Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #11

Sentuhan Midas, Desimal yang Bergeser, dan Cara Mencintai dari Jarak Satu Galaksi

Pada tahun 2001, Kousuke Sato menyadari bahwa dunia sebenarnya adalah sebuah jaring-jaring elektromagnetik yang sangat luas dan kompleks, dan ia sedang menggenggam salah satu ujung kabel utamanya dengan jemari yang dingin. Ia tinggal di sebuah apartemen di distrik Minato, sebuah menara kaca yang begitu tinggi hingga awan sering kali terlihat seperti gumpalan kapas yang tersangkut di jendela balkonnya, seolah-olah langit itu sendiri adalah sebuah furnitur yang bisa ia atur letaknya.

Kekayaan, bagi Kousuke, tidak lagi datang dalam bentuk yang bisa diraba secara fisik seperti tumpukan emas yang berkilau atau koper-koper yang penuh dengan uang kertas yang berbau keringat. Kekayaan datang kepadanya dalam bentuk deretan angka-angka hijau yang berkedip secara ritmis di monitor komputer, bergerak dengan patuh dan mekanis setiap kali Kousuke "menjentikkan" benang probabilitas di dalam kepalanya. Ia tidak perlu lagi melakukan kerja keras dalam pengertian manusia normal. Ia tidak perlu memeras keringat atau menguras otak untuk strategi pemasaran. Ia hanya perlu "ada" di sana, dan realitas akan melengkung secara otomatis di sekitarnya untuk memastikan bahwa ia tetap berada di titik tertinggi piramida, seperti sebuah benda padat yang menolak hukum fisika.

Namun, setiap kali telepon di atas meja jati hitamnya—meja yang permukaannya halus seperti kulit hiu—berdering, Kousuke merasakan sejenis distorsi frekuensi yang tidak nyaman. Telepon itu adalah satu-satunya benda organik yang menghubungkannya dengan dunia lama—sebuah dunia yang penuh dengan bau rokok murah, debu yang mengendap di rak toko kelontong, dan suara batuk Takeo yang kering dan kasar.

"Halo," suara di ujung telepon itu adalah Hiroshi, adik laki-lakinya. Suara itu terdengar sangat jauh dan terdistorsi, seolah-olah sinyalnya harus melewati terowongan bawah tanah yang panjang dan berliku sebelum sampai ke telinga Kousuke. "Kousuke? Kau masih di sana, kan?"

Kousuke tidak segera menjawab. Ia menatap ke luar jendela yang kedap suara, ke arah teluk Tokyo yang gelap dan diam, seperti genangan tinta raksasa yang tidak memiliki dasar. "Aku di sini, Hiroshi."

"Begini," Hiroshi berdehem, sebuah suara yang menandakan kecanggungan yang kronis. Kousuke bisa mendengar suara korek api yang dinyalakan di ujung sana, sebuah bunyi gesekan kecil yang membangkitkan aroma cengkih imajiner di dalam ingatan Kousuke. Bau itu seolah-olah merembes melalui transmisi satelit dan memenuhi ruangan apartemennya yang steril. "Bisnis bahan bangunan yang aku rintis sedang... yah, kau tahu sendiri bagaimana kondisi ekonomi sekarang. Bank mulai menekan leherku seperti lilitan ular. Dan Mari... ia sangat ingin mengambil kursus desain di Milan. Kau tahu sendiri Ayah tidak punya apa-apa lagi selain tumpukan tiket lotere yang sudah basi dan mimpi-mimpi kosong."

Kousuke terdiam, membiarkan keheningan itu menggantung di antara mereka seperti jaring laba-laba. Ia memutar-mutar gelas wiski di tangannya. Es di dalam gelas itu tidak pernah mencair sepenuhnya, tertahan oleh suhu tubuh Kousuke yang selalu berada di bawah normal. Ia membayangkan Hiroshi duduk di dapur mereka yang sempit dan remang-remang di desa, dikelilingi oleh tumpukan tagihan yang menumpuk seperti guguran daun kering di musim gugur.

"Berapa yang kau butuhkan?" tanya Kousuke datar, tanpa intonasi emosi sedikit pun.

Hiroshi menyebutkan sebuah angka. Bagi Hiroshi, angka itu mungkin setara dengan sepuluh tahun hidup yang dikonversi menjadi keringat dan air mata. Bagi Kousuke, angka itu hanyalah hasil dari satu pergerakan mikroskopis di bursa saham yang ia lakukan sambil minum kopi pagi tadi. Itu tidak lebih dari sekadar pergeseran desimal.

"Aku akan mengirimkannya dalam sepuluh menit," kata Kousuke. "Dan aku akan mengirimkan jumlah tambahan untuk Mari. Katakan padanya jangan pernah berpikir untuk kembali sebelum ia benar-benar menjadi seorang desainer yang diakui."

"Terima kasih, Kousuke. Sungguh. Ayah selalu bilang kau adalah anak yang sangat aneh sejak kecil, tapi sekarang ia sangat bangga padamu. Ia bahkan bilang, 'Kousuke kita sekarang punya sentuhan Midas'."

Lihat selengkapnya