Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #5

Kongsi, Palet, dan Lubang

BAB 4 — Kongsi, Palet, dan Lubang

Kalau ingin membuat Kong Kong bercerita, caranya satu: tunggu sore, bawa teh, dan jangan tanya dulu.

Pertanyaan langsung membuat Kong Kong mendengus dan mengalihkan pandangan ke koran Hakka-nya. Tapi kalau kamu duduk di dekatnya, cukup dekat untuk ia tahu kamu ada, dan cukup diam untuk ia tahu kamu tidak ingin gangguin — maka dalam lima sampai dua belas menit, sebuah kalimat akan muncul. Tidak diawali, tidak ditandai. Langsung saja masuk ke tengah cerita, seolah percakapan ini baru jeda, bukan baru dimulai.

Sore itu, kalimat yang muncul adalah:

"Kong Kong dulu pikir timah itu seperti emas. Baru tahu nanti, timah itu lebih berat."

Kakek buyutku naik kapal dari Guangdong pada tahun yang Kong Kong tidak ingat persis tapi selalu bilang "setelah perang, sebelum kemerdekaan" — rentang waktu yang cukup kabur untuk mengakomidir ketidakpastian, tapi cukup nyata untuk memberi bobotnya sendiri.

Kapalnya kecil. Penumpangnya terlalu banyak untuk ukuran kapal itu. Dan dari antara mereka — buruh kontrak, pedagang kecil, orang yang kabur dari utang, orang yang diajak oleh kerabat tanpa mengerti tujuannya — keluarga buyutku adalah salah satu dari yang punya sedikit lebih banyak modal awal: dua peti barang, satu kemampuan berhitung yang baik, dan koneksi ke salah satu towkay yang sudah lebih dulu ada di Belitung.

"Di sini dulu ada tiga kongsi besar," kata Kong Kong. "Fat Hin, Sung Hin, Sam Bong. Semuanya punya area tambang sendiri. Punya aturan sendiri. Punya orang sendiri."

Aku tahu kata kongsi dari percakapan-percakapan yang seperti udara di rumah ini — selalu ada, tapi tidak selalu diperhatikan. Tapi baru malam itu, duduk di beranda dengan teh di tangan dan sisa cahaya sore yang oranye-kemerahan di ujung atap tetangga, aku benar-benar mendengarkan.

"Kongsi itu seperti negara kecil," lanjut Kong Kong. Jari telunjuknya mengetuk meja rotan di sampingnya — ritme yang aku hafal sejak kecil, tanda dia sedang merumuskan sesuatu. "Punya hukumnya sendiri. Siapa masuk, siapa boleh dapat bagian, siapa harus pergi kalau tidak mau taat."

"Kakek buyut masuk kongsi mana?"

"Fat Hin." Satu kata. Tapi ada sesuatu di cara Kong Kong mengucapkannya — bukan bangga, bukan malu. Sesuatu di antara keduanya. Seperti orang menyebut nama kampung halaman yang sudah tidak bisa dikunjungi lagi tapi masih meninggalkan rasa di lidah.

Yang aku tidak tahu sebelum malam itu — yang tidak ada di versi cerita yang biasanya beredar di meja makan — adalah tentang palet.

Palet, dalam sistem kongsi tambang, bukan sekadar tempat barang. Palet adalah unit sosial. Tempat tinggal sekaligus tempat kerja sekaligus identitas. Puluhan orang tinggal dalam satu rumah panjang yang disebut palet, di bawah satu mandor kongsi, dengan aturan yang tidak tertulis tapi ditegakkan oleh sesuatu yang lebih efektif dari hukum: rasa malu dan ketergantungan.

Lihat selengkapnya