Pukul 02:14 pagi, realitas di dalam rumah kaca itu mulai mengalami keretakan struktural, bukan dengan suara ledakan yang teatrikal, melainkan dengan bunyi desis yang menyerupai selembar kertas perkamen tua yang robek secara perlahan oleh tangan tak kasat mata. Takeo Sato baru saja melepaskan napas terakhirnya—sebuah hembusan udara yang membawa sisa-sisa aroma cengkih dan penyesalan—dan bersamaan dengan itu, hukum gravitasi di ruangan tersebut seolah-olah kehilangan minat untuk terus bekerja secara konvensional. Dunia kehilangan jangkar logikanya.
Kousuke masih berdiri di tempat yang sama, namun ia mulai merasakan sensasi aneh bahwa tubuhnya tidak lagi memiliki kepadatan material yang memadai. Ia menatap telapak tangannya sendiri dalam keremangan. Partikel-partikel cahaya biru pucat—warna yang sama dengan bagian terdalam dari nyala api gas—mulai terlepas dari ujung jarinya, melayang ke langit-langit seperti spora jamur yang terbawa angin gaib di tengah hutan yang sunyi. Ia tidak merasakan rasa takut. Ketakutan, pikirnya, adalah sebuah kemewahan emosional bagi mereka yang masih memiliki jantung yang berdetak dan darah yang mengalir, sementara Kousuke sudah lama meninggalkan mekanisme biologis semacam itu di atas lantai linoleum apartemen sempit di Tokyo sepuluh tahun silam.
Ia bisa merasakan amarahnya—balok es raksasa seberat berton-ton yang selama bertahun-tahun ia pikul di atas punggungnya dengan penuh dedikasi—mulai mencair menjadi air jernih yang tidak berbobot. Tanpa kebencian yang mendalam terhadap Takeo, Kousuke Sato menyadari bahwa dirinya hanyalah sebuah persamaan matematika yang variabel utamanya telah dihapus. Ia adalah sebuah kalimat panjang tanpa tanda baca yang kini kehilangan tujuannya untuk berakhir.
Ia berjalan keluar dari kamar tidur, melewati lorong minimalis yang kini mulai dipenuhi kabut putih pekat. Aroma kabut itu ganjil, sebuah campuran antara ozon setelah badai petir dan sabun mandi mawar yang sering digunakan Hana Sato di masa lalu. Setiap kali telapak kakinya menyentuh lantai, material bangunan itu—beton ekspos, kayu oak, baja hitam—bergetar secara mikroskopis dan mulai berpendar lemah. Rumah itu tidak sedang hancur; rumah itu sedang bersiap-siap untuk menguap dan menghilang dari dimensi ini.
Di desa yang terletak sekitar lima kilometer dari sana, seorang penjaga malam bernama Tanaka-san sedang menyalakan rokok terakhirnya, mencoba melawan rasa kantuk yang menekan. Saat itulah ia melihat sesuatu yang menentang segala logika cuaca di ufuk barat. Di tengah hutan pinus yang biasanya tampak seperti lubang hitam, sebuah pilar cahaya putih yang lembut dan masif melesat tegak lurus ke langit, menembus awan salju yang menggantung rendah.
"Fenomena macam apa itu?" gumamnya pada kegelapan malam yang tidak memberikan jawaban.
Cahaya itu sama sekali tidak menyilaukan; itu adalah jenis cahaya yang kau lihat di balik kelopak mata ketika kau memejamkan mata di bawah terik matahari musim panas—hangat, merah bata, dan sangat damai. Tanaka-san mematikan rokoknya yang baru separuh dihisap. Ia merasa, untuk alasan metafisika yang tidak bisa ia jelaskan secara verbal, bahwa sesuatu yang sangat berat dan purba baru saja diangkat dari tanah tempat ia berpijak selama puluhan tahun. Seolah-olah bumi baru saja menghela napas panjang karena lega.
Sementara itu, di dalam interior rumah mewah yang mulai terlihat transparan seperti ubur-ubur, Kousuke telah sampai di ruang tamu. Ia melihat piringan hitam The Goldberg Variations masih terus berputar di atas turntable yang mahal, namun musik yang keluar dari pengeras suara bukan lagi denting piano Bach yang presisi, melainkan suara tawa kecil seorang anak laki-laki dan bunyi air yang mendidih riuh di dalam teko tembaga. Itu adalah rekaman audio dari kebahagiaan yang pernah ada sebelum segala sesuatunya menjadi berantakan.