Tiket Lotere yang Membeku di Dalam Lemari Es

🕯Koo Marko✨
Chapter #20

Stasiun Tanpa Jam Dinding, Selimut yang Berbau Matahari, dan Tiket yang Tak Berangka

Dunia, pada akhirnya, hanyalah sebuah konstruksi yang rapuh dari ingatan-ingatan yang saling tumpang tindih, seperti tumpukan foto polaroid yang dibiarkan di bawah terik matahari hingga warnanya mulai memudar dan saling menempel. Bagi Kousuke Sato, realitas fisik telah lama menjadi seperti setelan jas yang kekecilan—tidak nyaman, membatasi, dan perlahan-lahan mulai koyak di bagian pundak akibat beban yang tak kasat mata. Ketika ia melangkah keluar dari bingkai pintu rumah mewah yang kini telah menguap menjadi partikel cahaya, ia tidak lagi merasa sedang berjalan di atas tanah yang padat. Ia merasa sedang berjalan di atas permukaan sebuah rekaman piringan hitam yang sangat besar, di mana setiap goresannya adalah detik-detik masa lalu yang telah ia lalui dengan kaki yang berdarah.

Ia tidak berada di hutan pinus lagi. Hutan itu telah melipat dirinya sendiri dan menghilang ke dalam kantong dimensi lain. Kini, Kousuke berada di sebuah stasiun kereta api yang sangat luas, namun anehnya terasa sangat akrab, seperti sebuah mimpi masa kecil yang pernah ia lupakan dan kini mendadak muncul kembali dengan resolusi tinggi. Langit di atas stasiun itu berwarna seperti kulit jeruk yang baru dikupas—perpaduan antara kuning pucat yang lembut dan oranye yang dalam, tanpa matahari yang terlihat secara fisik. Tidak ada jam dinding di sini. Di tempat ini, waktu telah kehilangan otoritasnya untuk mendikte apa pun; jam-jam tidak lagi memiliki detak, dan menit-menit tidak lagi memiliki durasi.

"Kau datang tepat pada waktunya," sebuah suara menyapa dengan nada yang seimbang, seperti denting gelas kristal yang dipukul perlahan.

Kousuke berbalik. Di sebuah bangku kayu panjang yang catnya sudah mengelupas secara estetis, Hana duduk dengan tenang. Ia sedang melipat sebuah selimut wol tua yang berbau seperti matahari dan sabun batangan. Gerakan tangannya ritmis dan penuh konsentrasi, seolah-olah melipat selimut adalah tugas paling fundamental di seluruh alam semesta, sebuah tindakan yang menjaga keseimbangan galaksi agar tidak hancur berantakan. Di sampingnya, duduk seorang pria yang tampak jauh lebih muda dari sosok Takeo yang baru saja menghembuskan napas terakhirnya di dunia sana. Pria itu mengenakan kemeja putih bersih yang disetrika rapi, tanpa noda, dan sama sekali tidak membawa aroma cengkih yang menyesakkan atau bau rokok yang pahit. Ia sedang memegang sebuah tiket kereta api berwarna krem, membolak-baliknya dengan jemari yang tenang dan tidak lagi gemetar.

"Ayah?" Kousuke bertanya. Suaranya tidak lagi memiliki gema supernatural yang mengintimidasi atau nada dingin yang mampu membekukan air. Itu adalah suara seorang anak laki-laki yang baru saja pulang dari sekolah dan menemukan orang tuanya sedang menunggunya di beranda.

Takeo mendongak. Ia tersenyum—sebuah senyuman yang bebas dari karat rasa bersalah, bebas dari obsesi angka-angka lotere yang kejam, dan bebas dari amarah yang meledak-ledak. "Keretanya sebentar lagi sampai, Kousuke. Aku baru saja memeriksa jadwalnya dengan teliti. Ternyata, tidak ada angka yang perlu dihitung di sini. Semuanya datang pada saat yang seharusnya, tanpa perlu kita paksa."

Kousuke mendekat dan duduk di bangku kayu itu, di antara ayah dan ibunya. Ia merasa tubuhnya kini benar-benar padat secara eksistensial, namun bukan kepadatan daging dan tulang yang berat dan penuh gravitasi, melainkan kepadatan dari rasa damai yang telah lama hilang dari kamus hidupnya. Ia merasa seperti sebuah buku yang akhirnya menemukan sampulnya kembali.

Lihat selengkapnya