Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #9

Bunga Lada di Tangan

BAB 8 — Bunga Lada di Tangan

Aku tidak seharusnya ikut.

Yang terjadi adalah: Asro menyebut hari Sabtu pagi bahwa dia dan Arkan mau ke kebun lada milik Om Rusli di pinggir kota, dan dia menyebutnya dengan nada yang sama dengan ketika orang menyebut cuaca — tidak mengundang, tidak melarang, hanya menyatakan fakta kepada udara di sekitarnya.

Dan aku berkata, seperti orang yang baru saja mendengarkan dengan sangat seksama, "Oh, boleh aku ikut?"

Asro menatapku tiga detik. Lalu ke Arkan. Lalu kembali ke aku, dengan ekspresi yang bisa diterjemahkan sebagai tentu saja ini yang kamu rencanakan dari tadi.

"Tanya Arkan, bukan aku."

Arkan yang dari tadi berdiri setengah membelakangi kami, sedang menghabiskan sisa minum botolnya, menoleh sebentar.

"Boleh."

Satu kata. Seperti biasa.

Kebun Om Rusli itu bukan perkebunan besar. Lebih ke ladang rumah tangga yang sudah tiga generasi dirawat, di tanah merah laterit yang khas Belitung, dengan deretan tanaman lada yang dirajut ke tiang-tiang bambu setinggi dua meter. Dari jauh, pohon lada terlihat biasa saja — hijau, rindang, tidak dramatis. Tapi begitu masuk ke dalam deretannya, ada sesuatu yang berubah di udara.

Aroma itu.

Belum pernah aku cukup dekat dengan pohon lada yang sedang musim bunga untuk mengerti bahwa lada punya bau sendiri sebelum jadi bumbu dapur. Bukan aroma tajam yang aku kenal dari dapur Mama — ini lebih hijau, lebih basah, sedikit manis di ujungnya. Jenis bau yang membuatmu ingin berdiri sebentar dan menghirupnya sebelum bergerak lebih jauh.

"Kamu nggak pernah ke kebun lada?" tanya Asro, melihat aku berdiri diam di pintu masuk.

"Belum."

"Serius? Orang Belitung."

"Setengah," aku mengoreksi.

"Setengah yang mana?"

Pertanyaan yang selalu menarik untuk dijawab. "Tergantung harinya."

Asro tertawa. Arkan sudah lebih jauh ke dalam, berbicara dalam suara rendah dengan Om Rusli yang muncul dari balik deretan tanaman dengan topi lebar dan parang kecil di tangan.

Lihat selengkapnya