BAB 23 — Antara Dua Penolakan
Aku tidak kembali ke rumah Pondok Indah hari itu, maupun hari-hari setelahnya.
Satu-satunya tempat yang bisa kujuja adalah kamar kos di sekitar Senayan. Tempat ini secara teknis memang masih dibayar oleh perusahaan Papa, tapi setidaknya ini bukan rumah ber-AC sentral dengan meja marmer dingin. Ini ruangan berukuran empat kali empat meter yang dindingnya putih polos, yang penghuninya tidak saling peduli, dan yang udaranya terasa cukup netral untuk orang yang sedang kehabisan identitas.
Aku duduk di ujung tempat tidur. Tirai tebal kututup rapat. Suara klakson teredam dari arah jalan tol menyusup masuk, tapi di dalam kepalaku, rasanya jauh, jauh lebih sunyi dari itu.
Di depanku tergeletak dua benda:
Satu, ponsel layar sentuh dengan satu pesan terkirim ke Arkan, tanpa balasan.
Dua, buku catatan bersampul kulit tempat aku biasa menulis logarium kuliah lapangan PKL.
Di dalam buku itu ada koordinat, ada jadwal pasang surut, harga ikan, estimasi kebutuhan semen... dan nama-nama. Nama-nama nelayan yang diserahkan untuk diselamatkan, tapi yang kini dipakai untuk menggusur.
Aku membolak-balik halamannya tanpa benar-benar membaca.
Kata Papa, aku naif. Anak perempuan borjuis yang pura-pura peduli masalah sosial tapi tidak tahu bagaimana dunia ini diputar dengan angka. Aku mengamankan masa depanmu. Bagi Papa, penolakannya hari ini adalah wujud dari pembelajaran. Aku tidak cukup tangguh untuk menjadi keluarga Hartono yang sesungguhnya. Aku belum siap.
Kata Arkan, aku adalah mereka. Kamu sama saja dengan mereka. Bagi Arkan, penolakannya malam itu adalah wujud dari menjaga jarak dari kerusakan. Aku tidak cukup bersih untuk menjadi bagian dari Suak Gual dan perjuangannya.
Dua laki-laki yang kucintai.
Dua laki-laki yang mendefinisikan batas-batas duniaku selama tiga tahun terakhir.
Satu menolakku dari atas karena tanganku terlalu lembut untuk memeras.
Satu menolakku dari bawah karena tanganku membawa lumpur ketamakan.
Tidak ada tempat di tengah. Tidak ada posisi di mana aku hanya bisa menjadi "Dinda".
Aku menarik pena hitam dari ranselku. Tanganku bergerak sendiri membuka halaman paling belakang buku catatan itu — halaman kosong yang belum dinodai koordinat mana pun.
Aku mulai menulis. Bukan logarium. Hanya serpihan-serpihan pikiran yang harus dikosongkan dari kepala sebelum mereka meledakkan tengkorakku.