# BAB 10 Part 2 — Resolusi Kong Djie
Kong Djie pagi adalah Kong Djie terbaik.
Kopi yang diseduh dalam teko besar oleh orang yang sama sejak aku masih harus didudukkan di pangkuan Kong Kong untuk bisa lihat counter. Roti bakar mentega-selai nanas yang aromanya menyebar ke setengah ruangan. Meja kayu yang permukaannya sudah tidak rata karena belasan tahun gelas kopi ditaruh di tempat yang sama. Di Jakarta, kedai kopi punya estetika: exposed brick, playlist lo-fi, barista yang hafal pesananmu dan menuliskan namamu di cup. Di Kong Djie, estetikanya adalah kopi tubruk yang rasanya tidak berubah sejak Kong Kong masih muda, dan kalau kamu minta cup untuk ditulis nama, Bang Roy di counter akan melihatmu seperti kamu baru saja berbicara bahasa asing.
Aku datang terlalu awal. Tentu saja.
Memesan kopi — dan menahan diri untuk tidak berkata "Kopi hitam, no sugar." Ganti: "Kopi tubruk satu, Bang. Gula sedikit." Bang Roy di counter menuang tanpa menoleh. Tidak ada small talk. Tidak ada receipt. Kopimu sudah di depan sebelum kamu selesai duduk.
Aku memilih meja dekat jendela. Bukan karena pemandangan — pemandangan dari jendela Kong Djie adalah jalan raya dan deretan motor dan kadang satu truk lewat. Aku memilih meja dekat jendela karena dari sini aku bisa melihat pintu masuk.
Dan aku ingin melihat dia duluan.
Dia datang jam delapan lewat sepuluh.
Dan hal pertama yang aku pikirkan bukan dia tampan atau aku kangen. Yang pertama kali masuk ke kepala, secepat cahaya menghantam retina sebelum otak sempat menyusun interpretasi, adalah:
Dia bukan lagi orang yang sama.
Bukan berbeda kecil. Berbeda seperti foto yang sama tapi resolusinya naik — semua detail yang dulu samar sekarang tajam. Arkan yang aku temui di Lebaran empat bulan lalu sudah terlihat berubah, tapi sekarang perubahannya lebih tegas. Seolah-olah beberapa bulan terakhir adalah finishing yang menajamkan semua garis yang sebelumnya masih kasar.
Tangannya lebih kapalan. Aku bisa lihat dari cara dia menarik kursi — jari-jari yang gelap di buku-bukunya, warna dari kerja fisik yang rutin: tali jaring, gagang cangkul, kayu perahu. Bahunya lebih lebar, kaos oblong abu-abu yang sudah pudar di kerahnya, celana kerja dengan noda tanah di lutut, sandal jepit. Rambutnya dipotong pendek. Praktis, bukan gaya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda dari "berubah secara fisik." Ada sesuatu di cara dia masuk ke Kong Djie. Cara dia mengangguk ke Bang Roy di counter — bukan sapaan tamu, tapi sapaan orang yang datang setiap pagi. Cara satu bapak di meja pojok mengangkat tangan dan Arkan membalas dengan anggukan singkat. Cara dia berjalan di antara meja-meja dengan tubuh yang mengatakan tempat ini mengenalku, dan aku mengenal tempat ini.
Arkan sudah menjadi seseorang di sini. Bukan hanya anak nelayan dari Suak Gual yang wajahnya Hokkien — sekarang dia orang yang dikenal, punya tempat. Side event G20 tahun lalu, meski dia cuma supir travel, sudah memberinya kontak-kontak yang tidak dimiliki siapa pun di desa itu. Seminar pariwisata kabupaten yang videonya pernah dikirim Asro ke grup — Arkan berdiri di depan, bukan sebagai akademisi, tapi sebagai orang lapangan yang punya data dan punya bahasa untuk menyampaikannya. POKDARWIS Suak Gual yang pelan-pelan mulai didengar pemda. Semua itu sudah membentuk semacam armor yang tidak kasat mata tapi terasa: Arkan bukan lagi orang yang perlu diperkenalkan. Dia yang memperkenalkan.
Mata sipit Hokkien-nya menatapku sekarang — dan untuk pertama kalinya, aku merasa aku yang sedang dinilai, bukan dia.
"Din."
"Arkan."
Dia duduk. Kopi datang tanpa dia memesan — Bang Roy di counter sudah tahu. Dan untuk beberapa detik, tidak ada yang bicara.
Kami bicara. Tentang hal-hal kecil dulu — kopi, cuaca, musim hujan yang telat, harga ikan yang naik. Jembatan-jembatan kecil sebelum menyeberang ke tempat yang lebih dalam.
Lalu aku bertanya tentang Jogja. Aku selalu bertanya tentang Jogja — bukan karena aku benar-benar ingin tahu tentang Jogja, tapi karena Jogja adalah salah satu dari sedikit topik yang aku miliki bersama Arkan selain Belitung. Kami berdua pernah di Jawa. Kami berdua pernah merantau. Hanya saja, caranya kembali sangat berbeda.
"Jogja gimana?"
Sesuatu berubah di wajahnya. Bukan drastis — Arkan bukan tipe yang menunjukkan perubahan dengan cara dramatis. Lebih ke penutupan. Seperti jendela yang digeser satu sentimeter ke arah tertutup.
"Selesai," katanya. Satu kata.
"Selesai gimana?"
"Selesai urusannya di sana." Dia mengambil kopinya. Minum. Meletakkan gelas. "Aku sudah dapat yang aku butuhkan. Sisanya aku pelajari sendiri."
"Tapi—"
"Din." Dia menatapku. Bukan tatapan marah atau defensif — lebih ke tatapan seseorang yang sudah memutuskan bahwa topik ini punya batas dan batasnya ada di sini. "Yang penting sekarang di sini. Kerjaan di sini. POKDARWIS, LSM, nelayan — itu yang nyata."
Aku menyimpan pertanyaan.
Tapi aku mencatatnya. Secara mental. Arkan tidak bilang lulus. Tidak bilang wisuda. Dia bilang selesai urusannya. Dan ada perbedaan yang sangat besar antara selesai dan lulus.
Yang aku tidak bisa mengerti waktu itu — yang baru masuk akal nanti, jauh setelah semuanya pecah — adalah paradoks Arkan: bagaimana seseorang bisa ngobrol bahasa Inggris dengan delegasi asing dari kursi sopir travel, dihormati di seminar kabupaten, dikagumi nelayan di desanya, dan pada saat yang sama tidak punya gelar. Bagaimana semua pencapaian itu bisa berdiri tegak di atas fondasi yang Arkan sendiri tahu retak.
Tapi itu nanti. Saat ini, di Kong Djie pagi ini, yang aku tahu hanyalah bahwa Arkan tidak mau bicara tentang Jogja, dan aku tidak tahu apakah itu karena Jogja tidak penting baginya, atau justru terlalu penting — terlalu menyakitkan — untuk dijadikan bahan obrolan ringan di atas kopi tubruk.
Asro datang jam sembilan, seperti cuaca buruk yang tidak bisa diprediksi tapi selalu datang.