BAB 5 — Islam di Kolom, Bukan di Dada
Di KTP keluargaku, kolom agama diisi: Islam.
Ini bukan kebohongan. Ini juga bukan sepenuhnya kebenaran. Ini adalah keputusan.
Keputusan yang dibuat beberapa generasi lalu oleh seseorang yang mungkin tidak terlalu berbeda dengan kakek buyutku yang naik kapal dari Guangdong: orang yang melihat peta, menghitung angka, dan menyimpulkan bahwa untuk tinggal di tanah ini dengan nyaman — untuk bisa membeli lahan, untuk bisa menikahi perempuan lokal, untuk bisa berdagang tanpa gesekan yang tidak perlu — ada hal-hal yang harus disesuaikan.
Kong Kong tidak pernah bicara langsung tentang ini. Papa juga tidak. Tapi aku tumbuh dengan memahaminya seperti aku memahami gravitasi: tidak pernah dijelaskan, tapi selalu bekerja.
Idul Fitri di rumah Hartono adalah produksi.
Bukan ibadah — atau lebih tepatnya, bukan hanya ibadah. Ini adalah acara sosial tingkat tinggi yang kebetulan dimulai dengan salat.
Mama bangun subuh untuk masak: rendang daging yang sudah dimarinasi dua hari, ketupat yang dibungkus sendiri karena katanya "beli jadi rasanya beda", sambal nanas, semur jengkol yang papa diam-diam suka walaupun tidak mau mengakuinya. Rumah jadi panas dan harum. Kong Kong duduk di kursi rotannya dengan baju koko putih yang hanya dikeluarkan dua kali setahun — Idul Fitri dan kalau ada kondangan penting. Papa sudah mandi dan pakai baju koko hijau lumut yang Mama pilihkan, mengecek HP sambil menunggu waktu berangkat.
Aku sendiri memakai baju kurung Mama yang dijahit ulang — warna biru tua, kain voal yang terlalu panas untuk cuaca Belitung tapi tampilannya bagus foto.
Salat Ied di masjid besar dekat alun-alun. Kami datang, kami berbaris, kami mengikuti gerakan yang aku hafal dengan otot lebih dari dengan hati. Papa salat dengan ekspresi yang sama dengan ketika dia rapat — fokus, tidak distraksi, efisien. Selesai tepat waktu. Kong Kong salat dengan lambat dan takzim, tapi aku tidak tahu apakah itu karena khusyuk atau karena lutut tuanya tidak bisa bergerak terlalu cepat.
Aku di antara keduanya. Seperti biasa.
Yang paling menarik bukan salatnya. Yang paling menarik adalah sesudahnya.
Sesudah salat, Papa berubah.
Bukan seutuhnya — tapi cukup terasa. Dia lebih banyak tersenyum. Lebih bersedia berhenti dan berjabat tangan. Dia memanggil orang-orang dengan sebutan "Pak Haji" dan "Bu Haji" dengan intonasi yang hormat dan familiar sekaligus, cara orang yang hafal protokol. Tiga atau empat orang mendatanginya dengan ekspresi yang artinya: ada yang perlu dibicarakan, tapi bukan sekarang, nanti. Papa mengangguk, membalas dengan senyum yang lebih kecil tapi lebih signifikan.