Suara televisi dan mesin jahit saling tumpang tindih di ruang tamu. Flara sibuk duduk di kursi tempat ibunya bekerja. Acara televisi tidak lagi menjadi tontonannya, melainkan seperti ia yang ditonton oleh benda berbentuk persegi panjang tersebut. Flara fokus menjahit seprai pesanan pelanggan Afei, tak sadar bahwa televisi yang dibiarkan menyala itu bisa saja membengkakkan tagihan listrik mereka.
Meski statusnya pengangguran, Flara tidak mempunyai waktu untuk menganggur. Di rumah, sebisa mungkin ia membantu sang Ibu, mulai dari membersihkan rumah sampai mengurus jasa jahit-menjahit. Flara tidak pandai membuat baju. Ia tidak bisa membuat potongan pola baju. Daripada mengacaukan pekerjaan Afei, Flara memilih untuk menjahit seprai.
Kali ini, suara Brandy dan Wanya Morris yang melantunkan lagu “Brokenhearted” terdengar nyaring dari ponsel Flara, dan langsung mengalihkan perhatian wanita muda itu. Meninggalkan pekerjaannya yang hampir selesai, Flara bangkit dan mengambil beberapa langkah. Ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja ruang tamu. Flara mengernyit tatkala menatap layar ponsel. Ia seperti mengenali deretan angka yang tertera di sana. Tanpa berlama-lama lagi, ia mengangkat panggilan tersebut.
“Selamat siang. Iya, betul dengan saya sendiri. Apa? Saya diterima kerja jadi asisten manajer? Ma-maaf, Ibu tidak salah orang, ‘kan?”
Flara meletakkan tangan kiri di pinggang. Ia mengigit bibir bawah sembari berjalan mondar-mandir di ruang tamu seperti setrika baju, tapi tetap mendengarkan si Penelepon dengan penuh minat. Kerutan dahi dan senyum kecil menandakan bahwa ia bingung sekaligus merasa senang. “Baik, Bu. Terima kasih banyak. Saya akan bekerja keras. Sekali lagi, terima kasih.”
Ia mendekap ponselnya di depan dada sembari merekahkan senyum, menutup mata, dan mengucap syukur kepada Tuhan dalam hati. Flara pikir sebuah keajaiban baru saja menerpanya. Ia diterima kerja sebagai asisten manajer, jabatan yang lebih tinggi daripada jabatan yang ia lamar sebelumnya. Flara menjadi penasaran mengapa dirinya justru direkrut sebagai asisten manajer. Namun, terlepas dari rasa penasaran tersebut, Flara jauh lebih memikirkan bagaimana cara ia membuktikan bahwa dirinya memang layak untuk menempati posisi tersebut.
Flara melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tanpa memudarkan sedikit pun senyum yang terpatri pada bibir mungilnya. Ketika semua seprai buatannya telah jadi, Flara menganggkat kedua tangannya tinggi-tinggi, merenggangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
Pagar rumah yang usang dimakan karat pun berderit. Dengan tidak sabaran, Flara melompat dan berlari menyambut sang Ibu yang baru saja pulang setelah berkeliling pasar menjajakan kue bakpao-nya.
“Kenapa, Fla? Kok kamu kayak senang begitu?” tanya Afei, tatkala Flara merampas keranjang kue dan mengaitkan lengannya pada lengan Afei sembari tersenyum manis. Dengan girang seperti anak kecil yang baru saja mendapat hadiah kembang gula, Flara menuntun Afei untuk masuk ke dalam rumah.
“Oh, pasti lagi jatuh cinta, ya?” terka Afei sembari mengerling nakal.
Senyum Flara tenggelam. Ia melepas gandengan tangannya, merengut dan segera mengelak, “Nggak, kok, Ma! Sejak kapan Flara bicara soal cinta?”
“Oh, baik, baik. Kalau begitu, kenapa barusan kamu senyum-senyum?” tanya Afei lagi yang melepas lelah di kursi, sedangkan yang diajak bicara malah bersandar pada kusen pintu masuk dengan raut wajah yang tidak mudah ditebak.
Flara menegakkan tubuhnya serta menatap Afei dengan mata berbinar. “Ma …, mulai besok anak Mama jadi asisten manajer. Flara diterima kerja, Ma!” serunya antusias. Dagangan ibunya ia letakkan di meja. Flara menghambur duduk di sebelah Afei. “Ma, nanti Flara bisa nabung dan kita bisa pergi ke luar negeri, atau membeli rumah di Bali, atau jalan-jalan, atau belanja baju yang banyak.”
Sang Ibu senang mendengar kabar baik tersebut. Jari-jemari Afei menyelipkan helaian rambut Flara ke daun telinga. Ia menatap lekat perempuan muda itu. “Mama senang sekali anak mama bisa jadi asisten manajer. Bekerjalah dengan hati kamu, Fla.”
Flara mengangguk dan menyunggingkan senyum. Afei pun membawa Flara ke dalam dekapan. Aroma kolonye khas bayi menyengat indra penciuman. Wangi tubuh Flara yang selalu Afei suka. Ia sadar bahwa purti bungsunya sudah dewasa. Setelah Florence—anak sulungnya—menikah, Afei juga tahu bahwa kelak Flara akan meninggalkannya juga—entah untuk menikah, atau mewujudkan cita-cita.
Di zaman modern ini, rasanya sudah biasa orang-orang meninggalkan kampung halaman dan berpergian jauh ke luar kota, bahkan bertualang ke luar negeri untuk mencari pengalaman dan ilmu. Afei tidak mungkin mencegah Flara untuk berpergian jauh hanya karena ia tidak ingin hidup berjauhan dengan perempuan itu. Terlalu egois bila ia melarang Flara, sementara Afei sendiri tahu jika Flara adalah seorang pemimpi. Wanita muda itu sudah banyak berbagi cerita mengenai cita-citanya. Dan Afei tak ingin menghancurkan mimpi-mimpi Flara dengan sebuah alasan klise.
= = =
Pintu bus terbuka dan Flara melangkah keluar berbarengan dengan orang-orang yang juga turun di Halte Karet Kuningan. Penampilannya seperti seorang profesional. Kemeja biru langit, rok serta blazer berwarna biru dongker. Seperti biasa, rambut panjangnya ia kepang dua, lalu ia cepol agar rapi dan tidak menghambat pekerjaan. Ketimbang menorehkan lipstik merah, Flara lebih memilih untuk menggoreskan lipstik oranye pada bibir mungilnya di hari pertama ia bekerja. Tingkat kepercayaan diri Flara pun tampak meningkat. Hal itu terlihat dari cara wanita muda tersebut berjalan—tegap dan penuh ketegasan.