Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #13

Tempura yang Membeku, Kopi di Gerbong 12-A, dan Cara Menghukum Masa Lalu

Kereta api Shinkansen yang membawa Kousuke Sato menuju utara bergerak dengan presisi mekanis yang nyaris menakutkan, menyerupai sebuah proyektil perak yang membelah ruang dan waktu tanpa menyisakan sedikit pun toleransi bagi kesalahan. Di balik jendela kaca yang tebal, lanskap Jepang bertransformasi secara perlahan; hutan beton yang padat meluruh menjadi hamparan sawah yang mulai menguning, semuanya berlalu seperti pita film seluloid yang diputar dengan kecepatan yang tidak wajar. Kousuke duduk diam di kursi kelas satu, tangannya terlipat di atas pangkuan dengan ketenangan sebuah patung di museum yang tidak pernah dikunjungi. Ia tidak membaca buku, tidak mendengarkan musik, dan tidak makan. Ia hanya ada di sana, sebuah entitas yang memadatkan ruang di sekelilingnya.

Seorang pramugari kereta dengan seragam yang sangat rapi lewat dan menawarkan kopi panas. Kousuke menolaknya dengan gelengan kepala yang sangat halus, sebuah gerakan yang hampir tidak tertangkap oleh mata manusia. Ia tahu benar hukum fisika yang kini melingkupinya; jika ia memegang cangkir porselen itu, uap panasnya akan segera menyerah pada eksistensinya, berubah menjadi cairan suam-suam kuku yang mati dalam hitungan detik. Ruang di sekitar kursi nomor 12-A itu selalu memiliki suhu beberapa derajat lebih rendah daripada bagian gerbong lainnya, seolah-olah sistem pendingin udara di sana sedang mengalami kerusakan yang sangat spesifik.

Ketika ia turun di stasiun kota kecilnya yang terpencil, udara pegunungan yang tajam dan jujur langsung menyambutnya. Kousuke menghirup udara itu—sebuah gerakan refleks mekanis yang sebenarnya tidak memberikan pasokan oksigen ke dalam paru-parunya yang statis, namun memberinya informasi sensorik yang tajam tentang aroma tempat itu. Bau kayu pinus yang lembap, bau tanah yang baru saja dicangkul, dan bau asap pembakaran jerami yang khas dari musim gugur di pedesaan. Dan di sana, tersembunyi di antara lapisan aroma alami itu, ia mencium bau yang paling ia benci dan paling ia kenal: cengkih yang terbakar.

Ia menyewa sebuah mobil sedan hitam dan berkendara melewati jalanan yang sempit menuju rumah masa kecilnya. Toko kelontong keluarga Sato masih berdiri tegak di sana, meski kini catnya sudah diperbarui dengan warna krem yang hambar—kemungkinan besar menggunakan sisa uang yang ia transfer bulan lalu sebagai bentuk suap agar masa lalu tidak mengusiknya. Papan namanya terlihat lebih modern dengan lampu neon yang baru, namun struktur dasarnya tetap menyimpan jenis kesedihan struktural yang sama dengan tiga belas tahun yang lalu.

Di dalam rumah, suasana terasa ganjil, seperti sebuah adegan teater yang naskahnya ditulis oleh seseorang yang menderita depresi kronis. Hiroshi, Mari, dan Takeo sudah menunggu di meja makan kayu panjang yang dulu merupakan pusat gravitasi dari segala kemarahan dan keheningan mereka. Namun malam ini, ada satu orang tambahan yang tidak pada tempatnya: seorang wanita paruh baya dengan pakaian rapi dan senyum yang terlalu dipaksakan hingga menyerupai luka yang baru dijahit. Ibu Koyama.

"Kousuke, akhirnya kau datang juga," kata Hiroshi. Suaranya terdengar seperti seseorang yang sedang mencoba berjalan di atas lapisan es tipis di tengah danau yang dalam.

Kousuke melangkah masuk ke dalam ruangan. Kehadirannya segera mengubah tekanan barometrik di ruangan itu secara drastis. Jam dinding kuno di ruang tamu tiba-tiba berdetak lebih lambat, seolah-olah waktu itu sendiri sedang merasa lelah. Mari, yang duduk di ujung meja, tampak merapatkan kardigan wolnya secara naluriah, seolah-olah ada jendela yang tiba-tiba terbuka di tengah badai salju di luar sana.

"Selamat malam," kata Kousuke. Suaranya datar dan tanpa beban emosional, menyerupai bunyi batu yang jatuh ke dalam dasar sumur kering yang tidak memiliki gema.

Takeo duduk di kepala meja, posisi yang selalu ia banggakan. Namun, ia kini terlihat jauh lebih kecil dan rapuh daripada yang Kousuke ingat. Rambutnya sudah memutih sepenuhnya, menyerupai abu rokok yang berserakan, dan tangannya sedikit gemetar saat memegang cangkir teh. Meski begitu, aroma rokok cengkih tetap menempel padanya seperti kulit kedua yang tidak bisa dikelupas.

"Duduklah, Kousuke," kata Takeo. Ia mencoba memberikan tekanan otoritas pada suaranya, mencoba terdengar tegas seperti masa jayanya dulu, namun otoritasnya telah lama menguap bersama usia dan tumpukan tiket lotere yang kalah. "Kenalkan, ini Ibu Koyama. Dia akan... dia akan menjadi bagian dari rumah ini dalam waktu dekat."

Ibu Koyama membungkuk sopan dengan gerakan yang terukur. "Senang bertemu denganmu, Kousuke-san. Saya sudah banyak mendengar tentang kesuksesanmu yang luar biasa di Tokyo. Kau adalah kebanggaan desa ini."

Lihat selengkapnya