BAB 9 — Nama yang Tak Boleh Disebut
Belum ada yang menyebut nama Arkan di rumah ini.
Tapi nama itu sudah ada di rumah ini.
Ada di cara Mama menoleh sedikit lebih lama dari biasanya ketika aku pulang terlambat setelah study kelompok — yang dua minggu terakhir tidak sepenuhnya study kelompok. Ada di cara Papa meletakkan koran di meja makan dan berkata, tidak kepada siapa pun secara khusus, "Anak perempuan keluarga Hartono itu modalnya reputasi." Ada di cara Kong Kong tidak mengomentari apapun, yang paradoksnya adalah cara kong Kong berkomentar paling keras.
Nama Arkan tidak disebut. Tapi kehadirannya sudah terasa seperti kursi kosong yang semua orang lihat dan tidak ada yang mau duduki.
Yang menyulut semuanya adalah ketika Bibi Sari — bukan Sari keponakan Mama, tapi Bibi Sari yang rumahnya tiga blok dari sini dan tahu semua orang di radius dua kilometer — menelepon Mama di suatu sore Rabu untuk kabar biasa, lalu menyebut sesuatu yang entah kenapa didengarnya dari mana.
"Anak Hartono sering kelihatan ngobrol sama anak nelayan dari Suak Gual itu, ya?"
Aku tahu ini bukan karena mendengar langsung — aku tahu ini dari cara Mama memasak malam itu. Mama masak dengan terlalu banyak perhatian ke wajan. Jenis fokus yang bukan karena masakannya susah, tapi karena ada hal lain yang sedang dijaga supaya tidak tumpah.
Papa menunggu sampai makan malam selesai. Sampai piring-piring sudah di wastafel dan Kong Kong sudah balik ke kursi rotannya dan tinggal aku dan Papa di meja yang setengah bersih.
"Din," katanya, dengan nada yang dipakai untuk bisnis — bukan marah, tapi ada berat di sana. "Kamu masih ingat apa yang Papa bilang soal pergaulan?"
"Selevel," jawabku. Refleks.
"Selevel." Dia mengangguk. Satu kata yang dia kembalikan ke aku seperti dokumen yang baru saja ditandatangani. "Bukan soal orangnya, ya. Papanya kamu tahu baik atau nggak soal orangnya. Tapi ada alasan kenapa sistem bekerja seperti sekarang. Kamu jual reputasi keluarga ini sebelum kamu punya cukup umur untuk mengerti nilainya, Papa yang susah."
Aku mengangguk. Satu anggukan yang artinya aku mendengar, bukan aku setuju — tapi di meja ini kedua hal itu terasa sama dari luar.
"Ngerti?"
"Ngerti, Pa."
Papa berdiri, mengambil kopinya yang sudah dingin, pergi ke ruang kerja.
Selesai. Setidaknya di permukaannya.