Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #23

Menunggu di Antara Beton

BAB 19 — Menunggu di Antara Beton

Jakarta tidak pernah berubah.

Hanya butuh satu jam penerbangan untuk menukar langit Mendanau yang biru bersih dengan kabut polusi yang menggantung di atas gedung-gedung beton. Di bandara Soekarno-Hatta, aku disambut oleh AC yang terlalu dingin, orang-orang yang berjalan terlalu cepat, dan sopir Papa yang sudah membukakan pintu mobil mewah — sebuah dunia yang tiga bulan lalu aku tinggalkan dengan rasa bosan, tapi sekarang aku masuki dengan rasa takut.

"Gimana Belitung, Non? Bagus pantainya?" tanya Pak Jo, sopir kami.

"Bagus, Pak. Capek."

Hanya itu. Capek. Kata yang bisa merangkum segalanya tanpa harus menjelaskan apa-apa.

Seminggu pertama di Jakarta adalah siksaan keheningan.

Aku kembali kuliah. Kembali ke grup-grup tugas, kembali ke kafe-kafe mahal di sekitar kampus, kembali ke pembicaraan tentang liburan ke Bali atau rencana S2 ke luar negeri. Teman-temanku tidak ada yang berubah. Mereka masih melihat dunia sebagai kumpulan destinasi yang bisa dibeli.

Dan aku duduk di tengah-tengah mereka, memegang iPhone-ku, menatap barisan pesan WhatsApp yang tidak pernah beranjak dari Last Seen kemarin malam.

Aku: "Kan, gimana dermaga? Ada tamu nggak hari ini?"

, Dibalas delapan jam kemudian,

Arkan: "Ada. Dua orang."

Aku: "Udah panen lada belum di bukit?"

Lihat selengkapnya