Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #4

Nama di Lapangan, Nama di Silsilah

BAB 3 — Nama di Lapangan, Nama di Silsilah

Ada jenis perempuan yang menunggu takdir datang menjemput.

Aku bukan itu.

Tapi pagi itu, aku membohongi diri sendiri dengan kalimat: aku cuma berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat karena jalanan macet.

Padahal Tanjungpandan bukan kota yang macet. Seumur masakku, aku belum pernah terlambat karena jalanan.

Aku berangkat lebih pagi karena tahu — berdasarkan tiga hari pengamatan tanpa izin — bahwa ada orang tertentu yang selalu tiba di sekolah sebelum bel, duduk di tangga perpustakaan sambil baca sesuatu yang bukan buku pelajaran, dan tidak akan ada lagi di sana persis satu menit setelah bel berbunyi. Hilang ke kelasnya seperti ia datang: tanpa banyak suara.

Aku bukan menunggu. Aku hanya kebetulan ada di sana juga.

Yang datang duluan, ternyata, adalah Asro.

Dia duduk di tangga itu, sendirian, sedang memakan risol yang dibungkus plastik dan kelihatannya sudah dingin. Saat aku muncul, dia langsung melambaikan tangan seperti kami ini teman lama.

"Adek kelas!" serunya. "Kamu juga tau ya, perpustakaan sebelum bel itu surga?"

Aku menghentikan langkah. "Emang ada yang lain biasanya di sini?"

"Ada." Dia mengangkat alis. Satu kata. Tapi cara dia mengatakannya sambil mengunyah risol membuat artinya jelas sekali siapa ada yang dimaksud.

Aku duduk di tangga dua tingkat di bawahnya. Memilih jarak yang tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat — proporsional.

"Sepupumu nggak datang pagi ini?" aku bertanya, pura-pura asal saja.

Bibir Asro melengkung. Kali ini sambil mengunyah. "Tiga hari kamunya ngamatin, baru sekarang nanya."

Aku tidak membalas.

Asro tertawa pendek. "Santai. Aku nggak bisa marah. Kalau aku jadi cewek dan ada yang se-striking Arkan, aku juga bakal tiga hari ngitung jadwalnya."

"Aku tidak mengitung jadwalnya."

"Oke." Dia tidak terdengar percaya.

Lihat selengkapnya