Di Tokyo, terdapat jenis kegelapan yang tidak memiliki kaitan apa pun dengan ketiadaan cahaya matahari. Kegelapan itu lebih mirip dengan sejenis zat cair kental yang merembes secara osmosis melalui celah ventilasi, menyelimuti furnitur dengan lapisan tipis keputusasaan, dan akhirnya mengendap di dasar paru-paru seperti jelaga. Kousuke Sato, yang menghuni unit tersebut selama satu tahun terakhir, menyebutnya sebagai "Kegelapan Statis"—sebuah kondisi di mana waktu tidak lagi mengalir, melainkan hanya bergetar di tempat.
Apartemennya terletak di pinggiran distrik Nakano, sebuah bangunan beton abu-abu yang tampak seperti tumpukan kotak sepatu yang ditinggalkan oleh pemiliknya yang tergesa-gesa. Kamarnya bernomor 204. Luasnya tidak lebih dari enam tikar tatami, sebuah kotak geometri yang kejam. Di sana, Kousuke hidup dalam simetri yang sangat disiplin, seolah-olah ketidakteraturan adalah musuh bebuyutan yang bisa menghancurkan eksistensinya. Sebuah meja lipat kayu, sebuah pemutar kaset mini yang catnya mulai mengelupas, satu rak berisi buku-buku yang ia baca hingga sampulnya rapuh, dan sebuah wastafel keramik kecil yang mengeluarkan bunyi tik-tik secara ritmis.
Bunyi tetesan air itu menyerupai detak jantung jam dinding tua yang sedang menghitung mundur sesuatu yang tak terhindarkan dalam kesunyian yang mutlak.
"Masalah utama dengan waktu," gumam Kousuke pada dirinya sendiri suatu malam di pertengahan Desember 1996, "adalah ia terus berjalan secara mekanis meski kau sendiri sudah memutuskan untuk berhenti."
Musim dingin di Tokyo adalah sebuah mesin yang bekerja dengan efisiensi yang mengerikan. Udara kering yang dingin menyerap setiap tetes kelembapan dari pori-pori kulit, membuat setiap tarikan napas terasa seperti mengisap serbuk gergaji yang baru keluar dari lemari pendingin. Kousuke duduk di tepi futon-nya, mengenakan sweter wol biru tua yang mulai berlubang di bagian siku—sebuah metafora fisik dari hidupnya yang mulai bocor. Ia sedang mendengarkan rekaman kaset drama radio; suara naratornya datar dan monoton, menyerupai frekuensi emosionalnya sendiri yang sudah rata dengan tanah.
Ia sudah tidak menunjukkan batang hidungnya di gudang distribusi buku selama dua minggu penuh. Tidak ada yang menelepon untuk bertanya. Tidak ada petugas apartemen yang datang mengetuk pintu. Di Tokyo, kau bisa menghilang dengan sangat mudah, semudah menghapus satu baris teks pada sebuah dokumen digital. Orang-orang akan terus berjalan melewati pintumu seolah-olah ruangan itu hanyalah sebuah ruang hampa yang berisi oksigen dan nitrogen tanpa pemilik.
Kousuke mengambil dompet kulitnya yang sudah menipis. Di dalamnya hanya tersisa satu lembar uang seribu yen dan beberapa koin receh yang dingin. Itu adalah representasi numerik dari seluruh eksistensinya yang tersisa. Uang itu tidak akan pernah cukup untuk membayar sewa bulan depan, apalagi untuk membeli sepotong masa depan yang layak. Namun, ia tidak merasakan panik yang meledak-ledak. Panik adalah kemewahan bagi mereka yang masih memiliki sesuatu untuk dipertaruhkan di atas meja taruhan. Kousuke merasa dirinya sudah lama kalah dalam permainan judi yang dimulai oleh ayahnya sejak hari ia dilahirkan.
Ia berjalan ke arah jendela kaca yang berembun. Di luar, lampu-lampu megapolitan Tokyo berkedip-kedip seperti kode Morse dari peradaban asing yang tidak bisa ia pecahkan. Ia melihat kereta jalur Chuo melintas di kejauhan, sebuah garis cahaya panjang yang membelah kegelapan malam seperti pisau bedah yang membedah tubuh kota.
"Ayah pasti sedang membakar rokoknya sekarang," pikirnya secara otomatis.