BAB 7 — Pulau di Kepalanya
Hujan di Belitung tidak memberi peringatan.
Tidak ada mendung yang membangun diri perlahan, tidak ada angin perintis yang datang lebih dulu untuk mengumumkan. Dia datang seperti seseorang yang sudah terlambat dan memutuskan tidak perlu lagi mengetuk pintu: tiba-tiba, penuh, dan langsung serius.
Kami berdua terjebak di teras luar perpustakaan.
Aku karena salah hitung — kukira bisa ke kantin dan kembali sebelum air datang. Arkan karena, katanya sambil menyimpan buku sketsa ke dalam tas dengan gerakan yang sudah terlatih, dia memang sering salah hitung soal ini. "Hujan di Belitung itu personal," katanya. "Nggak bisa diprediksi pake logika."
Kami berdiri di tepi teras dengan jarak yang sopan, menatap halaman sekolah yang dalam dua menit berubah jadi cermin air.
Hujan membuat orang bicara.
Aku sudah tahu ini dari berbagai teras dan halte dan jendela mobil. Ada sesuatu tentang suara air yang membuat percakapan terasa lebih aman — lebih tertutup, lebih privat, seperti semua kata yang keluar punya lapisan peredam.
Arkan yang mulai bicara. Dan sekali dia mulai, ternyata dia tidak berhenti dalam waktu yang lama.
"Bapakku dulu cerita," katanya, matanya di halaman yang banjir. "Waktu dia masih muda, nelayan bisa ke Pulau Lima kapan aja. Nggak ada yang namanya izin, nggak ada zona larangan. Mereka tau sendiri kapan boleh ambil dan kapan harus tunggu. Itu pengetahuan turun-temurun."
"Sekarang sudah berubah?"
"Sekarang ada yang mulai pasang batas." Suaranya datar, bukan marah — tapi ada berat di sana. "Bukan pemerintah. Tapi investor-investor yang datang, survei, terus tiba-tiba ada papan bertuliskan kawasan privat di tempat yang dulunya laut semua orang."
Aku diam mendengarkan.
"Karang di sekitar Pulau Lima itu..." dia berhenti sebentar, mencari kata. "Kamu pernah nonton dokumenter laut?"
"Sedikit."
"Ada ekosistem di sana yang belum banyak disentuh. Ikan-ikan yang di tempat lain sudah jarang, masih ada di sana. Penyu sisik masih bertelur di pantainya." Tangannya membuat gerakan kecil seperti menggambar sesuatu di udara — aku tidak langsung mengerti bentuknya tapi nanti aku ingat itu peta kasar Pulau Lima. "Itu bukan cuma pemandangan. Itu sistem yang sudah berjalan ribuan tahun tanpa campur tangan kita."