Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #16

Bach, Bunga Liar yang Tidak Ada, dan Mekanika Penagihan Hutang Atas Nama Penderitaan

Rumah itu kini telah sepenuhnya bertransformasi menjadi sebuah akuarium raksasa yang berisi udara statis, keheningan yang padat, dan cahaya yang memudar secara melankolis. Di luar sana, dunia mungkin sedang sibuk mendiskusikan krisis ekonomi global, pergantian musim, atau model ponsel terbaru yang semakin ramping, namun di dalam dinding-dinding kaca ini, hal-hal semacam itu tidak lebih relevan daripada jenis debu yang hinggap di atas vas porselen di sudut ruangan. Segala sesuatu yang bersifat eksternal telah kehilangan massanya, menyisakan sebuah ruang hampa di mana gravitasi bekerja dengan cara yang berbeda.

Kousuke Sato duduk di meja makan kayu jati yang dingin, menatap secangkir kopi yang sudah mendingin sejak dua jam yang lalu. Ia tidak meminumnya. Ia hanya menyukai bentuk lingkaran hitam sempurna yang dibentuk oleh permukaan cairan itu. Ia merasa seolah-olah sedang menatap sebuah lubang hitam kecil yang memiliki daya tarik luar biasa, mampu menelan seluruh sejarah keluarganya yang berantakan, termasuk aroma rokok cengkih dan suara tamparan yang bergema di masa lalu.

Di kamar sebelah, Takeo sedang tidur—atau setidaknya, ia sedang berada dalam kondisi liminal antara hidup dan mati yang sangat tipis, seperti selembar kertas tisu yang basah. Suara napasnya terdengar berat dan ritmis, menyerupai suara seseorang yang sedang menyeret karung berisi batu-batu besar melewati lantai kayu yang kasar. Itu adalah suara keberadaan yang dipaksakan.

Tiba-tiba, Kousuke merasakan sebuah pergeseran halus pada frekuensi ruangan. Bukan pergeseran fisik yang bisa diukur dengan alat seismik, melainkan sesuatu yang bersifat metafisika, sebuah distorsi pada jalinan realitas. Tekanan udara di ruangan itu berubah secara mendadak, menyerupai sensasi yang kau rasakan di dalam telinga saat pesawat terbang mulai turun dengan cepat menuju landasan pacu yang gelap.

"Kau terlalu keras padanya, Kousuke," sebuah suara muncul dari sudut ruangan yang paling gelap.

Suara itu lembut, setipis uap, namun memiliki resonansi yang membuat partikel udara di sekitar Kousuke bergetar. Kousuke tidak menoleh. Ia tidak perlu menoleh. Ia tahu siapa yang berdiri di sana, atau setidaknya, ia tahu fragmen memori mana yang sedang memanifestasikan dirinya menjadi suara.

"Keras?" Kousuke bertanya pada kegelapan di depannya, suaranya terdengar seperti gesekan es di atas logam. "Aku memberinya makan secara teratur. Aku memandikannya setiap pagi. Aku memastikan dia tidak mati kedinginan di usia tuanya. Itu adalah bentuk pengabdian yang jauh lebih banyak daripada yang pernah dia berikan untukmu selama kau hidup, Ibu."

Hana—atau setidaknya bayangan yang menyerupai Hana—melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya lampu meja yang remang-remang. Ia mengenakan kardigan biru tua yang warnanya sudah pudar dimakan waktu, pakaian yang sama yang ia kenakan pada sore musim gugur tahun 1989 ketika ia mengeluh tentang rasa sakit di dadanya. Wajahnya tampak samar, seolah-olah dilihat melalui permukaan air yang keruh, namun matanya tetap jernih dan menyimpan kedalaman kesedihan yang tak terbatas, seperti sumur tua yang tak pernah kering.

"Merawat seseorang dengan sepasang tangan yang penuh dengan kebencian adalah bentuk penyiksaan yang lain, Kousuke," kata Hana. Ia duduk di kursi di seberang Kousuke dengan keanggunan yang tidak wajar. Kursi itu tidak berderit sedikit pun saat menerima bebannya. Ia tidak memiliki berat badan biologis; ia hanyalah proyeksi dari sebuah kerinduan dan kemarahan yang membeku. "Kau sedang menahannya di dunia ini bukan karena kau ingin dia tetap hidup, tapi karena kau belum selesai menghukumnya secara sistematis."

Kousuke akhirnya menoleh, matanya bertemu dengan mata bayangan itu. Pandangannya mampu membekukan lautan jika ia mau. "Dia membiarkanmu mati perlahan dalam kesunyian. Dia menghabiskan uang yang seharusnya untuk doktermu hanya untuk membeli rokok cengkih dan tiket lotere yang tak pernah menang. Kau ingat malam ketika kau batuk darah di dapur dan dia hanya mengeluh karena suaramu mengganggu tidurnya? Aku mengingatnya setiap kali aku melihat wajahnya."

Hana mengangguk pelan, sebuah gerakan yang sangat anggun namun menyakitkan. "Aku ingat semuanya. Aku mengingat setiap detik dari rasa sakit fisik itu. Tapi aku juga mengingat saat-saat jauh sebelum asap rokok itu memenuhi seluruh ruang di kepalanya. Saat dia membawakan aku setangkai bunga liar yang ia petik dari pinggir jalan hanya karena dia pikir warnanya mirip dengan warna mataku saat aku sedang bahagia."

"Setangkai bunga liar tidak akan pernah cukup untuk membayar nyawamu yang hilang," potong Kousuke dengan tajam.

Lihat selengkapnya