BAB 22 — Papa dan Masa Depanmu
Rumah utama keluarga Hartono di Pondok Indah selalu terasa seperti galeri seni yang kebetulan ditinggali orang. Langit-langitnya terlalu tinggi. Udaranya diatur oleh AC sentral yang tidak pernah mati, menjaga suhu di angka dua puluh dua derajat agar lukisan Affandi di dinding ruang tamu tidak rusak.
Dulu, aku bangga tinggal di sini. Sekarang, saat melangkah melewati pintu kayu berukir itu, aku merasa seperti oksigenku disedot perlahan.
Aku datang keesokan paginya tanpa menelepon lebih dulu.
Papa sedang duduk di meja makan pualam, membaca berita di iPad sambil minum teh Chamomile. Di ujung lain meja, Mama — ibuku yang mewarisi darah birokrat Melayu, perempuan yang pernah menentang seluruh keluarganya demi menikahi laki-laki Tionghoa ini — sedang mengiris apel hijau tipis-tipis.
Pemandangan yang sempurna. Saking sempurnanya sampai membuat perutku mual.
"Dinda?" Mama mendongak, pisau buahnya berhenti bergerak. "Kok nggak bilang mau pulang? Sudah sarapan?"
Aku mengabaikan pertanyaannya. Tatapanku terkunci pada laki-laki di ujung meja.
"Pulau Lima," kataku. Suaraku tidak berteriak, tapi cukup tajam untuk memecah keheningan ruangan raksasa itu. "Konsultan Hartono Group ada di sana. Mereka bawa data POKDARWIS. Estimasi harga, daftar kontak warga, peta kerentanan nelayan."
Papa meletakkan iPad-nya. Gerakannya pelan, sangat teratur. Dia menggeser cangkir tehnya dua sentimeter ke kiri, mensejajarkannya dengan tepi taplak meja.
"Ya," jawab Papa tenang. "Laporan dari tim lapangan, respons warga cukup positif. Tentu saja ada satu-dua penolakan, tapi itu biasa di fase awal pembebasan lahan."
"Respons positif?" Aku melangkah maju. Tiba-tiba aku menyadari bahwa tanganku mengepal terlalu keras sampai kuku-kukuku menusuk telapak. "Papa pakai dataku. Data yang aku dan teman-temanku kumpulkan untuk melindungi mereka!"
"Melindungi dari siapa, Dinda?" Papa menatapku dengan mata sipit yang memancarkan rasionalitas murni, tidak ada agresi, hanya fakta. "Dari kemiskinan? Dari musim tenggara yang bikin mereka tidak bisa melaut? Resort itu akan menyerap tenaga kerja. Akan ada akses jalan, listrik yang stabil. Apa kamu pikir 'melindungi' berarti membiarkan mereka hidup dengan atap bocor sampai mati?"
"Itu bukan tujuan kita bikin data itu!" Aku mulai kehilangan kontrol atas volumeku. "Papa sengaja. Papa memanfaatkan statusku. Papa bilang cuma mau tahu potensi!"
"Dan itu artinya mengetahui seberapa besar risikonya," potong Papa. Nada suaranya sedikit lebih berat sekarang, menegaskan siapa yang memegang otoritas. "Dalam bisnis, potensi tanpa kalkulasi risiko itu judi. Dan kamu tahu keluarga kita tidak bermain judi. Kakek buyutmu main judi dan hampir kehilangan segalanya. Aku mengajarimu cara kerja dunia, Dinda."
"Papa pakai aku sebagai mata-mata!"