# BAB 11 Part 2 — Ritme POKDARWIS dan Validasi
Hari-hari berikutnya aku mulai mengerti ritme POKDARWIS.
Pagi: survey atau kerja lapangan. Bisa berarti jalan kaki ke titik-titik wisata untuk foto dan catat koordinat, bisa berarti bantu nelayan membersihkan pantai dari sampah plastik yang dibawa arus, bisa berarti duduk di kolong rumah panggung warga sambil mengobrol tentang apa saja selama empat puluh menit sebelum topik yang sebenarnya — izin pakai lahan, pembagian tugas jaga, jadwal perahu wisata — muncul dengan sendirinya di menit keempat puluh satu.
Siang: aku di balai desa, menulis. Proposal, surat, inventaris. Pekerjaan yang tidak ada yang mau lakukan tapi semua orang butuh — jenis pekerjaan yang di kampus disebut operations dan di POKDARWIS disebut ya kamu aja, Din, yang bisa nulis.
Sore: rapat informal. Kopi, rokok, obrolan. Kadang ada keputusan, kadang tidak. Kadang Arkan memimpin, kadang Pak Ismail, kadang Mak Enong yang tiba-tiba mengeluarkan pendapat dari balik teko kopinya yang mengakhiri semua perdebatan.
Dan di sela-sela semua itu, ada Asro.
Asro punya bakat untuk menciptakan situasi.
Bukan situasi besar — bukan drama atau konfrontasi. Situasi kecil. Situasi yang membuat dua orang tertentu berakhir di tempat yang sama, di waktu yang sama, tanpa orang ketiga.
"Din, bisa tolong antar berkas ini ke Arkan? Dia di dermaga."
"Kenapa nggak kamu yang antar?"
"Aku harus jemput ikan. Sudah dijanjikan ke Mak Enong."
"Ikan bisa nanti."
"Ikan nggak bisa nanti, Din. Ikan menunggu di perahu. Perahu menunggu di laut. Laut tidak menunggu siapa pun." Asro menatapku dengan mata polos yang sama sekali tidak polos. "Lagipula, kamu kan yang punya berkasnya."
Atau:
"Arkan, kamu antar Dinda balik ke homestay. Motor aku lagi dipinjem Rizal buat nebas jalan bentar."
"Dinda bisa jalan kaki."
"Jalan kaki magrib-magrib begini sendirian?"
"Ya suruh naik apa kek."
"Suruh naik apa? Kau kira Suak Gual ini Jalan Gatot Subroto Tanjungpandan? Kendaraan umum di Mendanau ini cuma truk anak sekolah ke Selat Nasik, itu pun jam segini sudah di kandang. Atau kau mau suruh Dinda naik Kaissar roda tiga punya Pak Yayan yang belom lunas bannya?"
Arkan menatap Asro. Asro balas menatap dengan ekspresi yang hanya bisa diterjemahkan sebagai aku melakukan ini demi kemanusiaan dan kau gagal paham geografi kampungmu sendiri.
Tapi Asro bukan satu-satunya yang memperhatikan.
Minggu kedua PKL, saat aku sedang menulis proposal di balai desa — sendirian, karena jam siang sepi — Mak Enong datang dengan dua gelas kopi. Satu untukku, satu dibawa ke meja di sebelah yang kosong.
"Mak Enong, itu untuk siapa?"
"Arkan nanti datang."
"Dari mana Mak Enong tahu?"
"Dia selalu datang sekitar jam segini kalau ada kamu di sini." Mak Enong meletakkan gelas di meja dengan ketukan yang terdengar final. Lalu melihatku dari balik kacamata yang bertengger di ujung hidungnya — kacamata baca yang dia pakai untuk membaca Al-Qur' an di sore hari. "Nak Dinda."
"Ya, Mak?"
"Orang di kampung ini kecil-kecil matanya, tapi terang."
Kalimat itu tidak butuh penerjemahan.
Aku berusaha untuk berguna. Benar-benar berguna, bukan sekadar mengisi kolom "mahasiswa PKL" di laporan akhir semester.
Proposal ke Dinas Pariwisata selesai dalam dua minggu — dua puluh halaman, lengkap dengan peta, foto, analisis SWOT yang aku pelajari di semester empat, dan proyeksi pemasukan yang aku hitung sendiri berdasarkan data kunjungan yang Arkan berikan. Formatnya rapi. Bahasanya resmi. Lampiran-lampirannya terorganisir.
Arkan membacanya dalam dua jam. Lalu menatapku.