Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #20

Cara Ibu Mencintai dan Cara Ayah Menghitung

BAB 16 — Cara Ibu Mencintai dan Cara Ayah Menghitung

Rumah Batu di Tanjungpandan terasa lebih luas saat hanya dihuni oleh aku dan Kong Kong. Suara langkah kakiku di atas ubin marmer terdengar seperti pengkhianat — bergema di ruang tamu yang terlalu kosong, melewati foto-foto keluarga di dinding yang semuanya terlihat tersenyum dengan cara yang sangat terkontrol.

Mama menelepon di sore hari, tepat saat aku baru saja pulang dari Suak Gual.

"Din, Mama sudah pesankan tiket buat kamu."

"Tiket apa, Ma?"

"Tiket balik ke Jakarta. Tanggal sepuluh bulan depan. PKL-mu kan hampir selesai, kan?"

"Belum, Ma. Aku masih harus bantu POKDARWIS buat launching paket wisata baru."

Ada jeda di ujung telepon. Aku bisa membayangkan Mama sedang menghela napas, mungkin sambil membetulkan tatanan rambutnya di depan cermin apartemen kami di Jakarta.

"Din... dengerin Mama." Suaranya melunak, berubah menjadi nada yang selalu dia pakai kalau ingin memberikan 'nasihat bijak'. "Mama tahu kamu senang di sana. Mama juga asli orang sini, Mama tahu indahnya Mendanau. Tapi kamu harus tahu kapan harus berhenti."

"Berhenti apa, Ma?"

"Berhenti... bermain-main dengan anak nelayan itu."

Jantungku berdegup lebih kencang. "Namanya Arkan, Ma."

"Iya, Arkan. Mama tahu dia pinter. Mama tahu dia punya potensi. Tapi kamu lihat diri kamu sendiri, Din. Kamu Hartono. Kamu Maharani. Kamu dididik buat memimpin, bukan buat tinggal di desa pulau yang listriknya saja masih sering mati."

Ibu mencintaiku dengan rasa takut. Rasa takut seorang perempuan Melayu yang sudah susah payah naik ke kelas atas, dan sekarang ketakutan setengah mati melihat anaknya menunjukkan tanda-tanda ingin turun kembali ke kelas asalnya. Baginya, cinta adalah perlindungan — pagar tinggi yang dia bangun agar aku tidak perlu merasakan dinginnya lantai semen atau aromanya amis ikan yang dulu mungkin pernah dia kenal di dapur ibunya.

Lihat selengkapnya