# Bab 12 Part 2 -- Logat yang Kembali
Aku mulai bicara Melayu lagi.
Bukan keputusan sadar — bukan proyek atau latihan. Lebih ke osmosis. Tinggal di Mendanau yang sehari-harinya berbahasa Melayu Belitung, mendengar Pak Ismail dan Mak Enong dan Rizal dan nelayan-nelayan dan pedagang ikan dan anak-anak yang bermain di jalan tanah semuanya berbicara dalam bahasa yang dulunya adalah bahasa pertamaku — osmosis itu tak terhindarkan. Kalimat-kalimat Melayu yang selama empat tahun aku simpan di laci yang sama dengan tempat aku menyimpan ingatan tentang bau garam dan suara ombak mulai keluar lagi, satu per satu, seperti barang-barang di loteng yang dibuka setelah lama tidak dikunjungi.
"Mak Cik, tambah satu lagi nak."
"Pak Leman, cerite lagi soal arus tahon dulu."
"Asro, jangan ribut nian lah."
Arkan menyadarinya. Tentu saja Arkan menyadarinya — Arkan yang kemampuan observasinya dilatih oleh laut, yang bisa mengenali perubahan arus dari warna air, pasti bisa mengenali perubahan bahasa dari cara mulut bergerak.
Dia tidak menyebutkan langsung. Tidak berkata wah, kamu sudah mulai bicara Melayu lagi atau apapun yang akan terdengar seperti evaluasi. Yang dia lakukan:
Satu sore, di motor, setelah survey, di jalan tanah menuju desa, angin di telinga — dia berkata, tanpa menoleh:
"Logatmu sudah balik."
Tiga kata. Diucapkan ke angin, bukan ke aku. Tapi aku mendengarnya di belakang, dan tiga kata itu terasa seperti pengakuan yang lebih intim dari apapun yang pernah dikatakan siapa pun tentang diriku. Bukan kamu cantik atau kamu pintar atau kamu hebat. Logatmu sudah balik. Yang artinya: kamu sedang kembali menjadi dirimu yang sebenarnya. Dan aku melihatnya.
Aku tidak menjawab. Tidak perlu. Angin sudah membawa jawabannya.