Kematian, pada awalnya, terasa seperti mendengarkan rekaman piringan hitam yang sudah sangat tua, berdebu, dan penuh goresan dalam sebuah ruangan tanpa jendela, lalu tiba-tiba seseorang mengangkat jarumnya secara kasar. Sunyi yang tercipta bukan sekadar ketiadaan suara; itu adalah sebuah vakum yang sempurna, jenis kesunyian yang kau temukan di dasar sumur yang sangat dalam di tengah hutan yang tidak tercantum dalam peta. Namun, bagi Kousuke Sato, sunyi itu tidak berlangsung lama. Ia tidak ditarik oleh cahaya putih di ujung terowongan, juga tidak dilempar ke dalam tungku api. Ia justru terjepit di antara lipatan realitas yang ganjil.
Pada pukul 03:42 pagi, di tengah kepekatan musim dingin Tokyo yang kering dan tidak bersahabat, hukum gravitasi di apartemen nomor 204 seolah-olah mengalami disorientasi atau mungkin sedang menderita mabuk darat. Kousuke membuka matanya. Pandangannya langsung menangkap noda air di langit-langit yang selama ini ia benci. Namun kali ini, noda itu bukan lagi sekadar kerusakan struktural. Ia bisa melihat partikel-partikel jamur mikroskopis yang hidup di dalamnya dengan kejernihan optik yang mengerikan; mereka bergerak-gerak, bereproduksi, dan mati dalam ritme yang menyerupai tarian galaksi yang sangat lambat namun pasti.
Ia bangun dari futon-nya. Tidak ada rasa sakit yang tersisa, tidak ada rasa pening yang biasanya menjadi residu dari dosis obat tidur yang ia telan beberapa jam lalu. Tubuhnya terasa sangat ringan, seringan bayangan yang dipantulkan oleh lampu jalan yang pucat ke atas aspal yang membeku. Ia merasa seolah-olah massa tubuhnya telah dikonversi menjadi sejenis gas mulia yang stabil.
Kousuke mencoba menarik napas, sebuah refleks biologis yang sudah tertanam selama puluhan tahun. Namun, paru-parunya menolak untuk mengembang. Tidak ada kontraksi diafragma. Ia tidak merasa sesak napas seperti orang yang tenggelam; ia hanya merasa... berhenti. Seperti jam mekanis yang pegasnya sudah dicabut namun jarumnya masih menunjuk ke angka yang sama. Ia meletakkan telapak tangannya di sisi kiri dada, tepat di tempat di mana jantung seharusnya melakukan tugas monotonnya memompa darah. Di sana tidak ada detak. Tidak ada getaran ritmis yang menandakan kehidupan. Jantungnya kini hanyalah sepotong otot yang diam, dingin, dan kaku, menyerupai mesin mobil yang ditinggalkan begitu saja di tengah padang salju Siberia.
"Aku sudah mati," bisik Kousuke.
Anehnya, suaranya terdengar sangat jernih, memiliki tekstur yang menyerupai denting kristal di dalam gua yang sunyi. Suara itu tidak keluar melalui pita suara atau hembusan udara, melainkan seolah-olah bergema langsung dari molekul-molekul udara di dinding ruangan. Ia berjalan menuju wastafel porselennya. Setiap langkahnya tidak menimbulkan bunyi gesekan sedikit pun, namun ia bisa merasakan setiap serat kasar dari tikar tatami di bawah kakinya dengan ketajaman sensorik yang tidak wajar.
Ia menyalakan keran air. Cairan bening itu keluar dengan suara gemericik yang biasa, namun sebelum sempat menyentuh dasar wastafel yang berkerak, tetesan-tetesan air itu mendadak berhenti di udara. Beratus-ratus butiran air tergantung secara statis, memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip redup seperti gugusan kristal yang melayang melawan hukum fisika. Kousuke menyentuh salah satu butiran air itu dengan ujung telunjuknya. Air itu tidak pecah atau membasahi kulitnya; air itu seketika mengkristal menjadi sebutir es kecil yang berpendar biru safir, lalu menguap menjadi asap yang memiliki aroma harum bunga persik yang sudah lama layu.
Kousuke menatap cermin wastafel. Wajah yang ia lihat adalah wajahnya, namun ada sesuatu yang secara fundamental telah bergeser posisinya, seperti teka-teki gambar yang dipasang sedikit miring. Matanya kini memiliki kedalaman yang mengerikan, menyerupai dua sumur hitam yang jika seseorang menatapnya terlalu lama, mereka akan merasa jatuh ke dalam kehampaan yang tak berdasar. Kulitnya pucat, namun tidak terlihat seperti mayat yang membusuk. Ia terlihat seperti patung porselen yang baru saja diberikan nyawa oleh seorang dewa yang sedang bosan.
Di saku celana kainnya, ia merasakan sebuah sensasi panas yang kontras dengan suhu tubuhnya. Ia merogohnya dan menemukan pemantik Zippo perak milik Takeo—benda yang ia curi dari desa sebagai simbol kebencian yang ia pelihara. Pemantik itu kini menyala sendiri, memuntahkan api berwarna biru safir yang stabil. Api itu tidak membakar kain celananya, namun ia bisa merasakan amarahnya terhadap Takeo mengalir deras ke dalam api tersebut, memberinya energi kinetik yang meluap-luap.
Ia menyadari bahwa dirinya tidak lagi terikat oleh hukum termodinamika atau biologi konvensional. Ia adalah sebuah anomali dalam sistem operasi alam semesta. Amarahnya terhadap pengabaian Takeo dan rasa bersalahnya yang pekat terhadap kematian Hana telah menciptakan semacam "jangkar metafisika" yang menolak membiarkan jiwanya pergi ke wilayah yang seharusnya. Ia adalah sebuah kesalahan dalam catatan takdir.