangisan Takeo terdengar seperti sebuah upaya putus asa untuk mencuci tangannya dari noda darah tak kasat mata yang sudah meresap hingga ke tulang. Bagi Kousuke, setiap tetes air mata ayahnya adalah sebuah penghinaan terhadap kesunyian suci yang dijaga Hana selama bertahun-tahun.
"Keberuntunganmu tidak pernah menyelamatkannya, Ayah," bisik Kousuke. Suaranya begitu rendah dan tajam hingga hanya Takeo yang bisa mendengarnya di tengah gumaman doa pendeta yang monoton. "Pegang saja pemantikmu itu dengan erat. Biarkan api itu tetap menjadi milikmu sendiri."