Waktu, bagi Kousuke Sato di tahun 2006, telah berhenti menjadi sungai yang mengalir secara linier. Waktu telah bertransformasi menjadi sebuah kolam yang membeku di tengah hutan yang tak terjamah, di mana ia dan ayahnya, Takeo, terperangkap di bawah lapisan es yang begitu tebal hingga cahaya matahari pun tampak seperti noda kuning yang samar dan tidak bertenaga. Mereka bisa melihat satu sama lain melalui medium transparan yang dingin itu, namun tidak ada suara yang benar-benar bisa menembus. Segala bentuk komunikasi telah tereduksi menjadi sekadar gerakan bibir yang tanpa makna, seperti ikan yang megap-megap di balik kaca akuarium yang kotor.
Kousuke memutuskan untuk memindahkan Takeo ke sebuah rumah yang ia beli di pinggiran kota yang sunyi, sebuah wilayah yang seolah-olah sengaja dihapus dari peta oleh departemen tata kota. Rumah itu memiliki desain minimalis dengan dinding-dinding kaca besar yang menghadap langsung ke sebuah hutan pinus yang padat. Tidak ada tetangga di radius satu kilometer; hanya ada kesunyian yang memiliki berat dan tekstur. Di sana, satu-satunya interupsi terhadap kesunyian adalah suara angin yang bergesekan dengan jarum-jarum pinus—bunyi yang mengingatkan Kousuke pada suara napas seseorang yang sedang menderita asma akut—dan bunyi mekanis dari mesin pembuat kopi yang bekerja secara otomatis di dapur setiap pukul tujuh pagi, mengeluarkan aroma kafein yang pahit namun tidak pernah benar-benar ia nikmati.
Kousuke melakukan tugasnya sebagai putra sulung dengan presisi seorang teknisi yang sedang memelihara mesin uap kuno yang hampir meledak namun terpaksa harus terus dijalankan. Ia memandikan Takeo, mengganti pakaiannya, dan menyuapinya. Semuanya dilakukan tanpa sepatah kata pun, seperti sebuah ritual keagamaan yang sudah kehilangan tujuannya namun tetap dijalankan karena takut akan kutukan yang lebih besar.
Saat ia menyentuh kulit Takeo untuk membasuhnya dengan waslap, pria tua itu akan tersentak secara mikroskopis. Bukan karena rasa sakit fisik yang hebat, melainkan karena suhu tubuh Kousuke yang menyerupai permukaan marmer di tengah musim dingin yang ekstrem. Namun, Takeo tidak lagi memiliki kekuatan atau kosa kata untuk melayangkan protes. Penyakit pikun telah mencuri kata-katanya satu per satu, meninggalkan ia hanya dengan gumaman tidak jelas yang terdengar seperti transmisi radio yang rusak, dan mata yang terus-menerus mencari sesuatu yang tidak ada di ruangan itu—mungkin mencari pintu keluar dari labirin ingatannya sendiri yang kian menggelap.
Suatu sore yang berwarna abu-abu baja, Kousuke sedang menyiapkan bubur gandum di dapur. Ia memperhatikan dengan saksama bagaimana butiran-butiran gandum itu berputar lambat di dalam air yang sedang dipanaskan. Ia menyadari sebuah anomali yang tajam: meskipun air di dalam panci itu mendidih dan meletup-letup, tidak ada sedikit pun uap yang keluar dari permukaannya. Kehadiran Kousuke di ruangan itu telah menekan energi termal hingga ke titik di mana hukum-hukum fisika dasar mulai menyerah kalah dan meletakkan senjata. Panas di sana seolah-olah sedang dihisap oleh sebuah lubang hitam yang bersembunyi di dalam dadanya.
Ia membawa mangkuk bubur itu ke kamar Takeo. Pria tua itu duduk kaku di kursi rodanya, menatap lurus ke arah hutan pinus melalui dinding kaca, seolah-olah ia sedang menunggu kedatangan tamu yang ia tahu tidak akan pernah datang.
"Makanlah," kata Kousuke. Suaranya datar dan steril, tanpa intonasi emosional sedikit pun, menyerupai bunyi pesan otomatis dari stasiun kereta yang kosong.
Takeo membuka mulutnya dengan gerakan yang sangat lambat, menyerupai seekor anak burung yang pasrah pada nasib di tangan predatornya. Kousuke menyuapinya dengan gerakan tangan yang sangat stabil, nyaris robotik. Setiap kali ujung sendok perak itu masuk ke dalam mulut Takeo, tubuh pria tua itu akan menggigil hebat. Dingin yang berasal dari tangan Kousuke merambat melalui logam sendok, menyusup ke dalam rongga mulut, dan perlahan-lahan mulai mengubah fisiologi internal pria tua itu secara paksa.
Kousuke menyadari dengan kejernihan yang mengerikan bahwa ia tidak sekadar sedang merawat Takeo. Ia sedang "mengawetkan" ayahnya. Karena interaksi konstan dan intim dengan energi supernaturalnya yang bersifat membekukan, proses pembusukan biologis normal pada tubuh Takeo melambat secara tidak wajar. Kulit Takeo mulai terlihat pucat, kencang, dan sedikit mengilap, hampir menyerupai tekstur porselen yang mahal atau daging yang sudah terlalu lama berada di dalam freezer.