Di lantai paling atas gedung kaca ini, laut sudah tidak lagi biru. Ia hanya deret angka di laporan kuartalan: traffic wisata, okupansi hotel, konversi kampanye digital, Return on Investment dari setiap matahari terbenam yang kami jual dalam paket “eco-tourism berkelanjutan”.
Aku duduk di ruang rapat yang terlalu dingin, di kursi ergonomis yang katanya dirancang untuk menopang punggung para pengambil keputusan. Di meja, ada tiga hal: laptop tipis, kopi hitam yang rasanya seragam di semua kota, dan proposal akuisisi kecil-kecilan yang akan mengubah hidup seseorang tanpa ia sadari.
Namanya bukan Arkan. Sudah lama bukan. Di dokumen ini, dia cuma “Key Local Partner” yang resistensinya terhadap proyek dinilai tinggi, tapi potensi pengaruh sosialnya lebih tinggi lagi. Di catatan kaki, analis ku menulis: “Emosional, idealis, namun lelah. Bisa dinegosiasi lewat keluarga.”
Aku menandai tiga kata itu. Emosional. Idealis. Lelah.
Tiga kata yang dulu mungkin bisa menuliskan aku di umur tujuh belas. Sekarang, mereka hanya indikator risiko.
Di layar, grafik naik-turun tampak indah, seperti garis pantai yang pernah kami susuri dengan motor butut, berdua, sebelum aku mengerti bahwa setiap tikungan aspal mulus di Belitung dibayar dengan lubang-lubang tua di perut pulau—lubang yang mirip sekali dengan apa yang ditinggalkan orang-orang di dalam diriku.
“Bu Dinda,” suara sekretarisku memecah ruang. “Deck untuk Cangkang Alpha sudah di-email ke Ibu. Alika juga sudah konfirmasi siap join full time minggu depan.”
Alika. Nama itu lewat di kepalaku seperti notifikasi yang sengaja tidak kubuka. Adik seseorang. Seseorang yang dulu pernah berdiri di bawah tiang bendera, kulitnya tan, matanya sipit, dan baunya—aneh sekali memori ini—campuran garam laut dan minyak kelapa murah.
“Baik,” kataku. Satu kata. Hemat bicara. Seperti seseorang yang dulu kutertawakan lewat omongan sepupunya.
Aku mematikan layar sejenak. Di balik kaca, langit Jakarta berwarna abu-abu mahal—jenis abu yang tidak pernah muncul di katalog cat, tapi selalu hadir di kota yang menjual mimpinya per meter persegi. Di bawah sana, uang mengalir seperti sungai: bersih di permukaan, keruh di dasar. Papa selalu bilang, “Kamu harus belajar berenang di dua lapisan itu, Din. Di atas tampak suci, di bawah tetap kotor. Yang penting jangan tenggelam.”
Aku tidak tenggelam. Aku belajar menyelam. Aku belajar membeli perahu orang lain ketika mereka kelelahan mendayung.