Dunia di sekitar rumah keluarga Sato mulai melengkung di bagian tepinya, menyerupai piringan hitam tua yang dibiarkan terlalu lama di bawah terik matahari hingga lubang porosnya tak lagi presisi. Sejak kedatangan Kousuke yang mendadak, waktu di desa itu tidak lagi mengalir seperti arus sungai yang wajar; ia berubah menjadi gumpalan tar yang lengket, lambat, dan menyumbat saluran kewarasan. Bayangan benda-benda di dalam rumah—kaki meja, gagang pintu, lemari tua—seolah memiliki niat tersembunyi, memanjang dan memendek tanpa mempedulikan posisi lampu.
Ibu Koyama adalah yang pertama kali merasakannya. Ia memiliki sejenis intuisi purba, tipe insting yang dimiliki kucing sebelum gempa besar menghancurkan kota. Ia menyadari bahwa ia tidak sedang berurusan dengan seorang calon anak tiri yang sombong atau sekadar pria kaya dari Tokyo yang eksentrik, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih fundamental, sesuatu yang berada di luar jangkauan logika hukum biologi.
Ia mencoba bertahan selama tiga hari, mengandalkan senyum palsu dan rutinitas domestik. Namun, pada hari keempat, saat ia sedang menyeduh teh hijau di dapur yang remang-remang, ia melihat sesuatu yang membuatnya kehilangan seluruh keberaniannya: uap air yang keluar dari teko panas tidak naik ke atas menuju langit-langit, melainkan membeku seketika di udara, membentuk replika jari-jari tangan manusia yang kurus, pucat, dan seolah-olah sedang mencoba menggapai lehernya.
Tanpa sempat mengemas pakaian atau membawa perhiasannya, Ibu Koyama pergi. Ia meninggalkan sepasang sandal rumahnya begitu saja di depan pintu, seolah-olah tubuhnya baru saja menguap ke dalam udara tipis menjadi ketiadaan. Ia tidak meninggalkan pesan singkat, apalagi surat perpisahan. Baginya, pernikahan dengan Takeo bukan lagi tiket emas menuju masa pensiun yang aman di pedesaan, melainkan pintu masuk menuju sebuah lemari pendingin raksasa yang berisi ribuan galon kenangan pahit yang membeku.
Hiroshi dan Mari kini sering duduk di beranda, memperhatikan fenomena cuaca yang mustahil. Salju jatuh dengan lebat hanya di batas pagar rumah mereka, menumpuk tebal di atas atap seng. Sementara itu, tepat di luar pagar, matahari musim semi bersinar terang dengan angkuh, dan bunga sakura mulai mekar dengan warna merah muda yang ceria. Kontras itu begitu konyol hingga terlihat seperti sebuah lukisan surealis yang dikerjakan oleh pelukis amatir yang sedang mabuk berat.
"Kousuke sama sekali tidak normal," bisik Mari. Ia memeluk lututnya erat-alih-alih mencari kehangatan. "Kau lihat bagaimana lampu di kamarnya tidak pernah menyala, tapi kita bisa mendengar suara langkah kaki yang berat dan ritmis setiap malam? Dan aromanya... kenapa rumah ini jadi berbau seperti campuran formalin, debu perpustakaan, dan bunga lili yang mulai membusuk?"
Hiroshi mencoba menyalakan rokoknya untuk yang kesepuluh kali, namun api dari pemantik Zippo-nya mati seketika setiap kali ia mencoba memicu percikan. Ia menghela napas panjang, membuang batang rokok yang sia-sia itu ke tanah yang memutih. "Dia yang memegang kendali atas gravitasi rumah ini sekarang, Mari. Semua uang yang kau pakai untuk tas bermerek itu, semua hutangku yang lunas, semua kenyamanan ini... itu semua mengalir dari tangannya yang sedingin es. Kita tidak punya posisi untuk mengusirnya."
"Tapi Ayah mulai kehilangan akal sehatnya," bantah Mari dengan suara bergetar. "Dia terus memanggil nama Ibu di tengah malam. Kemarin aku melihatnya mencoba memberikan selembar tiket lotere tua yang sudah robek kepada bayangan di pojok ruang tamu. Dia benar-benar pikir Ibu ada di sana, sedang menunggunya."
Hiroshi terdiam. Ia adalah pria pragmatis yang percaya pada angka dan fakta keras, namun pragmatismenya mulai retak menghadapi fenomena yang tidak masuk akal ini. Ia merasa seperti karakter dalam film horor yang menyadari bahwa pintu keluar telah berubah menjadi dinding bata. Ia memikirkan bisnis bahan bangunannya, ia memikirkan istrinya yang menolak berkunjung karena merasa "tercekik" setiap kali berada di radius satu kilometer dari rumah keluarga Sato.