Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #19

Rumah Panjang, Hutang Lama

BAB 15 — Rumah Panjang, Hutang Lama

Makan malam di Rumah Batu selalu terasa seperti upacara.

Meja jati panjang, piring porselen putih dengan pinggiran emas, dan keheningan yang hanya dipecah oleh denting sendok perak. Mama tidak ada di sini — dia sedang di Jakarta menemani Papa untuk acara gala dinner Kamar Dagang. Jadi malam ini, hanya aku dan Kong Kong.

Kong Kong sudah berusia delapan puluh dua tahun. Kulitnya seperti kertas perkamen yang sudah terlalu sering dilipat, tapi matanya tetap tajam, terutama saat dia menatap makanan. Dia tidak suka masakan koki rumah yang terlalu "modern". Malam ini, dia minta dibuatkan Ham Choy Kon — sawi pahit kering yang dimasak dengan sisa daging — makanan yang menurutnya adalah "rasa yang benar".

"Dinda," katanya, setelah menghabiskan suapan terakhirnya. "Di Mendanau, kamu lihat apa?"

"Lihat laut, Kong. Lihat POKDARWIS."

"Bukan lautnya. Orangnya." Kong Kong meletakkan sumpitnya dengan satu ketukan rapi. "Kamu lihat wajah mereka? Wajah Arkan?"

"Wajah Arkan... kenapa, Kong?"

"Wajahnya itu wajah kuli."

Aku tersedak air yang baru saja kuminum. "Kong! Itu kasar sekali."

Kong Kong tertawa kecil — suara kering yang seperti gesekan ranting. "Itu bukan kasar, Din. Itu sejarah. Kamu pikir Hartono itu selalu begini? Punya rumah batu? Punya mobil? Punya sertifikat tanah di mana-mana?"

Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi rotan yang dia bawa dari kamar, menolak duduk di kursi makan yang empuk.

"Keluarga kita mulai di Rumah Panjang," katanya, matanya menerawang ke langit-langit ruang makan yang dihiasi lampu kristal. "Tahu kamu apa itu Rumah Panjang? Tong-ka."

Kong Kong mulai bercerita.

Dulu, seratus tahun lebih yang lalu, leluhur kami tiba di Belitung bukan sebagai saudagar. Mereka tiba sebagai kuli kontrak. Mereka tinggal di rumah panjang kayu yang dibangun oleh perusahaan tambang — bangunan darurat di tengah hutan yang atapnya dari daun rumbia dan lantainya dari tanah yang dikeraskan.

"Satu pintu, lima puluh orang," kata Kong Kong, suaranya pelan tapi setiap katanya terasa berat. "Kami tidur berjejal di atas dipan kayu yang penuh kutu. Wanginya bukan wangi laut, Din. Wanginya wangi belerang, keringat, dan asap rokok murah. Kami makan dari dapur kongsi — satu kuali besar berisi bubur encer dan sayur asin yang dimasak buat semua orang."

Lihat selengkapnya