BAGIAN II — LADA HITAM
BAB 10 — Pulang Bukan Berarti Kembali
Gate 7, Terminal 2, Soekarno-Hatta. Penerbangan CGK–TJQ, boarding dalam empat puluh menit.
Dan aku sudah tahu siapa saja yang akan pulang ke Belitung tanpa perlu melihat boarding pass mereka.
Ruang tunggu ini adalah pameran. Bukan pameran seni — pameran transformasi. Empat tahun yang lalu, ketika aku pertama kali terbang ke Jakarta untuk kuliah, ruang tunggu bandara hanyalah ruang tunggu: kursi, AC, pengumuman, jajanan overpriced. Sekarang, di penerbangan keempat atau kelima musim liburanku pulang — dan kali ini untuk PKL, tiga bulan penuh, bukan cuma dua minggu Lebaran — ruang tunggu ini berubah menjadi laboratorium antropologi kecil-kecilan.
Kelompok pertama: empat orang, tiga cewek satu cowok, duduk di deretan kursi dekat charging station. Sneakers putih, tas ransel branded yang sengaja dipakai dengan strap satu bahu supaya logonya kelihatan, dan percakapan yang bisa kudengar dari tiga baris kursi jauhnya.
"Lo udah bilang bokap belom? Gue sih udah bilang nyokap, tapi nyokap gue tuh—"
"—which is sebenernya gue juga agak males pulang, but like, kalo nggak pulang nanti drama—"
"—literally ya, literally gue tuh udah bilang—"
Elo. Gue. Which is. Literally.
Empat tahun lalu, aku mungkin mendengar percakapan ini tanpa reaksi — karena empat tahun lalu aku belum punya telinga yang bisa membedakan. Sekarang aku mendengarnya dengan jelas: ini bukan bahasa Jakarta. Ini bahasa anak pulau yang sudah beberapa tahun di Jakarta dan sedang, tanpa sadar, mempertunjukkan hasil transformasinya kepada sesama penumpang di Gate 7 seolah-olah ini audisi.
Yang menarik: dua dari empat orang itu, aku yakin, sepuluh hari lagi di Tanjungpandan akan kembali bicara Melayu kepada ibunya di dapur dan menyapa tetangganya dengan Assalamu' alaikum, nak ke mane? Dan bahasa elo-gue ini akan ditanggalkan seperti jaket musim dingin yang tidak berguna di pulau tropis.
Tapi saat ini, di Gate 7, jaket itu masih terpasang rapat.
Kelompok kedua: dua orang, duduk agak terpisah dari yang lain, lebih tenang. Yang satu pakai kemeja flanel yang sudah sering dicuci — warnanya pudar ke arah yang bisa dianggap vintage atau bisa dianggap memang sudah tua — dengan earphone kabel yang menjuntai dari leher. Yang satu lagi mengetik sesuatu di laptop dengan stiker band di penutupnya. Rambut agak gondrong, tas kanvas, sepatu tidak bermerek tapi terasa dipilih dengan sengaja.
Bandung. Atau Jogja. Batas antara keduanya kadang tipis, tapi ada satu penanda yang biasanya tidak meleset: anak Bandung cenderung bicara dengan lagu — naik turun, ada ritme Sunda yang tidak bisa hilang bahkan setelah bertahun-tahun — dan anak Jogja cenderung bicara lebih sedikit. Lebih pelan. Lebih sabar di jeda-jedanya. Ada semacam kesopanan yang bukan Belitung dan bukan Jakarta — khas orang yang hidup di kota yang masih menghormati keraton.
Yang dua ini tidak bicara elo-gue. Yang satu memanggil temannya mas, yang satu lagi menjawab dengan iya, kenapa. Tenang. Tidak perlu membuktikan apapun kepada ruang tunggu.
Aku memikirkan Arkan. Arkan yang pernah kuliah di Jogja — Tourism Management, dua tahun lebih awal dariku. Berapa lama dia bertahan di sana, aku tidak pernah benar-benar dapat angka pastinya karena setiap kali aku bertanya detail, dia mengalihkan pembicaraan ke proyek atau laut atau sesuatu yang lebih nyata dari jadwal kuliah. Yang aku tahu pasti: Arkan sudah kembali ke Belitung jauh sebelum aku sempat menyelesaikan semester empat, dan dia sudah membangun sesuatu yang tidak bisa diukur dengan transkrip nilai.
Lalu ada aku.
Aku duduk di antara dua kelompok itu — bukan secara harfiah, tapi secara metaforis ya. Sneakers, iya. Tapi bukan putih bersih — abu-abu, sudah agak kotor, dibeli di diskon akhir tahun di mall Blok M, bukan di flagship store Kemang. Rambut ditata, tapi bukan blow-dry salon — cuma dicatok pagi ini di kos karena aku tidak mau terlihat kusut saat Mama menjemput. Bahasa elo-gue, kadang, tapi sudah mulai sadar untuk menghentikannya sebelum keluar mulut — karena ada satu momen memalukan di Lebaran tahun kedua yang mengajariku pelajaran itu.
Lebaran tahun kedua. Satu setengah tahun yang lalu. Aku pulang dengan dua koper dan satu mulut yang tanpa sadar sudah mengadopsi cara Jakarta berbicara. Di meja makan, di depan Mama dan Papa dan Kong Kong dan dua tante dari pihak Mama, aku bercerita tentang kampus dan menjatuhkan kata gue di tengah kalimat.
"— terus gue bilang ke dosennya—"
Semua terdiam. Bukan diam yang dramatis — diam yang lebih buruk dari itu: diam yang menunggu. Mama melihatku. Kong Kong tidak melihatku, yang biasanya berarti dia sedang melihatku dengan sangat keras.
Papa yang bicara duluan: "Siapa gue?"
Dan aku, detik itu, ingin menelan lidah sendiri.
Sejak Lebaran itu, aku belajar. Bukan belajar membuang bahasa Jakarta — karena di Jakarta aku tetap butuh bahasa elo-gue untuk bertahan hidup sosial di kampus — tapi belajar menyimpan bahasa itu di saku yang tepat dan mengeluarkannya hanya di ruangan yang tepat. Code-switching. Alat yang sama yang dulu Arkan kuasai antara Melayu, Hakka, dan Inggris sejak aku mengenalnya — yang aku baru mengerti setelah empat tahun dan satu insiden meja makan.
Boarding dimulai.
Aku berdiri, merapikan tas, dan bergabung dengan antrean. Di depanku, kelompok elo-gue masih ribut — sekarang tentang siapa yang duduk di window seat. Di belakangku, dua anak Jogja/Bandung masuk antrean tanpa suara.
Pesawat jet. Boeing 737 yang berjajar tiga-tiga, bukan propeller kecil seperti cerita orang-orang tua tentang penerbangan Belitung di masa lampau. Rute ini sudah lama naik kelas — Garuda, Lion, Nam Air, semua pakai jet sekarang. Satu jam lebih sedikit dari Jakarta. Cukup singkat untuk tidak sempat tidur tapi cukup lama untuk memikirkan banyak hal.
Aku duduk di 14A. Window seat. Di bawah, setelah empat puluh menit, laut berubah dari abu-abu Jakarta ke biru-hijau yang semakin dangkal, semakin jernih, semakin Belitung.