Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #21

Satu Meja, Dua Garis

BAB 17 — Satu Meja, Dua Garis

Ideku.

Aku yang mengusulkan makan malam ini. Aku yang bilang ke Mama lewat telepon: "Keluarga Arkan sudah menjaga aku selama tiga bulan di Suak Gual, Ma. Paling nggak kita undang mereka makan di rumah." Dan Mama — yang meskipun gelisah soal "anak nelayan itu" — setuju, karena dalam kultur Melayu maupun Hakka, membalas budi adalah kewajiban yang tidak bisa ditolak tanpa kehilangan muka.

Jadi, Sabtu sore, aku menjemput keluarga Arkan di rumah sekolah mereka di Tanjungpandan.

Rumah sekolah itu ada di gang kecil di belakang Pasar Baru — bangunan satu lantai, dinding bata tanpa plester di bagian belakang, atap seng, halaman yang cukup untuk menjemur ikan dan satu pot bunga kamboja yang entah bagaimana tetap hidup meski jarang disiram. Rumah yang dibeli Apak bertahun-tahun lalu, ketika Arkan mulai SMA di Tanjungpandan dan Alika menyusul dua tahun kemudian. Bukan rumah mewah, tapi rumah yang punya fungsi dan martabat — tempat dua anak pulau belajar menjadi orang kota tanpa harus melepas identitas pulau mereka.

Arkan sudah siap di depan pintu. Kemeja batik yang sama yang dia pakai ke seminar kabupaten — satu-satunya kemeja formalnya, aku yakin. Di belakangnya, Apak dengan kemeja putih yang rapi tapi tipis, dan Umak.

Umak Arkan.

Aku sudah beberapa kali bertemu Umak di Suak Gual — perempuan pendiam yang memasak untuk rapat POKDARWIS dan selalu menyisihkan porsi ekstra untukku tanpa diminta. Tapi malam ini, dengan kebaya kutu baru warna hijau tua yang sepertinya hanya dikeluarkan untuk acara penting, aku melihatnya dengan mata yang berbeda.

Wajahnya. Tulang pipi yang tinggi. Mata yang sedikit lebih sipit dari rata-rata Melayu. Kulit yang lebih terang. Itu wajah Nek Limah — Totok Hokkien yang diangkat anak oleh keluarga Melayu di Suak Gual, yang tumbuh besar sebagai Melayu, menikah dengan nelayan Melayu, melahirkan anak-anak Melayu, tapi wajahnya tidak pernah berhenti bercerita tentang darah yang terputus dari klannya.

Aku melihat wajah Umak Arkan dan melihat cermin yang retak dari wajahku sendiri. Campuran yang sama. Garis yang berbeda.

Rumah Batu menyambut dengan cara yang hanya bisa dilakukan Rumah Batu: berlebihan.

Mama sudah menyiapkan meja makan panjang dengan taplak putih, piring-piring porselen yang biasanya hanya keluar saat Imlek atau tamu dari Jakarta, dan hidangan yang terlalu banyak untuk enam orang. Rendang, ayam goreng rempah, sayur nangka, sambal belacan, kerupuk udang, dan — sentuhan Mama yang selalu tepat sasaran — bak kut teh yang aromanya memenuhi ruang makan seolah berkata: kami tahu kalian juga punya darah ini.

"Silakan, silakan," Mama mengarahkan Apak dan Umak ke kursi dengan senyum yang tulus dan gugup sekaligus. "Terima kasih banyak sudah menjaga Dinda selama di Mendanau. Kami benar-benar bersyukur."

Apak duduk dengan hati-hati, seolah takut kursinya terlalu bersih untuk celananya. "Nggak usah repot-repot, Bu. Dinda itu anak yang rajin. Dia yang bantu kami, bukan kami yang jaga dia."

"Ah, bisa aja." Mama tertawa kecil, menuangkan teh ke gelas Apak. "Makan, makan. Jangan sungkan."

Kong Kong sudah di kursinya — posisi kepala meja, seperti biasa. Dia menatap tamu-tamunya dengan mata yang menilai tanpa berkedip. Lalu matanya berhenti di Umak Arkan.

Lama.

"Kamu..." Kong Kong berbicara langsung ke Umak, dengan nada yang bukan tidak sopan, tapi juga bukan sopan. Nada yang hanya dimiliki orang berusia delapan puluh dua yang sudah kehilangan kebutuhan untuk menyaring kata-kata. "...anak Limah, kan?"

Umak Arkan mengangguk, sedikit terkejut. "Iya, Kong. Umak anak Nek Limah."

"Hmm." Kong Kong menyuapkan nasi ke mulutnya. Mengunyah. Menelan. Lalu: "Wajahmu persis ibumu. Hokkien. Kuat." Jeda yang terlalu panjang. "Sayang, di garis yang salah."

Ruangan mendadak terasa sangat dingin meskipun AC tidak menyala.

"Kong!" Aku menyela sebelum ada yang sempat merespons.

"Apa? Aku cuma bilang fakta." Kong Kong tidak menoleh padaku. Matanya masih di Umak Arkan. "Ibumu itu Totok, Nak. Hokkien asli. Dulu, keluarganya seharusnya bagian dari kongsi yang sama dengan keluarga kami. Tapi dia diangkat anak orang Melayu, jadi garisnya putus." Kong Kong mengangkat bahu — gerakan yang di tubuh tuanya terlihat seperti gunung kecil yang bergeser. "Nasib. Satu keputusan, seratus tahun yang lalu, dan sekarang kita duduk di meja yang berbeda."

Umak Arkan tidak menjawab. Dia hanya tersenyum — senyum yang sangat sabar, sangat terlatih. Di bawah meja, kulihat jemarinya yang kapalan dan kasar karena bertahun-tahun mengupas kelapa, perlahan mengusap sulaman benang emas di kebaya kutu baru hijaunya yang mulai pudar—kebaya terbaik yang dia keluarkan hanya untuk dihina status kelasnya di meja makan pualam ini. Senyum itu adalah milik seseorang yang sudah seumur hidup mendengar variasi berbeda dari kalimat yang sama: kamu seharusnya punya lebih, tapi kamu tidak punya, dan itu bukan salah kami.

Lihat selengkapnya