Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #3

Rumah Batu, Rumah Kayu

BAB 2 — Rumah Batu, Rumah Kayu

Rumah kami dibangun untuk tidak terlihat, di tengah kota yang justru memuja penampilan.

Bukan dalam arti buruk — Papa tidak pernah melakukan sesuatu "dalam arti buruk". Rumah itu besar, dua lantai, di area prestisius Tanjungpandan yang dekat dengan Hotel Billion dan bekas Societet Belanda. Pagar besi tinggi dengan teralis rapat — decorative, kata Papa, padahal aku tahu artinya batas. Dan pintu utama, kayu meranti gelap berlapis cat cokelat tua, selalu ditutup penuh kecuali ada tamu yang sudah dijadwalkan.

Rumah yang memberi tahu dunia: kami ada, kami cukup besar, tapi kau tidak perlu tahu isi dalamnya.

Konsep yang aku pelajari jauh sebelum ada yang menjelaskannya padaku secara eksplisit.

Mama sering bilang rumah ini sejuk. Memang — lantai granit abu-abu memancarkan dingin sepanjang hari, dan AC split di setiap ruangan dipasang dengan asumsi bahwa tidak ada yang boleh berkeringat di rumah Hartono. Tapi ada jenis dingin lain yang bukan dari temperatur. Dingin yang ada di cara ruang tamu ditata: sofa kaku menghadap ke depan, meja tamu dengan tatakan gelas kristal, foto keluarga resmi berbingkai emas di dinding — semua berjarak, semua menghadap arah yang sama, seperti orang yang antri di bank.

Ruang tamu kami bukan tempat duduk. Itu yang aku sadari pertama kali setelah pulang menginap di rumah Mak Ngah, saudara Mama di ujung kampung. Di sana, ruang tamunya adalah tumpukan bantal berlapis sarung batik lusuh, kipas angin kecil yang berputar bising, dan dua ekor kucing yang terselip di paling pojok tanpa ada yang mengusirnya. Terasa tidak rapi. Terasa dihuni.

Di rumah kami, tamu yang benar-benar diterima masuk ke dalam. Yang lainnya berhenti di depan pagar.

Malam setelah hari pertama SMA, Mama dan Papa makan malam di ujung meja yang berbeda.

Bukan karena bertengkar. Ini bukan keluarga yang bertengkar dengan keras — kami bertengkar dengan jarak, dengan senyum tipis yang tidak mencapai mata, dengan pertanyaan yang sudah bisa kau prediksi jawabannya sebelum mulai ditanya. Ujung meja Papa: laporan, HP yang vibrasi setiap sepuluh menit, dan potongan babi merah, char siu, yang dipesannya khusus dari warung Kong Djie. Ujung meja Mama: nasi kuning dengan lauk ikan selar goreng dan sambal belacan, serta kabar-kabar tentang keluarga besarnya yang datang lewat percakapan telepon yang ia lakukan sambil memasak tadi.

Aku di tengah, seperti biasa. Penerjemah dua dunia tanpa kontrak.

"Tadi Ada telpon dari Bibi Noni," kata Mama kepada ruang makan secara umum. "Kakak Zarimuddin mau ke Sijuk minggu depan buat urus tambang. Dia bilang mau mampir ke sini dulu di Tanjungpandan."

Papa tidak mengangkat kepala dari HP-nya. "Zarimuddin mana?"

"Anak Paman Harun. Sepupu jauh aku itu, yang PNS di Belitung Utara. Kantornya di sini di Tanjungpandan, tapi aslinya mereka dari arah sana."

Secara teknis ini bukan pertanyaan yang butuh tanggapanku. Tapi aku belajar cepat bahwa di meja makan keluarga Hartono, diam adalah konfirmasi.

"Oh." Papa akhirnya menjawab. Kembali ke HP.

Mama mengambil ikan selar paling besar dan meletakkannya di piring Papa tanpa diminta. Kebiasaan yang sudah di luar kesadaran. Papa tidak mengucapkan terima kasih — bukan karena tidak sopan, tapi karena di dunianya, hal-hal yang seharusnya terjadi tidak perlu dikomentari.

Lihat selengkapnya