Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #13

POKDARWIS dan Alasan yang Kebetulan

BAB 11 — POKDARWIS dan Alasan yang Kebetulan

Aku bilang ya keesokan harinya.

Bukan karena aku sudah memikirkannya dengan matang — meski itulah yang aku bilang ke Mama saat dia bertanya kenapa aku memilih PKL di "kelompok nelayan" dan bukan di kantor pemda yang ber-AC dan punya parkiran aspal. Aku bilang aku sudah survei beberapa opsi dan ini yang paling sesuai dengan topik tugas akhirku. Kalimat yang rapi, logis, dan hampir sepenuhnya bohong.

Yang sebenarnya: aku bilang ya karena Arkan bilang kalau kamu mau.

Dan aku mau.

POKDARWIS Desa Suak Gual, secara resmi, adalah Kelompok Sadar Wisata yang terdaftar di tingkat desa. Secara tidak resmi, ia adalah sebuah ruangan kecil di belakang balai desa yang pintunya kadang macet kalau musim hujan karena kayunya mengembang, dengan satu meja panjang yang terbuat dari papan bekas perahu, empat kursi plastik yang tidak ada yang warnanya sama, satu whiteboard yang separuh permukaannya sudah tidak bisa dihapus, dan satu kipas angin berdiri yang suaranya seperti traktor kecil yang sedang marah.

Aku tidak bisa pulang-pergi dari Tanjungpandan ke Suak Gual setiap hari. Secara geografis, Suak Gual bukan cuma sekadar "desa lain" — lokasinya ada di Pulau Mendanau, puau terpisah di lepas pantai barat Belitung. Aksesnya menuntut dedikasi waktu dan fisik: dari kenyamanan rumah batu Papa, aku harus menempuh setengah jam jalan darat ke Pelabuhan Pegantungan di Badau, dilanjut bergoyang satu jam di atas perahu penyeberangan melintasi laut menuju Pelabuhan Tanjung Nyato di Desa Petaling, lantas menyusung lima belas menit — sekitar enam belas kilometer — jalan darat membelah pulau menuju Suak Gual di ujung barat. Atau, opsi kedua, dua sampai tiga jam perjalanan laut langsung dari pasar ikan Tanjungpandan yang ombaknya sanggup membuat isi perutmu mempertanyakan tujuan hidup.

Jadi, aku tinggal di homestay milik desa. Bukan homestay turis yang biasa dipakai backpacker atau anak-anak KKN — dan ya, Suak Gual cukup sering dikunjungi mahasiswa KKN, cukup sering untuk membuat desa ini lebih terbiasa dengan orang luar dibanding tiga desa lain di Mendanau. Arkan yang merekomendasikan homestay desa: sederhana tapi bersih, dan yang lebih penting, privacy. "Kalau kamu di homestay warga yang biasa dipake KKN, kamu nggak akan bisa kerja," katanya. "Terlalu ramai. Terlalu banyak yang nongkrong." Warga Suak Gual memang sudah banyak yang punya usaha homestay — tanda bahwa desa ini sudah mulai mengerti pariwisata dari sebelum POKDARWIS resmi berdiri.

Tiga bulan menukar kasur spring bed, lemari jati, dan udara AC kamarku di Tanjungpandan, dengan kasur yang cukup empuk, udara bercampur uap laut, dan jangkrik yang mengerik dari kebun belakang.

Rapat pertamaku di POKDARWIS adalah hari Senin, jam sembilan pagi, seminggu setelah aku mendarat di Belitung, dan tiga hari setelah aku resmi menjadi penghuni pulau di lepas sebuah pulau.

Ada sebelas orang di ruangan itu. Sebelas, termasuk aku. Dan aku, dengan sangat cepat, menyadari bahwa aku adalah satu-satunya orang yang memakai sepatu.

Semua orang lain: sandal jepit. Atau, dalam kasus Pak Ismail — ketua POKDARWIS secara formal, nelayan senior yang wajahnya sudah diedit oleh matahari selama empat puluh tahun lebih — tanpa alas kaki sama sekali. Kakinya yang lebar dan kapalan berdiri di lantai semen dengan ketenangan seseorang yang tidak pernah merasakan kebutuhan untuk menyisipkan karet atau kulit antara tubuhnya dan tanah.

Arkan memperkenalkanku.

"Ini Dinda. Mahasiswa dari Jakarta. PKL tiga bulan. Dia yang akan bantu kita di bagian administrasi, proposal, dan hubungan ke pemda."

Sebelas pasang mata. Aku menghitung: delapan laki-laki, tiga perempuan. Usia bervariasi dari dua puluhan sampai lima puluhan. Wajah-wajah yang terbentuk oleh angin laut dan matahari sore — kulit yang tidak peduli pada skincare tapi punya karakter yang tidak bisa dibeli di counter manapun.

"Dari Jakarta?" tanya Pak Ismail, memecah keheningan pertama. Matanya melihatku dari atas ke bawah — bukan menilai secara tidak sopan, tapi menilai dengan cara yang sama seperti dia menilai kayu untuk perahu: apakah cukup kuat, apakah tahan air, apakah layak dibawa ke laut.

"Iya, Pak. Tapi asli Belitung."

"Melayu atau Cina?"

Pertanyaan yang tidak pernah ditanyakan di Jakarta — di Jakarta, identitas etnis disembunyikan di balik nama dan bahasa Indonesia yang polos. Di Belitung, pertanyaan itu sama normalnya dengan bertanya arah angin.

"Dua-duanya, Pak."

Pak Ismail mengangguk. Satu anggukan yang artinya aku mengerti, bukan aku menyetujui. "Keluarga Hartono?"

Aku menelan sesuatu. Di Jakarta, nama Hartono tidak berarti apa-apa — ada ribuan Hartono. Di Belitung, nama Hartono berarti satu hal: rumah batu, bisnis, pagar tinggi.

"Iya, Pak."

"Hmm." Pak Ismail melihat Arkan. Lalu kembali ke aku. "Ya sudah. Duduk. Kita mulai."

Hmm. Satu suku kata yang mengandung seluruh sejarah hubungan kelas antara keluarga seperti keluargaku dan komunitas seperti Suak Gual — dan satu suku kata yang memutuskan untuk menyimpannya di saku, setidaknya untuk saat ini.

Lihat selengkapnya