Dunia, bagi Kousuke Sato di penghujung tahun 1999, telah bertransformasi menjadi sebuah akuarium raksasa yang kedap suara dan sangat steril. Ia berada di dalamnya, mengamati gerakan ikan-ikan lain melalui dinding kaca yang begitu tebal hingga distorsi menjadi satu-satunya bentuk kejujuran yang tersisa. Ia bisa melihat mereka membuka mulut dalam upaya komunikasi yang sia-sia, melihat sirip mereka bergerak-gerak gelisah, namun ia tidak bisa mendengar suaranya, apalagi merasakan suhu airnya. Ia adalah ikan eksotis yang mati di dalam air yang membeku, namun entah bagaimana tetap bisa berenang.
Suatu malam di bulan Oktober, saat angin musim gugur mulai meniupkan aroma daun mati, debu kota, dan sisa pembakaran bensin ke lorong-lorong Tokyo, Kousuke memutuskan untuk berjalan kaki menuju sebuah bar kecil di bawah tanah di distrik Aoyama. Ia mengenakan mantel panjang berwarna biru tua yang ia beli di Milan—sebuah potong kain yang sangat mahal dan elegan—namun wol terbaik dari Italia itu pun gagal memberikan simulasi kehangatan pada kulit porselennya.
Bar itu bernama "The Lonely Whale," sebuah nama yang terasa terlalu tepat sasaran hingga hampir terasa seperti ejekan. Di dalamnya, pencahayaan sangat redup, hanya ada lilin-lilin kecil yang apinya bergetar ketakutan setiap kali pintu kayu berat itu terbuka. Musik jazz dari piringan hitam tua—sesuatu dari Bill Evans—mengalun dengan nada-nada yang terasa seperti rintik hujan yang jatuh di atas atap seng pada jam tiga pagi.
Kousuke duduk di pojok yang paling gelap, memesan Cutty Sark dengan es batu yang banyak. Ia suka duduk diam selama berjam-jam hanya untuk memperhatikan bagaimana es batu itu mencair di dalam gelas kristalnya. Baginya, itu adalah satu-satunya proses biologis yang bisa ia tiru: perubahan wujud dari padat yang kaku menjadi cair yang pasrah, lalu akhirnya menghilang sepenuhnya ke dalam atmosfer.
Lalu, di tengah melankolia itu, ia melihatnya.
Wanita itu duduk tiga kursi dari tempatnya berada. Namanya Eriko. Ia sedang membaca sebuah buku bersampul keras sambil memegang segelas martini dengan jemari yang lentur. Ada sesuatu pada cara Eriko membalikkan halaman buku—sebuah gerakan yang sangat presisi, penuh perhatian, namun lembut—yang membuat gravitasi di sekitar kursi Kousuke seolah-olah bergeser beberapa derajat.
Tanpa sadar, kekuatan anomali Kousuke bereaksi terhadap ketertarikan yang sudah lama tidak ia rasakan. Bunga mawar plastik yang layu di atas meja bar di antara mereka tiba-tiba mengeluarkan aroma bunga segar yang sangat kuat dan memabukkan, seolah-olah seluruh musim semi di Jepang dipadatkan ke dalam satu kelopak imitasi. Eriko mendongak, hidungnya sedikit berkerut karena heran, lalu matanya yang jernih bertemu dengan mata Kousuke yang sedalam sumur.
"Aneh sekali," kata Eriko. Suaranya jernih dan berdentang pelan, mengingatkan Kousuke pada bunyi sendok perak yang mengetuk gelas kaca tipis. "Aku tidak tahu mawar plastik di bar tua seperti ini bisa memiliki aroma yang begitu hidup. Rasanya hampir mustahil."
Kousuke tidak segera menjawab. Ia harus mengonsentrasikan seluruh energinya agar emosinya tidak membuat seluruh gelas di rak bar itu pecah berkeping-keping. "Mungkin itu hanya sisa parfum dari pelanggan sebelumnya yang tertinggal di udara," katanya datar, mencoba menjaga frekuensi suaranya agar tetap terdengar manusiawi.
Eriko tersenyum kecil, lalu menutup bukunya dengan pelan. "Atau mungkin bar ini memang dihuni oleh hantu yang sangat sopan dan memiliki selera bunga yang bagus. Aku Eriko."
"Kousuke."
Itu adalah awal dari sebuah kekacauan yang indah, sebuah upaya mustahil untuk menjahit dua dunia yang berbeda dimensi.
Selama beberapa minggu berikutnya, Kousuke Sato melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal bagi entitas supernatural dengan saldo bank tak terbatas: ia mencoba berkencan. Ia mencoba berpura-pura bahwa ia masih memiliki tempat di bawah matahari.
Eriko adalah seorang kurator di sebuah galeri seni kecil di distrik yang tenang. Ia menyukai hal-hal yang tidak sempurna—keramik yang retak namun diperbaiki dengan emas, lukisan yang sedikit miring, dan orang-orang yang tidak banyak bicara. Baginya, Kousuke adalah teka-teki yang menyenangkan, sebuah labirin yang ingin ia jelajahi. Ia tidak pernah merasa terintimidasi oleh wibawa Kousuke yang menakutkan bagi orang lain. Sebaliknya, ia merasa Kousuke adalah pria yang membawa kesunyian yang sangat luas dan purba di pundaknya.