Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #18

Malam di Suak Gual

BAB 14 — Malam di Suak Gual

Ada bau ikan bakar yang menyeruak di seluruh Suak Gual malam itu.

Bukan cuma satu atau dua rumah — hampir setiap rumah panggung di sepanjang jalan desa menyalakan api. POKDARWIS baru saja merayakan keberhasilan kecil mereka: spot dermaga kayu baru dan jalur tracking mangrove yang kita bangun selama sebulan terakhir resmi dibuka. Pak Herman dari Dinas Pariwisata datang tadi siang, menggunting pita kain pantai yang disiapkan Mak Enong, dan mengonfirmasi bahwa Suak Gual masuk dalam daftar prioritas desa wisata tahun depan.

Itu adalah kemenangan pertama kami. Dan di Suak Gual, kemenangan dirayakan dengan makanan yang dibagikan.

"Makan, Din. Jangan cuma nulis terus," kata Asro, menyodorkan piring seng berisi nasi, ikan lebam bakar yang masih mengepul, dan sambal belacan yang pedasnya sanggup membuatmu melupakan semua masalah hidup.

"Ini dari siapa?"

"Dari semuanya. Dari Pak Ismail, dari istrinya Pak Yayan, dari Laut Mendanau." Asro menyeringai, wajahnya berminyak karena asap pembakaran. "Pokoknya hari ini nggak ada yang boleh lapar di Mendanau."

Kita makan di halaman balai desa, duduk di atas tikar pandan yang digelar melingkar. Ada musik dari speaker tua yang kabelnya sering kendor, suara tawa nelayan yang biasanya serius, dan anak-anak yang berlarian dengan kerupuk ikan di tangan.

Arkan duduk tidak jauh dariku. Dia tidak banyak bicara — dia tidak pernah banyak bicara — tapi matanya terlihat berbeda malam ini. Lebih terang. Dan untuk pertama kalinya, otot-otot di rahangnya tidak terlihat tegang. Dia terlihat seperti seseorang yang baru saja meletakkan beban yang sangat berat dan akhirnya bisa bernapas.

Jam sepuluh malam, keramaian mulai surut.

Suak Gual kembali ke suara aslinya: deburan ombak yang membentur tiang dermaga dan suara angin yang menyisir daun kelapa.

Aku dan Arkan berjalan menuju ujung dermaga baru. Langkah kaki kami di atas papan meranti yang masih baru — yang kayunya kita pilih sendiri di penggergajian Petaling minggu lalu — terdengar mantap.

"Bagus ya," kataku, bersandar di pagar kayu.

"Apanya?"

"Semuanya. Malam ini. Dermaga ini. Cara warga ngerayainnya." Aku melihat ke arah desa yang lampunya sudah mulai redup satu per satu. "Aku nggak pernah ngerasa bagian dari sesuatu yang sebesar ini di Jakarta."

Lihat selengkapnya