Tokyo di fajar milenium baru menyerupai sebuah jam mekanis raksasa yang roda geriginya berputar tanpa pelumas, mengeluarkan bunyi gesekan logam yang hanya bisa didengar oleh mereka yang sudah tidak lagi memiliki detak jantung. Udara di distrik Minato terasa berat dan padat, seolah-olah atmosfer di sana mengandung partikel timah yang tidak terlihat, menekan pundak siapa pun yang mencoba berjalan tegak. Di lantai paling atas sebuah gedung pencakar langit yang fasad kacanya memantulkan langit kelabu—warna yang mengingatkan pada air bilasan semen—Kousuke Sato duduk di balik meja kerja yang terbuat dari kayu jati hitam yang dipoles hingga menyerupai obsidian.
Ia tidak sedang bekerja dalam pengertian konvensional. Sebenarnya, bagi Kousuke, konsep "bekerja" sudah lama menguap seperti embun di atas tutup panci panas. Ia hanya duduk diam, membiarkan pikirannya melayang-layang seperti asap rokok yang terjebak dalam ruang kedap udara, tidak memiliki arah namun memenuhi setiap sudut. Di hadapannya, seorang pria paruh baya bernama Tanaka—CEO dari sebuah perusahaan logistik yang sedang sekarat seperti ikan yang terdampar di aspal panas—duduk dengan keringat dingin yang membasahi kerah kemejanya.
Tanaka merasa seolah-olah oksigen di ruangan itu perlahan-lahan disedot keluar oleh pompa vakum yang tak terlihat. Ia tidak tahu mengapa, tetapi berada di dekat Kousuke Sato rasanya seperti berdiri di tepi sumur yang sangat dalam di tengah malam buta; kau tahu ada sesuatu di bawah sana, sesuatu yang sangat besar dan diam, namun kau tidak ingin menyalakan senter untuk melihatnya. Ada aura yang memancar dari Kousuke—sesuatu yang dingin, purba, dan sama sekali tidak memiliki ritme biologis.
"Masalah utamamu bukan terletak pada angka-angka di neraca itu, Tanaka-san," kata Kousuke. Suaranya datar, tanpa intonasi emosional, menyerupai bunyi angin yang melewati celah pintu yang sangat sempit di sebuah rumah kosong. "Masalahnya adalah kau sedang mencoba melawan gravitasi nasib dengan tangan kosong. Dan gravitasi, seperti yang kita tahu, tidak memiliki belas kasihan."
Kousuke tidak menatap Tanaka. Ia menatap ke luar jendela, ke arah Tokyo Tower yang terlihat seperti mainan plastik murah yang ditinggalkan anak kecil di tengah padang beton. Kousuke mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya panjang dan pucat, seolah-olah terbuat dari lilin yang tidak pernah dialiri darah selama bertahun-tahun. Di ujung telunjuknya, sebuah distorsi kecil muncul—ruang di sekitarnya melengkung seperti pantulan wajah yang terdistorsi di atas permukaan sendok perak.
Tanaka menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak bisa melihat distorsi ruang itu dengan matanya, tetapi seluruh instingnya berteriak bahwa bulu kuduknya berdiri bukan karena pendingin ruangan. "Saya... saya hanya butuh pinjaman modal itu, Sato-san. Jika tidak, lima ratus karyawan saya akan kehilangan pekerjaan dalam semalam. Mereka punya keluarga."
Kousuke memutar kursi kerjanya perlahan. Gerakannya sangat mulus, tanpa suara gesekan logam sedikit pun, seolah-olah ia mengambang di atas bantal magnet. "Karyawanmu akan kehilangan pekerjaan karena kau terlalu takut pada kegelapan yang sebenarnya sudah ada di depan matamu. Kau menghabiskan terlalu banyak energi hanya untuk berpura-pura bahwa dunia ini masih berjalan sesuai aturan yang kau pelajari di bangku kuliah."
Kousuke berdiri. Ia berjalan menuju meja bar di sudut ruangan. Meskipun sistem pencernaannya sudah berhenti berfungsi sejak malam di Nakano, ia menyukai estetika dan bobot dari benda-benda itu. Ia menuangkan wiski Single Malt ke dalam gelas kristal. Ia menyentuh pinggiran gelas itu, dan seketika es batu di dalamnya membeku lebih keras, mengeluarkan bunyi retakan yang tajam—suara yang mirip dengan tulang yang patah di kejauhan.
"Aku akan memberimu modal itu," ujar Kousuke sambil menatap pusaran cairan cokelat di gelasnya. "Bukan karena aku peduli pada nasib lima ratus orang itu. Tapi karena aku ingin melihat secara langsung apa yang akan dilakukan manusia sepertimu saat kau menyadari bahwa uang sebanyak apa pun tidak akan pernah bisa mengubah arah angin yang membawa badai."
Tanaka gemetar saat Kousuke menyodorkan dokumen kontrak. Saat ujung jari mereka bersentuhan secara tidak sengaja, Tanaka tersentak seperti terkena kejutan listrik statis yang ekstrem. Dingin. Rasanya seperti menyentuh lempengan es yang telah terkubur di bawah permafrost selama seribu tahun. Ia segera menandatangani dokumen itu dan bergegas keluar dari ruangan seolah-olah baru saja meloloskan diri dari labirin monster.
Setelah Tanaka pergi, ruangan itu kembali jatuh ke dalam kesunyian yang absolut, jenis kesunyian yang bisa kau dengar. Kousuke duduk di sofa kulitnya, mendengarkan rekaman kaset jazz lama—sebuah komposisi dari Duke Ellington. Musik itu adalah satu-satunya hal yang terasa "nyata" baginya. Instrumen tiup yang melankolis itu seolah-olah mengerti bagaimana rasanya memiliki eksistensi fisik yang megah tetapi kehilangan esensi kehidupan yang hangat.