BAB 1 — Hari Pertama Aku Jadi "Dinda"
Hari itu panasnya aneh, seperti wajan raksasa menelungkup di atas pulau, dan kami semua digoreng pelan-pelan di lapangan upacara SMA yang terlalu mulus untuk desa yang masih bau tanah basah dan lada hitam baru dipetik. Seragam putih abu-abu menempel di kulitku, lengket, tapi Papa akan marah kalau aku mengeluh, jadi aku hanya menggenggam ujung rokku erat-erat, pura-pura gadis Melayu yang manis dan tahan segala.
Namaku dipanggil “Dinda Maharani Hartono” dengan suara guru BK yang berusaha terdengar ramah, tapi matanya otomatis bergerak ke sepatu putihku yang kebanyakan dipakai anak kota, lalu ke jam tangan yang Mama bilang jangan terlalu sering kau angkat-angkat tangannya, Din, nanti dibilang pamer. Nama itu panjang, seperti jalan hidup yang sudah direkayasa orang lain: Maharani dari Mama, Melayu—halus, penuh basa-basi; Hartono dari Papa, Hakka—pendek, padat, seperti angka di laporan keuangan. Aku berdiri di tengah dua dunia yang saling melirik, saling menilai, dan pura-pura rukun setiap kali ada acara “Sepintu Sedulang” di kampung.
Hari pertama SMA, aku berharap hanya perlu memikirkan hal-hal sepele: apakah poni ini terlalu lurus, apakah teman sebangkuku nanti wangi atau bau bedak murahan, apakah aku akan punya sahabat yang bisa kutitipi rahasia tanpa bocor ke WA grup keluarga. Ternyata Tuhan—atau siapa pun yang mengatur logistik drama di pulau kecil ini—memberiku sesuatu yang lebih rumit: sepasang mata sipit yang bukan milik keluargaku, berdiri di seberang lapangan, di bawah tiang bendera.
Arkan, dan wajah yang tidak seharusnya ada di sana
Aku melihatnya sebelum tahu namanya. Dia tidak seperti cerita sinetron: tidak ada slow motion, tidak ada angin sakti yang tiba-tiba membuat rambutku berkibar dramatis. Yang ada hanya silau matahari yang memantul di kulitnya yang terbakar matahari, dan garis rahang yang terlalu tegas untuk disebut “cowok kampung biasa”.
Dia tinggi, tegap, seragamnya sedikit pudar seperti sudah dicuci terlalu sering di sungai, bukan di mesin cuci front loading seperti di rumahku. Tapi di wajahnya ada sesuatu yang familiar: mata sipit itu. Bukan sipit manja ala filter foto, tapi sipit yang menatap lurus, seperti orang yang sudah terlalu sering menantang ombak dan bosan ditakut-takuti.
Aku tahu bentuk mata itu. Aku melihatnya tiap kali menatap cermin di rumah batu milik Papa—rumah Hakka yang dingin, dengan jendela kecil dan pintu berat yang selalu terasa sedikit tertutup bahkan ketika terbuka. Bedanya, di wajahku mata sipit itu dibingkai kulit yang lebih terang dan alis yang rutin dirapikan diam-diam oleh Mama. Di wajahnya, mata sipit itu dikelilingi kulit tan, garis-garis halus di sudutnya, tanda terlalu sering disipitkan karena silau laut.
Ada kalimat yang pelan-pelan menyusun dirinya sendiri di kepalaku:
Dia campuran. Sepertiku. Tapi campurannya salah kelas.
Saat itu, aku belum tahu namanya Arkan Mahesa Malim. Belum tahu dia tinggal dekat dermaga, bahwa tangannya kapalan, bahwa bajunya sering bau garam dan minyak kelapa—bau yang kelak jadi aromaterapi paling efektif untuk jantungku yang terlalu ambisius. Yang kutahu hanya satu hal: di tengah lautan wajah Melayu di lapangan itu, ada satu wajah yang seharusnya duduk di meja makan keluargaku, tapi entah kenapa malah berdiri di barisan anak nelayan.
Asro, pengumum tak resmi takdir