Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #22

Lada Matang, Rasa Pertama yang Pahit

BAB 18 — Lada Matang, Rasa Pertama yang Pahit

Di Belitung, waktu tidak diukur dengan kalender dinding, tapi dengan apa yang sedang menguning di dahan.

Dan bulan ini, lada sedang matang.

Aku berdiri di pinggir kebun lada milik warga di perbukitan Suak Gual. Barisan pohon lada yang merambat di tiang-tiang kayu — junjung — terlihat seperti pasukan tentara hijau yang sedang memanggul beban berat. Butir-butir ladanya sudah mulai berubah warna dari hijau tua menjadi kuning kemerahan. Aroma tajam, pedas, dan sedikit hangat memenuhi udara setiap kali angin bertiup.

"Sudah waktunya petik," kata Arkan, muncul dari sela-sela barisan junjung. Dia membawa keranjang anyaman di punggungnya. Wajahnya berkeringat, dan ada noda tanah di pipinya.

"Kamu ikut panen juga?"

"Di sini, kalau tetangga panen, semua orang ikut bantu. Nanti gantian. Begitu caranya kami bertahan." Dia melepas keranjangnya, meletakkannya di tanah dengan bunyi bug yang berat. "PKL-mu benar-benar selesai minggu depan, Din?"

"Iya. Surat jalan dari kampus sudah keluar. Laporanku sudah divalidasi Pak Ismail."

Arkan diam. Dia memetik satu malai lada yang sudah merah tua, meremasnya di telapak tangan, lalu mencium aromanya.

"Berapa banyak data yang kamu kumpulkan selama tiga bulan ini, Din?"

Pertanyaan itu datang tanpa peringatan. Dingin. Seperti siraman air es di tengah panasnya kebun lada.

"Maksudmu... buat laporan?" my voice shaky.

Lihat selengkapnya