Timah Cair Dinda

Muhammad Sapril
Chapter #25

Kamu Sama Saja dengan Mereka

BAB 21 — Kamu Sama Saja dengan Mereka

Aku tahu cara berbohong kepada diri sendiri.

Sudah latihan bertahun-tahun.

Di keluarga yang cara mencintainya adalah dengan tidak pernah menyebut kata "cinta", kamu belajar menutupi banyak hal dengan cerita yang lebih rapi. Aku tidak berbohong. Aku hanya menyederhanakan. Aku tidak menutup-nutupi. Aku hanya tidak menyambungkan titik-titik yang belum perlu disambungkan.

Tapi kali ini, titik-titik itu sudah tersambung sendiri.

Dan gambarnya jelek sekali.

Arkan menelepon malam itu. Bukan video call — hanya suara. Aku sudah tahu apa artinya. Kalau dia mau marah, dia akan memilih tidak melihat mukaku. Kalau dia mau menutup percakapan lebih mudah, dia tidak akan menghidupkan kamera.

"Halo," katanya.

Satu kata. Tapi bunyinya seperti jarak ribuan kilometer yang tiba-tiba menjadi nyata.

"Arkan—"

"Tunggu dulu."

Aku berhenti.

Di luar jendela apartemen Jakarta, lampu-lampu menyala seperti bintang yang jatuh ke bawah. Aku duduk di lantai karena kursi terasa terlalu jauh untuk dijangkau. Lutut ditekuk ke dada. HP dipegang dengan dua tangan supaya tidak gemetar.

Dia diam lama. Jenis diam yang bukan kehabisan kata, tapi sedang memilih kata yang paling tepat untuk tidak melukai terlalu banyak.

Arkan selalu begitu, pikirku. Bahkan saat marah pun, dia masih menjaga caranya.

"Data POKDARWIS kita," katanya akhirnya. "Peta gugusan Pulau Lima. Kontak Pak Darda dan nelayan-nelayan di Suak Gual. Catatan pohon kelapa, titik karang Pekasam, sampai koordinat sarang penyu sisik yang kita petakan bulan lalu. Semuanya, Din. Estimasi harga lahan, nama keluarga yang belum mau lepas—"

Aku tidak menjawab.

"Semuanya ada di tangan konsultan yang dikirim Hartono Group tiga minggu lalu, Din."

Aku tidak menjawab.

"Mereka datang ke masjid. Menemui Pak Darda. Bilang sudah ada letter of intent buat kawasan pariwisata terpadu di Pulau Lima. Bilang ini bagus buat nelayan. Relokasi, kompensasi, akses jalan baru. Semua kalimat yang kedengarannya bagus tapi artinya satu: pergi dari sini."

Suaranya tidak meninggi. Itu yang paling menakutkan.

Kalau dia berteriak, aku bisa ikut berteriak.

Kalau dia menangis, aku bisa ikut menangis.

Tapi ini? Ini suara orang yang sudah terlalu lelah untuk marah. Dan kelelahan itu lebih berat dari amarah mana pun.

"Aku tidak—" kalimatku menggantung.

Tidak tahu? Tidak bermaksud? Tidak sadar?

Semuanya benar. Semuanya juga tidak cukup.

"Aku tidak tahu Papa akan menggunakan datanya untuk ini," aku mencoba lagi.

Lihat selengkapnya