BAB 6 — Bahasa yang Tidak Sama
Aku tidak berencana duduk di meja yang sama dengannya.
Tapi kantin jam istirahat pertama itu sempit, dan satu-satunya bangku kosong ada di ujung meja panjang yang Arkan kebetulan duduki sendirian, membaca sesuatu — bukan buku pelajaran, lagi — sambil makan nasi bungkus yang rupanya dia bawa dari rumah.
Aku berdiri sebentar dengan nampan di tangan. Dia tidak melihat ke atas.
Ini bukan keheningan yang mengundang, pikirku. Tapi juga bukan keheningan yang melarang.
Aku duduk di ujung paling jauh dari mejanya. Jarak yang masih bisa disebut satu meja, tapi cukup sopan untuk tidak dianggap sengaja mendekat.
Dia tetap tidak melihat ke atas.
Dua menit berlalu. Tiga menit. Aku makan martabak telur yang seharusnya lebih enak dari ini, dan tanpa sengaja — benar-benar tanpa sengaja — menumpahkan sedikit kuah kari dari plastik kecilnya ke arah buku yang sedang dia baca.
Dia mengangkat kepala.
Kami menatap kecil kubangan kuning di sudut halaman bukunya secara bersamaan.
"Maaf," kataku cepat. "Aku ambilkan tisu—"
"Nggak papa."
Dua kata. Dia balik ke bukunya.
Tapi kemudian, tanpa menoleh: "Kamu dari Jakarta?"
Aku berhenti mengunyah.
"Kelihatan?"
Sekarang dia memandangku. Bukan seperti menilai — lebih seperti seseorang yang memverifikasi hipotesis yang sudah ada. "Cara ngomong. Terlalu netral."
"Netral?"
"Kayak presenter berita."
Aku tidak tahu harus tersinggung atau tertawa. Aku memilih tidak keduanya. "Aku lahir di sini. Tapi SMP di Jakarta, jadi—" aku mengangkat bahu.
"Oh." Dia kembali ke bukunya. Casually saja — bukan mengakhiri percakapan, hanya melanjutkan dua hal sekaligus.
Aku menatap nampanku. Terlalu netral. Dua kata yang terasa seperti diagnosis.
"Kamu bisa Melayu?" tanyaku setelah jeda yang agak terlalu panjang.