Tokyo, pada musim semi tahun 1996, adalah sebuah labirin tanpa pusat yang dirancang oleh arsitek yang menderita insomnia kronis. Kereta-kereta komuter meluncur di atas rel dengan efisiensi yang kejam, mengangkut jutaan jiwa yang masing-masing membawa rahasia kecil—seperti baterai mati atau kunci pintu yang tidak lagi memiliki gembok—di dalam tas kerja mereka. Di tengah lautan manusia di Stasiun Shinjuku, Kousuke Sato berdiri diam. Ia merasa seperti sebutir pasir yang mencoba bernegosiasi dengan arus pasang; sebuah keberadaan yang secara statistik tidak signifikan, namun secara fisik terasa sangat melelahkan.
Ia tiba dari kota kecilnya dengan membawa satu koper tua yang ritsletingnya macet di sudut tertentu—seperti memori yang menolak untuk terbuka sepenuhnya—dan sebuah hampa yang sangat besar di dalam dadanya, jenis hampa yang bisa kau temukan di dasar sumur yang sudah kering selama seratus tahun. Di kantong jaketnya, ia meremas tiket kereta satu arah. Baginya, itu bukan sekadar kertas termal; itu adalah surat pemutusan hubungan dengan hukum gravitasi masa lalu yang selama ini menyeretnya ke bawah.
Kousuke menemukan sebuah unit apartemen di pinggiran distrik Nakano. Bangunan itu bernama "Seashell Mansions," meskipun tidak ada jejak kalsium atau aroma laut di sana, dan tentu saja, itu jauh dari definisi mansion mana pun di dunia ini. Itu hanyalah kotak beton tiga lantai yang fungsional dengan koridor yang berbau pembersih lantai murah dan sisa-sisa aroma kari dari penghuni sebelah yang entah siapa. Kamarnya berukuran enam tikar tatami, memiliki satu jendela kecil yang menghadap ke dinding bata bangunan tetangga yang bisu, dan sebuah wastafel porselen tua yang selalu meneteskan air setiap empat detik sekali. Tik. Tik. Tik. Tik. Bunyi itu adalah satu-satunya jam yang jujur di ruangan itu.
Di Tokyo, Kousuke belajar bahwa kesepian memiliki tekstur yang berbeda-beda, tergantung dari mana kau memandangnya. Di desa, kesepian itu berisik—penuh dengan kepulan asap rokok Takeo yang menyesakkan dan tumpukan tiket lotere yang berserakan seperti bangkai serangga. Namun di Tokyo, kesepian itu sepenuhnya kedap suara. Ia bekerja di sebuah gudang distribusi buku di dekat pelabuhan, sebuah tempat di mana kata-kata tersusun rapi di dalam kotak-kotak kardus namun tidak pernah diucapkan. Tugasnya sederhana: memindahkan massa dari titik A ke titik B. Ia tidak perlu bicara pada siapa pun. Ia menjadi ahli dalam seni menghilang sambil tetap berdiri secara fisik di sana.
"Kau terlalu pendiam, Sato-kun," kata supervisor gudangnya suatu sore, sambil menggaruk lehernya yang berkeringat. Pria itu memiliki jari-jari yang kuning karena nikotin, sebuah detail yang membuat perut Kousuke mual karena mengingatkannya pada Takeo. "Orang-orang mulai mengira kau adalah bagian dari rak buku ini. Mungkin suatu hari nanti kau akan berubah menjadi kertas."
Kousuke hanya mengangguk kecil, gerakan yang sangat minimalis. Ia tidak merasa perlu menjelaskan bahwa kata-kata baginya telah menjadi barang mewah yang tidak mampu ia beli lagi sejak ia meletakkan dupa di altar ibunya. Baginya, bicara adalah proses membuang energi yang sia-sia.
Setiap malam, setelah pulang kerja dengan bahu yang terasa seperti terbuat dari timah, Kousuke akan mampir ke toko swalayan konbini. Ia membeli satu kaleng bir Sapporo, satu kotak bento yang dilabeli diskon setengah harga, dan sebungkus rokok—bukan karena ia menikmati proses pembakaran tembakau, tapi karena aroma asap adalah satu-satunya jembatan sisa menuju fragmen kenangan tentang rumah, betapa pun pahitnya itu. Ia akan duduk di meja plastik kecil dekat jendelanya, menatap dinding bata bangunan tetangga yang gelap, dan mendengarkan wastafel yang meneteskan repetisi waktu.
Pada bulan-bulan itu, depresi merayap masuk ke dalam hidupnya seperti kabut musim dingin yang masuk melalui celah pintu yang tidak rapat. Itu bukan jenis depresi yang meledak-ledak atau dramatis. Itu adalah depresi yang sangat sopan, jenis yang mengetuk pintu terlebih dahulu dan bertanya dengan santun apakah ia boleh duduk di pojok ruangan selamanya. Kousuke membiarkannya masuk. Ia merasa seolah-olah berat badannya bertambah beberapa kilogram setiap hari, bukan karena asupan kalori, melainkan karena beban atmosfer Tokyo yang menekan pundaknya dengan kekuatan yang tidak terlihat.
Ia mulai bermimpi tentang sumur. Dalam mimpinya, ia berada di dasar sumur yang sangat dalam, sebuah lubang yang tidak memiliki ujung. Di atas sana, jauh sekali, ia bisa melihat lingkaran langit yang cerah, namun ia tidak memiliki tangga untuk mencapainya. Di dasar sumur itu, ia menemukan tumpukan tiket lotere milik ayahnya, semuanya berwarna putih polos, tanpa angka, tanpa harapan. Dan ibunya, Hana, berdiri di sudut sumur yang gelap, terus-menerus memotong lobak putih dengan gerakan yang tidak menghasilkan suara sedikit pun.
"Kousuke-kun," panggil Hana dalam mimpi itu, suaranya seperti bisikan angin di antara celah bebatuan. "Jangan lupa mengganti baterai jam dinding. Waktu akan berhenti jika kau lupa."