Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #17

Tiket Lotere di Bawah Bantal, Suara Tahun 1985, dan Mekanika Pemakaman yang Diperpanjang

Malam itu, dunia seolah-olah ditarik ke dalam sebuah ruang hampa yang kedap suara, seperti sebuah bola kasti yang dijatuhkan ke dalam lubang tanpa dasar di tengah hutan yang sunyi. Jam dinding di ruang tengah rumah mewah itu berdetak dengan ritme yang ganjil, seakan-akan jarum detiknya sedang berusaha merangkak melewati genangan sirup maple yang kental dan pekat. Kousuke Sato duduk di kursi kayu berlapis kulit domba yang halus, mencoba membenamkan diri dalam sebuah buku tentang mekanika kuantum yang ia pinjam dari perpustakaan universitas setahun lalu. Ia tidak benar-benar membaca; ia hanya membiarkan matanya meluncur secara mekanis di atas barisan kata-kata yang rumit, mencari pola tersembunyi yang mungkin bisa menjelaskan mengapa eksistensinya terasa seperti sebuah siaran radio yang tersesat di antara dua frekuensi yang kosong.

Di luar, salju turun dengan keheningan yang absolut dan mutlak, menutupi hutan pinus seperti lapisan gula halus di atas sebuah kue ulang tahun yang ditinggalkan di dalam lemari es yang mati. Tidak ada angin yang berhembus. Tidak ada suara burung hantu yang biasanya memecah malam. Hanya ada kesunyian yang tebal dan memiliki berat, jenis kesunyian yang hanya bisa kau temukan jika kau merangkak ke dasar sumur tua yang sudah kering selama seratus tahun dan memutuskan untuk tinggal di sana selamanya.

Tiba-tiba, dari arah kamar tidur di lantai bawah, terdengar sebuah suara yang merobek keheningan itu. Bukan erangan kesakitan, bukan pula gumaman pikun yang sudah menjadi musik latar harian di rumah itu, melainkan suara gesekan kain seprai yang tajam dan tegas, seolah-olah seseorang baru saja memutuskan untuk berhenti berpura-pura mati. Kousuke meletakkan bukunya di atas meja. Ia tidak bernapas—karena paru-parunya memang sudah lama berhenti melakukan pekerjaan itu—namun ia merasakan sebuah getaran halus pada frekuensi realitas di sekitarnya. Seolah-olah ada sebuah pintu tersembunyi di dalam udara yang baru saja terbuka.

Ia melangkah menuruni tangga kayu dengan keanggunan seorang predator malam. Setiap langkahnya tidak menimbulkan bunyi sedikit pun, seolah-olah ia bukan lagi makhluk dari daging dan tulang, melainkan sebuah proyeksi cahaya yang menembus partikel debu yang menari di udara. Ketika ia sampai di ambang pintu kamar Takeo, ia berhenti. Ia merasakan sesuatu yang berbeda.

Takeo tidak sedang berbaring lemah seperti biasanya. Ia duduk tegak di tepi tempat tidur, punggungnya lurus dan kaku seperti mistar besi yang baru keluar dari pabrik. Cahaya bulan yang menembus jendela kaca besar memberikan rona perak yang aneh pada kulitnya yang pucat. Pada saat itu, ia tidak tampak seperti pria tua yang otaknya telah digerogoti oleh rayap kelupaan. Ia tampak... jernih. Begitu jernih hingga kau bisa melihat urat-urat emosi di balik matanya.

"Kousuke," kata Takeo.

Suaranya tidak gemetar. Itu adalah suara Takeo dari tahun 1985—suara yang penuh dengan otoritas kasar dan aroma maskulinitas yang dominan, namun kali ini tanpa bumbu amarah yang biasanya menyertainya. Itu adalah suara seorang pria yang baru saja terbangun dari sebuah mimpi buruk yang melelahkan yang berlangsung selama dua dekade tanpa henti.

"Aku di sini, Ayah," jawab Kousuke. Ia tetap memilih untuk berdiri di dalam bayang-bayang pintu, seolah-olah cahaya bulan itu terlalu jujur untuknya.

Takeo menoleh perlahan. Matanya, yang biasanya berkabut dan kosong seperti permukaan danau yang tertutup polusi, kini bersinar dengan kecerdasan yang tajam dan menyakitkan. "Kemarilah, Nak. Cahaya bulan ini membuatku sulit melihatmu dengan jelas. Atau mungkin memang kau sudah menjadi bagian dari bayang-bayang itu sendiri hingga kau sulit dibedakan dari kegelapan."

Kousuke melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya bulan yang dingin. Kehadirannya membuat suhu di ruangan itu merosot seketika, seolah-olah seseorang baru saja membuka pintu gudang pendingin. Kristal-kristal es mulai terbentuk dengan pola fraktal di permukaan gelas air yang terletak di atas nakas, sebuah pemandangan yang indah sekaligus mengerikan.

"Kau membawaku ke sini," Takeo memulai pembicaraan, matanya menyapu sekeliling ruangan yang minimalis, steril, dan tidak memiliki jiwa. "Rumah ini... ini bukan rumah untuk orang yang masih ingin hidup, Kousuke. Ini adalah sebuah lemari es raksasa yang kau bangun dengan sangat hati-hati hanya untuk menyimpan mayatku sebelum aku benar-benar diputuskan oleh maut."

Lihat selengkapnya