Malam itu, jam dinding di ruang tengah berhenti berdetak tepat pada pukul dua pagi. Peristiwa itu tidak terjadi karena kehabisan daya baterai atau kerusakan mekanis yang lazim; waktu itu sendiri tampaknya telah memutuskan untuk melipat tangannya dan menyerah, seperti seorang pelari maraton yang mendadak duduk di tepi lintasan karena menyadari bahwa garis finis hanyalah sebuah ilusi optik. Di luar jendela besar, salju turun dengan densitas yang tidak wajar, seolah-olah langit sedang merobek ribuan bantal bulu angsa dan menjatuhkannya ke bumi. Kesunyian yang tercipta begitu berat dan padat, jenis kesunyian yang bisa kau potong dengan pisau dapur dan kau simpan di dalam toples kaca.
Kousuke Sato duduk di samping tempat tidur ayahnya dengan postur seorang pengawas mercusuar yang sudah tidak lagi berharap ada kapal yang lewat. Ia tidak menyalakan lampu. Cahaya di ruangan itu murni berasal dari pendaran tubuh Kousuke sendiri—sebuah cahaya biru pucat yang dingin dan anaerobik, mirip dengan cahaya yang kau temukan di dasar kolam renang yang sangat dalam di tengah malam, di mana kau tidak bisa lagi membedakan mana permukaan dan mana dasar.
Takeo berbaring dengan napas yang tersendat-sendat, sebuah bunyi parau yang mengingatkan Kousuke pada suara radio transistor tua yang sedang bersusah payah mencari sinyal di antara gelombang statis yang kacau. Namun, bertolak belakang dengan kondisi fisiknya yang sekarat, mata Takeo terbuka lebar. Kejernihan yang muncul secara misterius beberapa jam lalu tidak hanya bertahan; ia justru tampak lebih waspada, lebih "hadir", seolah-olah ia sedang berdiri di peron stasiun kereta yang sunyi, menunggu bus terakhir yang akan membawanya pergi ke tempat yang tidak ada di dalam peta.
"Kau tahu, Kousuke," kata Takeo, suaranya terdengar seperti gesekan kertas kuno di atas kayu jati, parau namun stabil. "Dulu aku selalu berpikir bahwa lotere adalah satu-satunya pintu darurat bagiku untuk keluar dari kotak kecil yang menyesakkan ini. Toko kelontong yang berbau apak, hutang yang menumpuk seperti cucian kotor, dan mata ibumu... mata ibumu yang terlalu sabar. Aku merasa tercekik oleh kesabarannya yang tak terbatas itu."
Kousuke tidak bergerak sedikit pun. Ia menatap telapak tangannya yang mulai terlihat transparan dalam keremangan. "Kesabaran Ibu adalah satu-satunya jangkar yang menjaga kita tetap utuh di tengah badai, Ayah. Dan kau justru menghancurkan jangkar itu hanya untuk mengejar selembar kertas yang berisi barisan angka-angka acak."
Takeo tersenyum tipis, sebuah gerakan bibir yang terlihat sangat menyakitkan pada wajahnya yang keriput dan pucat. "Angka-angka itu tidak pernah terasa acak bagiku, Nak. Aku punya sistem yang rumit, semacam arsitektur rahasia. Aku menghitung tanggal lahirmu, tanggal pernikahan kami yang berdebu, bahkan aku menghitung jumlah langkah kaki Hana saat ia berjalan dari dapur menuju teras depan. Aku punya keyakinan gila bahwa jika aku bisa memecahkan kode rahasia alam semesta melalui angka, aku bisa memberikan segalanya pada kalian. Aku ingin menjadi pahlawan, namun aku memilih panggung dan cerita yang sepenuhnya salah."
Pria tua itu kemudian terbatuk, sebuah suara kering yang mengguncang tubuhnya yang ringkih seperti guncangan gempa kecil pada sebuah gubuk tua. Kousuke secara refleks mengulurkan tangan, bermaksud untuk memberikan ketenangan, namun ia mendadak ragu. Tangannya adalah bongkahan es; ia memiliki ketakutan bawah sadar bahwa ia justru akan membekukan sisa detak jantung terakhir ayahnya sebelum waktunya tiba.
"Malam ketika Hana meninggal," lanjut Takeo, matanya kini menatap kosong ke langit-langit seolah-olah ia sedang memutar sebuah reel film hitam-putih di sana. "Aku memiliki semua angka yang benar. Aku sangat yakin kali itu adalah saatnya. Namun ketika aku pulang dengan tiket di tangan dan harapan yang meluap, ia sudah tidak lagi bernapas. Saat itulah aku menyadari sebuah kebenaran yang kejam: bahwa alam semesta ini tidak pernah peduli pada sistem atau hitunganku. Alam semesta hanya memiliki ketertarikan pada satu hal, yaitu kehilangan."