Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #12

Bach, Sofa yang Membeku, dan Berita Pernikahan di Musim Semi yang Salah

Kabar itu mendarat di atas meja jati hitamnya pada suatu Selasa sore yang malas, di mana matahari Tokyo tampak seperti kuning telur yang pecah dan meleleh di atas hamparan aspal distrik Minato yang tak berujung. Kousuke Sato sedang duduk diam di ruang kerjanya yang luas, mendengarkan rekaman The Goldberg Variations karya Bach melalui sistem suara mutakhir yang mampu menangkap desah napas sang pianis. Ia menyukai presisi matematis dari musik itu; setiap nada jatuh pada tempatnya dengan akurasi sebuah jam atom yang tidak mengenal toleransi kesalahan. Baginya, Bach adalah bentuk tertinggi dari keheningan yang terorganisir—sebuah struktur yang kokoh untuk menopang jiwanya yang keropos.

Telepon genggamnya, sebuah benda perak ramping yang diletakkan di atas meja, bergetar pelan. Getarannya kecil, namun cukup untuk memicu resonansi aneh pada gelas wiski kosong di dekatnya, menciptakan bunyi dengung rendah yang terdengar seperti peringatan dini gempa bumi. Kousuke tidak terburu-buru. Ia menunggu hingga variasi ke-15 selesai sepenuhnya sebelum ia memutuskan untuk mengangkatnya. Waktu, baginya, adalah sesuatu yang bisa ia lipat dan ia simpan di saku mantelnya.

"Halo," suara Kousuke terdengar jernih namun kasar, menyerupai gesekan kertas amplas di atas permukaan kaca yang dingin.

"Kousuke, ini Hiroshi," suara adiknya di ujung telepon terdengar lebih gugup dari biasanya, seolah-olah ia sedang berbicara sambil berdiri di atas papan titian yang tipis. Ada jeda panjang di sana, jenis jeda yang biasanya diisi oleh seseorang yang sedang mencari keberanian yang tercecer di dasar cangkir kopi yang sudah dingin. "Ayah... Ayah ingin memberitahumu sesuatu. Tapi dia terlalu takut untuk meneleponmu langsung. Dia bilang suaramu di telepon terdengar seperti suara dari dunia lain."

Kousuke menatap ujung sepatunya yang mengilap, memantulkan cahaya lampu plafon yang steril. Ia tidak bernapas—paru-parunya sudah lama lupa bagaimana caranya berkontraksi—namun dadanya terasa sesak oleh sejenis beban yang tidak berwujud, sebuah tekanan atmosferik yang hanya ada di dalam kepalanya. "Katakan saja apa perlunya, Hiroshi."

"Ayah akan menikah lagi. Dengan seorang wanita dari desa sebelah—janda mendiang pemilik pabrik kayu yang kaya itu. Namanya Koyama. Mereka bilang... yah, orang-orang di desa bilang Ayah butuh seseorang untuk merawatnya di masa tua yang semakin rapuh ini."

Seketika, Bach berhenti. Bukan karena rekamannya habis atau pemutarnya rusak, melainkan karena frekuensi energi di ruangan itu mendadak menjadi sangat kacau hingga perangkat elektronik sensitif di sana mengalami hubungan arus pendek serentak. Lampu gantung kristal di langit-langit berdenting pelan, saling beradu seperti gigi yang gemeretak karena kedinginan, lalu padam total dalam satu kedipan sirkuit.

Kousuke tidak marah dalam pengertian manusia biasa—ledakan emosi yang diikuti oleh teriakan atau bantingan pintu. Kemarahannya bukan sebuah ledakan; itu adalah sebuah proses pembekuan. Ia merasakan titik nol absolut merambat perlahan dari sumsum tulang belakangnya menuju ujung jari-jarinya. Dunianya mendadak kehilangan warna, menyisakan spektrum abu-abu yang tajam.

"Menikah lagi?" Kousuke mengulang kata itu seolah-olah itu adalah bahasa asing yang kuno dan tidak masuk akal.

"Dengar, Kousuke," Hiroshi mencoba membujuk, suaranya gemetar seperti dawai gitar yang ditarik terlalu kencang. "Ini sudah tiga belas tahun sejak Ibu... kau tahu sendiri. Ayah sudah tua. Dia kesepian di rumah besar itu sendirian. Kami semua sudah sepakat. Ini adalah cara terbaik agar kami tidak perlu terus-menerus mengawasinya atau mencemaskan utang-utang barunya."

"Kesepian?" Kousuke berdiri dari kursinya. Saat ia bangkit, bayangannya di dinding putih tampak memanjang secara tidak wajar, seolah-olah bayangan itu memiliki kehendak sendiri untuk menelan cahaya sore yang tersisa di ruangan itu. "Pria yang membiarkan istrinya membusuk perlahan karena kanker demi tiket lotere sepuluh yen dan kepulan rokok cengkih merasa kesepian? Itu adalah lelucon paling buruk yang pernah aku dengar dalam hidupku yang panjang ini, Hiroshi."

Lihat selengkapnya