BAB 20 — Ledakan di Pulau Lima
"REBUTAN LAHAN DI PULAU LIMA: WARGA SUAK GUAL HADANG EKSEKUSI"
Judul berita di portal lokal Belitung itu muncul di layar laptopku pukul sembilan pagi. Foto utamanya: Arkan.
Dia berdiri di barisan depan, di atas dermaga kayu yang kami bangun bersama. Wajahnya keras, mengenakan kaos POKDARWIS yang sudah kotor karena tanah. Di hadapannya adalah sekelompok orang berpakaian safari dan beberapa aparat. Di belakangnya, Pak Ismail, Asro, dan nelayan-nelayan lain memegang papan kayu bertuliskan: TANAH KAMI BUKAN UNTUK DIJUAL.
Hatiku seperti diremas tangan raksasa.
Aku menelepon Arkan. Berkali-kali. Dial-nya tersambung, tapi tidak diangkat.
Aku menelepon Asro.
"Sro! Apa yang terjadi?"
"Bagus ya, Din," suara Asro terdengar serak, tidak ada lagi keceriaan maskot POKDARWIS di sana. "Bagus benar permainanmu. Kamu kasih kita dermaga, kamu kasih kita harapan, cuma buat bikin kita lengah biar bapakmu bisa pasang patok di sana pagi ini."
"Sro, dengerin aku..."
"Dengerin apa lagi? Orang-orang bapakmu dateng bawa dokumen pembebasan lahan, lengkap dengan lampiran Analisis Risiko Sosial-Ekonomi yang kamu ketik. Ada tanda tanganmu di pojok bawah laporannya, Din. Business Analyst: Dinda Maharani Hartono. Arkan lihat itu. Pak Ismail lihat itu."
Aku jatuh terduduk di lantai kamar.
"Gimana Arkan?"