Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #17

Data, Peta, dan Titipan Papa

BAB 13 — Data, Peta, dan Titipan Papa

Telepon dari Papa datang di minggu keenam.

Biasanya, Papa menelepon hanya untuk dua hal: urusan logistik atau urusan formalitas. Sudah makan? Gimana PKL-mu? Mama bilang kamu kurusan. Kalimat-kalimat yang lewat seperti angin lalu, tidak butuh jawaban mendalam, hanya butuh konfirmasi bahwa aku masih hidup dan tidak membuat malu nama keluarga.

Tapi malam ini, nadanya sedikit berbeda. Lebih santai. Lebih... casual.

"Gimana di Suak Gual, Din? Betah di homestay?"

"Betah, Pa. Orangnya baik-baik. Kerjanya juga seru."

"Bagus. Papa dengar kalian lagi rajin bikin profil sosial ekonomi dan inventarisasi legalitas lahan warga ya? Arkan itu memang anak yang pinter, ya. Grounded."

Aku sedikit terkejut Papa tahu detail itu. Tapi kemudian aku ingat: di Belitung, informasi adalah komoditas yang bocor lewat mana saja. Mungkin dari Pak Mus, atau dari orang pemda yang diajak Papa main golf di Jakarta.

"Iya, Pa. Kita lagi rapihin data sosio-ekonomi dan status tanah biar POKDARWIS punya bahan audit buat minta anggaran ke Dinas."

"Pinter. Data itu penting, Din. Bisnis itu 10% eksekusi, 90% data yang tepat di waktu yang tepat." Papa tertawa kecil — tawa yang biasanya dia keluarkan sebelum menutup transaksi besar. "Ngomong-ngomong, Papa lagi ada obrolan sama beberapa teman di Jakarta. Mereka lagi lihat-lihat potensi pengembangan di sekitar Pulau Lima. Kamu tahu kan, Pulau Lima?"

"Tahu, Pa. Itu salah satu spot yang kita masukin di rencana pengembangan konservasi."

"Nah, itu dia. Papa cuma ingin tahu potensinya saja. Secara casual. Kira-kira lahan di sana statusnya gimana? Kepemilikannya, harga pasarannya sekarang berapa, siapa tokoh masyarakat yang pegang pengaruh di sana. Cuma untuk info internal Papa saja, biar Papa punya bahan kalau teman-teman di Jakarta tanya."

"Buat apa, Pa?"

"Cuma potensi, Din. Potensi. Kamu tahu kan Papa, kalau ada barang bagus, Papa nggak mau kita ketinggalan kereta. Tapi ini rahasia kita saja ya. Jangan bilang Arkan dulu, nanti dia pikir Papa mau 'serbu' desanya. Padahal Papa kan cuma mau bantu lihat peluang."

Aku terdiam sebentar. Kata-kata Papa terdengar wajar. Sangat wajar bagi seorang Hartono. Kami tidak "menyerbu", kami "melihat peluang". Kami tidak "mengambil", kami "mengembangkan potensi". Itu adalah bahasa yang aku dengar di meja makan sejak aku bisa memegang sendok.

"Oke, Pa. Nanti aku coba liatin di data inventarisasi kita."

"Anak pinter. Lanjutin PKL-nya. Jaga kesehatan."

Klik.

Aku meletakkan HP di atas kasur homestay. Di luar, suara ombak Mendanau terdengar konsisten, tenang, tidak peduli pada percakapan yang baru saja terjadi.

Keesokan harinya, di balai desa.

Lihat selengkapnya