BAB 12 — Satu Motor, Dua Peta
Motor Arkan bukan motor yang bagus.
Honda Supra lama, warna merah yang sudah pudar ke arah jingga karat, spion kiri patah dan diganti dengan spion universal yang ukurannya tidak cocok, jok yang kulitnya sudah sobek di satu titik dan ditambal dengan selotip hitam yang sekarang juga sudah mulai mengelupas. Mesinnya sehat — Arkan merawat mesin dengan perhatian yang tidak dia berikan pada penampilan luar — tapi secara keseluruhan, motor ini terlihat seperti kendaraan yang sudah melampaui masa pensiunnya dan menolak untuk berhenti karena tidak ada yang memberinya izin.
Motor ini juga, selama empat minggu berikutnya, menjadi kantor kami. Tanpa polisi di pulau ini, kami tidak pernah menyentuh helm. Rambutku yang biasanya rapi di Jakarta, di Mendanau berubah menjadi jalinan yang berantakan karena angin laut dan debu jalan tanah — semacam medali perang kecil-kecilan dari setiap hari yang dihabiskan di atas jok Supra.
Rutinitas survey dimulai. Jam enam, sebelum matahari naik terlalu tinggi dan mengubah segala kerja fisik menjadi penyiksaan, Arkan sudah di depan homestay desa. Dia hanya membunyikan klakson sekali — suara tin yang pendek dan efisien. Tanpa helm, tanpa basa-basi. Aku naik di jok belakang, membiarkan angin pagi Mendanau langsung mengenai wajahku sebelum mesin panas.
Sebelum survey, selalu: warung Mak Cik.
Di Jakarta, sarapan adalah pilihan antara sereal, roti bakar, atau bubur ayam depok. Di Suak Gual, sarapan adalah pernyataan identitas. Mak Cik tidak menjual Mie Belitong — itu makanan "orang kota" di Tanjungpandan. Di sini, di atas meja kayu yang permukaannya sudah halus karena ribuan gesekan piring, Mak Cik menyuguhkan Limping.
Limping adalah pizza versi Mendanau, tapi lebih jujur. Adonan tepung terigu dan air yang dicampur parutan kelapa dalam, lalu dipanggang tanpa minyak di atas wajan panas sampai pinggirannya kecokelatan dan aromanya menyeruak — aroma kelapa terbakar yang gurih dan sedikit manis. Arkan memakannya dengan Bakso Ikan Suak Gual; bola-bola putih bersih yang kenyal, terbuat dari ikan segar hasil tangkapan fajar tadi, disiram kuah bening yang panasnya sanggup membangunkan saraf paling tidur sekalipun.
"Coba ini," Arkan menggeser mangkuk kecil berisi cairan abu-abu keruh dengan irisan bawang merah dan cabai rawit. Aroma tajamnya langsung menusuk lubang hidung — aroma fermentasi yang pekat, asing, tapi menggugah selera dengan cara yang purba. "Rusip. Teri yang difermentasi berbulan-bulan. Kalau lidahmu sudah bisa terima ini, berarti kamu sudah sah jadi orang Mendanau."
Aku mencocol potongan Limping ke dalam Rusip. Asin, asam, pedas, dan ledakan rasa umami yang tidak bisa dijelaskan dengan kosa kata kuliner Jakarta.
"Gimana?"
"Kayak... laut yang disimpan terlalu lama di dalam botol," kataku, mencoba menetralkan rasa pedasnya.
Arkan tersenyum tipis. "Itu kearifan perut, Din. Orang Mendanau nggak bisa cuma ngandelin ikan segar. Musim barat datang, laut tertutup, kita makan apa yang kita simpan. Rusip, Selak Batu..." Dia menunjuk kerang-kerang kecil di piring lain yang juga sudah difermentasi. "Namanya Selak Batu karena mereka hidup di sela-sela batu karang. Susah dicarinya, harus nunggu air surut jauh. Ini gastronomi bertahan hidup, bukan cuma soal rasa."
Aku mencatat kata-kata itu. Bukan di buku catatan, tapi di kepalaku. Gastronomi bertahan hidup. Ini narasi yang dia maksud. POKDARWIS tidak boleh cuma jualan pemandangan; mereka harus jualan daya tahan ini.
Survey berarti motor.
Motor berarti dua orang di satu jok yang tidak dirancang untuk dua orang — atau lebih tepatnya, dirancang untuk dua orang yang jauh lebih kecil dari kami. Arkan di depan, aku di belakang, dan jarak antara tubuh kami yang di hari pertama terasa seperti protokol — aku memegang besi di belakang jok, menjaga jarak, tubuh tegak — di hari ketujuh berubah menjadi sesuatu yang lebih gravitasional. Bukan karena keputusan sadar. Karena jalan.
Jalan di Pulau Mendanau tidak ramah terhadap postur terpisah. Ada bagian yang hanya tanah merah berbatu, ada lubang-lubang yang muncul tanpa peringatan, ada belokan yang ditentukan oleh akar pohon yang sudah memutuskan bahwa tanah itu miliknya. Di satu tanjakan yang terlalu curam untuk motor yang membawa dua orang, aku refleks mencengkeram bahu Arkan — dan tidak melepaskan sampai jalan datar lagi.
Dia tidak mengomentari.
Di tanjakan berikutnya, aku mencengkeram lagi. Kali ini bukan refleks.
Dia tetap tidak mengomentari.
Kami membawa dua peta.
Peta pertama: buatan Arkan. Digambar tangan di kertas karton, dengan spidol empat warna, skala yang tidak konsisten tapi informasinya luar biasa detail. Setiap pantai, setiap teluk, setiap titik karang yang muncul saat air surut, setiap pohon besar yang bisa jadi penanda, setiap rumah warga yang punya cerita — semua ada di sana. Bukan peta geografis; ini peta orang. Arkan tahu pulau ini bukan dari buku atau Google Maps — dia tahu dari kaki, dari perahu, dari percakapan belasan tahun dengan nelayan yang hafalnya bentuk dasar laut lebih baik dari sonar manapun.
Peta kedua: buatanku. Digital. Google Maps yang aku screenshot dan annotasi di laptop dengan pin-pin berwarna: merah untuk titik wisata aktif, biru untuk potensial, kuning untuk rusak/perlu perbaikan. Rapi. Terorganisir. Bisa di-zoom.