Waktu pasca-kebangkitan berjalan dengan logika yang sepenuhnya berbeda bagi Kousuke Sato. Jika waktu manusia pada umumnya menyerupai arus sungai yang mengalir searah dengan determinasi yang kaku menuju muara, waktu Kousuke terasa seperti kolam air di dalam gua bawah tanah yang tenang dan dalam; sebuah tempat di mana permukaan dan dasarnya berada di koordinat yang sama. Ia tidak lagi membutuhkan tidur, yang berarti ia memiliki tambahan delapan jam setiap hari untuk mengamati bagaimana dunia ini sebenarnya hanyalah susunan angka-angka yang sangat rapuh, seperti istana pasir yang menunggu pasang.
Tokyo pada tahun 1997 adalah sebuah mesin raksasa yang sedang mengalami kerusakan internal pada bagian transmisi. Gelembung ekonomi baru saja pecah dengan suara yang tidak lebih keras dari letupan gelembung sabun, namun efeknya meninggalkan jutaan orang dengan setelan jas mahal yang mendadak terasa kebesaran dan dompet yang isinya hanya berupa memo penagihan. Di sebuah kantor sewa berukuran kecil di distrik Kabukicho—sebuah wilayah di mana bau sampah basah dan parfum murahan bersatu dalam harmoni yang ganjil dan dekaden—Kousuke memulai operasinya.
Ia duduk di depan monitor komputer yang berkedip-kedip, menatap grafik saham yang bergerak naik-turun seperti detak jantung seorang penderita aritmia yang parah. Bedanya, Kousuke tidak perlu menebak kemana arah grafik itu akan meluncur.
"Kau tahu," kata Kousuke kepada seekor tikus yang sesekali muncul dari balik pipa air di pojok ruangan dengan mata yang berkilat cerdas, "dunia ini tidak dibangun berdasarkan fondasi kerja keras atau pilar keadilan. Dunia ini dibangun berdasarkan probabilitas murni. Dan probabilitas, jika kau tahu cara melihatnya, hanyalah sejenis tirai yang sangat tipis dan mudah disingkap."
Kousuke mulai menyentuh tuts kibornya dengan gerakan yang presisi dan minimalis. Ia tidak menggunakan algoritma rumit yang dikembangkan oleh para jenius matematika di Wall Street. Ia hanya menggunakan "tarikan" kecil pada benang nasib yang kini bisa ia lihat menjuntai di atmosfer. Ketika ia menekan tombol Enter untuk membeli saham perusahaan konstruksi yang sedang berada di ambang kebangkrutan, ia memejamkan mata dan membayangkan benang merah yang menghubungkan perusahaan itu dengan masa depan. Ia menarik benang itu sedikit saja ke arah kiri, mengubah kemungkinan satu banding sejuta menjadi sebuah kepastian.
Keesokan harinya, perusahaan itu memenangkan kontrak pemerintah yang tak terduga dalam sebuah pertemuan tertutup. Nilai sahamnya melesat seperti roket yang baru saja menemukan bahan bakar atom di tengah kehampaan. Kousuke menjualnya tepat di titik tertinggi, lalu beralih ke spekulasi mata uang dengan ketenangan seorang operator mesin faks.
Uang mulai mengalir masuk ke dalam rekening banknya seperti air bah yang menembus bendungan yang retak. Jutaan yen, lalu puluhan juta, lalu ratusan juta. Namun bagi Kousuke, tumpukan uang itu tidak memiliki aroma. Ia teringat bagaimana dulu Takeo akan mencium lembaran uang seribu yen hasil menang lotere dengan penuh gairah, seolah-olah kertas itu adalah aroma tubuh seorang wanita yang paling diinginkannya. Bagi Kousuke, uang hanyalah debu digital—angka-angka yang berpendar di layar tabung katoda. Ia tidak bisa memakainya untuk membeli rasa hangat dari sup miso ibunya, dan ia tidak bisa memakainya untuk membuat jantungnya yang beku berdetak kembali.
Suatu sore di musim gugur, Kousuke berjalan-jalan di sepanjang sungai Kanda. Ia mengenakan setelan jas abu-abu yang dijahit dengan sangat rapi oleh penjahit terbaik di Ginza, namun ia tetap terlihat seperti seseorang yang sedang mengenakan kostum teater yang tidak nyaman. Kulitnya tetap pucat, dan meski suhu udara mulai turun menuju titik beku, ia tidak mengeluarkan uap dari mulutnya saat bernapas—karena memang ia tidak lagi bernapas. Ia hanya melakukan simulasi gerakan dada agar tidak menarik perhatian terlalu banyak.
Ia berhenti di sebuah mesin penjual otomatis dan membeli sekaleng kopi panas. Ia menggenggam kaleng itu, bukan untuk meminum isinya, melainkan untuk merasakan sensasi panas pada kulit porselennya. Kaleng itu terasa panas di telapak tangannya, namun panas itu tidak meresap ke dalam tubuhnya. Ia tetap menjadi entitas yang bersuhu konstan: sebuah dingin yang absolut dan tidak bisa ditawar.
"Permisi, Tuan," suara seorang pria paruh baya memecah lamunannya, terdengar seperti suara kertas yang diremas.
Kousuke menoleh. Pria itu terlihat seperti rongsokan manusia. Matanya merah karena kurang tidur dan terlalu banyak alkohol, dan ia membawa sebuah tas plastik berisi kaleng-kaleng bir kosong yang beradu satu sama lain. Bau alkohol murahan dan keputusasaan yang tajam menguar dari pori-porinya.
"Boleh aku minta koin? Hanya untuk satu taruhan lagi di tempat pachinko," kata pria itu dengan suara yang gemetar. "Aku merasa hari ini adalah hari keberuntunganku. Aku benar-benar merasakannya di dalam tulang-tulangku."